Type Here to Get Search Results !

Belajar Membangun Rumah

Oleh Amelia Fitriani

Mompreneur

Saya dulu mengira menjadi orang tua adalah tentang kesiapan. Tentang usia yang cukup, pengetahuan yang cukup, dan kematangan yang cukup. Seolah-olah, pada satu titik ego saya berkata, saya pantas menjadi rumah bagi manusia kecil yang lain.

Tapi ternyata, saya salah besar. Meski telah merasa siap dan matang, perjalanan 10 tahun menjadi orang tua, yang saya tahu masih sangat singkat, membuat saya menyadari bahwa menjadi orang tua justru memperlihatkan betapa banyak bagian dari diri kita yang masih belum selesai. 

Banyak situasi kehidupan yang kemudian saya sadari bahwa, oh.. reaksi yang saya munculkan pada anak saya ternyata bukan sepenuhnya tentang anak, tapi tentang diri saya yang dulu. Tentang anak kecil di dalam diri saya yang juga pernah takut, pernah tidak dimengerti, pernah berharap dipeluk lebih lama.

Saya semakin menemukan penjelasan terkait hal itu dalam The Book You Wish Your Parents Had Read yang ditulis oleh Philippa Perry. Dijelaskan dalam buku itu bahwa membesarkan anak sering kali membangunkan kembali pengalaman masa kecil kita sendiri. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk memberi kesempatan memahami dan memperbaiki.

Selain itu itu, buku itu juga menyadarkan saya bahwa anak tidak hanya mewarisi warna mata, bentuk wajah, atau cara bicara kita. Mereka mewarisi cara kita mencintai. Mereka belajar mencintai diri mereka sendiri dari cara kita memperlakukan mereka. Mereka belajar apakah dunia adalah tempat yang aman atau tidak, dari bagaimana kita menerima atau menolak emosi mereka. Dan sering kali, tanpa sadar, kita sedang meneruskan sesuatu, baik luka, maupun penyembuhan.

Saya merasakannya dalam keseharian yang sederhana. Ketika anak saya menangis karena hal-hal yang bagi orang dewasa terasa kecil. Ketika ia marah, keras, dan tidak rasional. Naluri pertama saya kadang bukan memahami, tapi menghentikan. Bukan menemani, tapi mengoreksi. Seolah-olah emosi adalah sesuatu yang harus segera dibereskan, bukan sesuatu yang perlu diterima dan dikendalikan.

Dari kesadaran itu saya belajar bahwa rumah adalah soal penerimaan emosi. Tidak seperti pengertian rumah dalam bentuk bangunan fisik yang selesai dibangun saat sudah rampung pengerjaan, rumah yang saya maksud di sini adalah ruang di mana proses pembangunannya membutuhkan waktu seumur hidup dan tidak bertemu kata rampung.

Setiap fase tumbuh kembang anak membawa pelajaran baru. Ketika mereka bayi, saya belajar tentang kehadiran. Tentang bagaimana dipeluk lebih penting daripada dinasihati. Ketika mereka mulai berjalan, saya belajar tentang kepercayaan. Tentang membiarkan mereka menjauh, sambil memastikan mereka tahu ke mana harus kembali.

Dan ketika mereka mulai memiliki kehendak sendiri, saya belajar tentang mengelola diri sendiri. Mengelola nada suara. Mengelola ekspektasi. Mengelola luka lama yang kadang muncul tanpa permisi. Lalu pada fase-fase dewasa kelak juga ada pelajaran baru lainnya yang saya terus pelajari, dan belum saya ketahui bagian itu karena saya belum ada di sana. Namun saya pahami bahwa saya harus beradaptasi dengan itu.

Namun, ada satu hal yang perlahan saya sadari, dan itu mengubah cara saya melihat semuanya. Bahwa dalam proses belajar yang tidak jarang berantakan, anak adalah orang yang paling ikhlas menerima saya sebagai orang tua. 

Mereka tetap datang kepada saya, bahkan setelah saya salah bicara. Mereka tetap meraih tangan saya, bahkan setelah saya kehilangan sabar. Mereka tetap memanggil saya, tetap percaya pada saya, seolah-olah mereka memberi ruang bagi saya untuk belajar menjadi rumah yang lebih baik.

Tanpa mereka sadari, mereka bukan hanya sedang dibesarkan. Mereka juga sedang membesarkan saya. Mereka memberi saya kesempatan untuk mencoba lagi. Untuk memperbaiki. Untuk meminta maaf. Untuk belajar mencintai tanpa syarat, sesuatu yang mungkin dulu tidak saya pelajari dengan sempurna.

Saya mulai memahami bahwa menjadi rumah bukan berarti selalu tenang, atau selalu benar. Tapi berarti bersedia kembali. Bersedia hadir. Bersedia bertumbuh bersama. Kadang tidak harus seirama, namun ikhlas untuk saling menerima. ***

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.