Type Here to Get Search Results !

Peringatan Isra' Mi'raj 1446 H

Oleh: Duski Samad 

Isra’ Mi‘raj: Terapi Sedih dan Lelah Jiwa. Meniti Jalan Langit Saat Hati Terluka.

Sedih adalah bahasa jiwa ketika beban hidup terlalu berat dipikul sendiri. Dalam sejarah kenabian, Isra’ Mi‘raj hadir justru di puncak kesedihan Rasulullah ﷺ—setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, serta penolakan di Thaif. Dari luka batin itulah Allah membuka jalan langit sebagai terapi ilahiah.

1) Sedih Diakui, Bukan Dinafikan.

Isra’ Mi‘raj mengajarkan: iman tidak meniadakan sedih. Allah tidak menegur Nabi karena kesedihannya, tetapi memeluknya dengan perjalanan ruhani. Ini terapi pertama: akui rasa, jangan menyangkalnya.

2) Shalat: Titik Pulih Jiwa

Hadiah Mi‘raj adalah shalat—bukan sekadar kewajiban, melainkan ruang istirahat batin. Dalam shalat, jiwa yang berat diletakkan, napas diluruskan, dan hati disambungkan kembali kepada Sumber Tenang. “Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.”

Shalat adalah mikraj harian bagi yang letih.

3) Dari Bumi ke Langit: Mengubah Sudut Pandang

Isra’ (bergerak di bumi) lalu Mi‘raj (naik ke langit) adalah terapi kognitif- spiritual: masalah tidak selalu diselesaikan dengan melawan, tetapi dengan menaikkan makna. Ketika makna naik, beban turun.

4) Allah Lebih Dekat dari Luka.

Di Sidratul Muntaha, Nabi belajar bahwa Allah dekat tanpa jarak. Bagi yang sedih: kedekatan Ilahi bukan diukur dari rasa kuat, tetapi dari kejujuran berserah. Air mata pun doa.

5) Pulang dengan Harapan

Nabi kembali ke bumi—bukan untuk lari dari masalah, tetapi membawakan harapan. Terapi Isra’ Mi‘raj berakhir pada keteguhan menjalani hidup, bukan pengasingan diri.

Latihan Terapi Isra’ Mi‘raj (Praktis, 10 Menit)

1. Duduk hening (1 menit): tarik napas perlahan, sebut Subḥānallāh.

2. Akui rasa (2 menit): “Ya Allah, aku sedang sedih.”

3. Shalat dua rakaat (5 menit): niatkan sebagai mikraj jiwa.

4. Doa penutup (2 menit):

“Ya Allah, angkat bebanku, lapangkan dadaku, dan tuntun aku pulang dengan harapan.”

Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa sedih bukan akhir, melainkan gerbang perjumpaan. Saat hati terluka, jalan langit selalu terbuka—dan dari sanalah jiwa belajar pulih, pelan tapi pasti.

Meyakini Jalan Langit di Tengah Luka Bumi.

Menyapa Alam, Menyucikan Jiwa, Menegakkan Harapan

Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa langit yang dikenang secara ritual, melainkan titik balik kesadaran iman yang menautkan spiritualitas, etika sosial, dan tanggung jawab ekologis. Di tengah bencana banjir yang berulang di Sumatera—dan berbagai wilayah lain—peringatan Isra’ Mi‘raj menjadi cermin nurani: sejauh mana ibadah kita benar-benar menghadirkan rahmat bagi semesta?

Ibadah yang Menjaga Bumi

Dalam Islam, ibadah melekat dengan ekologi. Kesucian spiritual tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu beriring dengan kesadaran lingkungan.

Nabi ﷺ menegaskan agar hemat air saat bersuci, bahkan ketika berwudhu di sungai yang mengalir. Ini bukan sekadar adab personal, melainkan etika ekologis profetik—bahwa sumber daya alam adalah amanah, bukan objek eksploitasi.

Larangan mengencingi lubang semut, merusak habitat makhluk kecil, hingga larangan menebang pohon saat perang, menunjukkan bahwa perlindungan alam adalah bagian dari iman. Al-Qur’an mengingatkan:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. al-A‘rāf: 56)

Maka, shalat—yang diterima Nabi ﷺ pada peristiwa Mi‘raj—seharusnya melahirkan ketundukan etis, bukan hanya ketepatan ritual. Shalat yang benar mencegah kerusakan (QS. al-‘Ankabūt: 45), termasuk kerusakan ekologis.

Bencana sebagai Bahan Ajar

Banjir di Sumatera bukan semata takdir alam. Ilmu ekologi menjelaskan keterkaitan antara deforestasi, alih fungsi lahan, rusaknya daerah aliran sungai (DAS), tata ruang yang abai, dan meningkatnya intensitas bencana hidrometeorologi. Data iklim menunjukkan curah hujan ekstrem semakin sering, namun daya dukung lingkungan kian melemah.

Di sinilah Isra’ Mi‘raj harus dibaca sebagai seruan evaluasi kolektif. Bencana mesti menjadi bahan ajar publik—di sekolah, pesantren, mimbar masjid, hingga ruang kebijakan—agar kesalahan ekologis tidak diulang. Mengabaikan pelajaran ini sama artinya dengan menunda bencana berikutnya.

Ekoteologi: Iman yang Membumi

Islam memandang manusia sebagai khalifah (QS. al-Baqarah: 30), penjaga keseimbangan, bukan penguasa rakus. Ekoteologi menegaskan bahwa iman hadir dalam merawat bumi, menjaga air, tanah, hutan, dan kehidupan.

Isra’ Mi‘raj mengajarkan jalan naik (mi‘raj) hanya mungkin bila jejak di bumi (isra’) dijalani dengan amanah. Spirit langit harus membumi—menjadi kebijakan yang adil, perilaku yang beradab, dan ilmu yang dimuliakan.

Kejujuran Negara dan Tanggung Jawab Publik

Kejujuran adalah fondasi tata kelola. Negara wajib hadir dengan data yang jujur, kebijakan berbasis sains, penegakan hukum lingkungan, serta perlindungan nyata bagi warga terdampak. Pembangunan yang mengabaikan ekologi adalah utang bencana yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Keadilan ekologis menuntut transparansi perizinan, rehabilitasi lingkungan, dan keberpihakan pada keselamatan rakyat—bukan pada keuntungan sesaat. Tanpa kejujuran negara, seruan moral akan kehilangan daya ubah.

Taubat Ekologis: Jalan Harapan

Di penghujung peringatan Isra’ Mi‘raj ini, kita diajak melakukan taubat ekologis:

Taubat personal: mengubah gaya hidup, hemat air, kurangi sampah, rawat lingkungan sekitar.

Taubat sosial: edukasi publik, kontrol sosial, solidaritas bagi penyintas.

Taubat struktural: kebijakan berkelanjutan, penegakan hukum, dan perencanaan ruang yang adil.

Allah menjanjikan harapan bagi mereka yang beriman dan beramal saleh (QS. an-Nūr: 55). Harapan itu lahir ketika iman menjadi tindakan.

Penutup

Isra’ Mi‘raj mengajarkan bahwa jalan langit bukan pelarian dari luka bumi, melainkan energi penyembuhan. Saat alam disapa dengan adab, jiwa disucikan dengan taubat, dan harapan ditegakkan dengan kejujuran, maka rahmat benar-benar mengalir bagi semesta.

Semoga peringatan Isra’ Mi‘raj 1446 H menjadi titik balik: dari ritual menuju tanggung jawab, dari seremonial menuju peradaban yang berkeadaban.ds. 16012026.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.