![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Kecenderungan untuk menciptakan hal-hal dahsyat dengan konsekuensi yang tak terduga tidak dimulai dengan penemuan mesin uap atau AI, tetapi dengan penemuan agama… namun terkadang berakhir dengan membanjiri dunia dengan darah.” — Yuval Noah Harari(49), Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI(2024).
Hayy ibn Yaqzhan, lahir sendiri di sebuah pulau dan belajar berbahasa serta berbudaya dari alam sekitarnya, bisa menjadi metafora tentang kemampuan manusia menciptakan kebudayaan tanpa bimbingan eksternal.
Ia dibesarkan oleh alam — dalam beberapa versi oleh seekor rusa betina — lalu menggunakan akal murninya untuk memahami dunia.
Melalui pengamatan terhadap alam, Hayy menemukan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, membuktikan keberadaan Tuhan, dan mencapai pencerahan spiritual tanpa bantuan wahyu atau guru.
Demikian kisah asal-usul kehidupan manusia, Ibnu Hayy(Harafiah: Hidup; Latin: Autodidactus) dari Ibnu Tufail alias Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Muhammad bin Thufail al-Qaisi al-Andalusi), seorang filsuf, dokter, dan penulis dari Al-Andalus pada abad-12.
Segera memasuki konteks era AI sebagai dekade disrupsi, kisah ini mengingatkan bahwa penulis tetap memiliki peran fundamental sebagai pencipta makna, meskipun kini berhadapan dengan mesin yang mampu meniru bahasa dan budaya.
Berikut, ditelisik dari Fritjof Capra(84), ekolog-fisikawan, dalam The Turning Point: Science, Society and The Rising Culture(1984;Terjemahan 1997) menambahkan dimensi kritis dengan menunjukkan bahwa sejarah peradaban tumbuh dan sedang bergerak menuju kebudayaan baru yang mengintegrasikan sains, masyarakat, dan spiritualitas.
Selanjutnya, setelah mendapat versi ebook dari editornya, Dr. Satrio Arismunandar, Sekjen Satupena, buku Peran Penulis di Era AI: Antologi Esai dari 78 Penulis(CBI 2025), saya mencoba membuat resensi ringkas sebagai sebuah refleksi kolektif tentang posisi para penulis, tentu di buku ini, di tengah arus besar teknologi kecerdasan buatan.
Antologi ini menghadirkan beragam suara yang menegaskan bahwa para penulis bukan sekadar penghasil teks, melainkan pengemban tanggung jawab budaya yang harus meretas jalan baru dalam lanskap semesta komunikasi manusia.
Resensi ini menyoroti tiga perspektif filsafat penulisan yang memperlihatkan bagaimana tradisi klasik bertemu dengan tantangan kontemporer.
Perspektif pertama, filsafat bahasa sebagaimana dirumuskan Karl Bühler(1879-1968), psikiater, psikolog, teoretikus bahasa di universitas Jerman (Strasbourg, Berlin, Bonn, Würzburg, Vienna) dan bermigrasi serta wafat di Los Angeles, dalam Sprachtheorie(1949).
Bagi Bühler, bahasa dipandang sebagai organon, alat yang memungkinkan manusia membangun dunia simbolik secara komprehensif dan mutakhir: Darstellung(Representasi), Ausdruck(Ekspresi) dan Appell(Ajakan/Permintaan/Seruan).
Kelak, dari filsafat bahasa versi Bühler lahir dua kebudayaan yang dikemukakan C.P. Snow(1905-1980) dalam gagasan The Two Cultures: kebudayaan saintifik dan kebudayaan sastrawi(literary works).
Kini, dua kebudayaan Snow ini telah tumbuh menjadi tiga(the three cultures, 2009)) atau ditambahkan Jerome Kagan(1929–2021).
dengan perkembangan social science.
Dengan demikian, resensi atas buku ini menunjukkan bahwa para penulis di era AI harus mampu menjembatani keduanya bahkan ketiga budaya pengetahuan itu dengan mengintegrasikan logika saintifik dan imajinasi literer.
Bahasa, satu-satunya medium vital dan fundamental kebudayaan, yang mempertemukan algoritma dengan puisi, data dengan narasi, sehingga para penulis berperan sebagai penghubung dua horizon kebudayaan — sains dan humaniora — yang sering kali dipandang terpisah.
Perspektif kedua, filsafat membaca dan percakapan, yang dikaji melalui Walter J. Ong(1912-2003), imam Jesuit, profesor, dan teoretikus komunikasi, dalam Orality and Literacy(2013) serta Wolfgang Iser(1926-2007), kritikus sastra dan teoretikus resepsi asal Jerman, dalam Der Akt des Lesen(1976).
Secara singkat, Ong menekankan perbedaan mendasar antara tradisi lisan dan literasi, sementara Iser menyoroti tindakan membaca sebagai proses interaktif antara teks dan pembaca.
Dengan demikian buku versi ebook ini — setelah dibaca dengan teknik analylitical dan syntopical reading — menegaskan bahwa para penulis di era AI tidak hanya menulis untuk dibaca, tetapi juga menciptakan percakapan lintas medium.
Dengan metode Iser, misalnya, diperoleh tindakan kecakapan(der Akt) antara manusia dengan mesin, antara teks dengan algoritma, antara tradisi lisan yang hidup di masyarakat dengan literasi digital yang berkembang pesat.
Membaca dan menulis menjadi tindakan komunikasi yang memperluas cakrawala budaya, di mana penulis berperan sebagai fasilitator dialog antara dua kebudayaan komunikasi manusia.
Perspektif ketiga adalah filsafat sains dan teknologi.
Dipetik ulasan berikut dari Jacques Ellul(1913-1994) dalam Technology of Society(1964) yang mengurai tiga tren ancaman teknologi:
1/ Otonomi teknologi:
Teknologi memiliki hukum perkembangannya sendiri. Begitu sebuah inovasi ditemukan, ia akan terus berkembang tanpa bisa dihentikan.
2/ Determinisme teknologi:
Ia bukan sekadar alat, melainkan kekuatan yang menentukan struktur sosial, politik, dan budaya.
3/ Efisiensi sebagai nilai utama:
Teknologi selalu bergerak menuju efisiensi yang lebih tinggi. Nilai ini sering mengalahkan pertimbangan etika, moral, atau kemanusiaan.
Dengan filsafat teknologi Ellul, AI sebagai sistem otonom berkembang dengan cepat melalui riset dan inovasi tanpa kontrol penuh dari masyarakat.
Berikut ancaman determinisme digital: AI berpotensi mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, bahkan berpikir.
Terakhir, risiko bahwa manusia akan berhadapan dengan efisiensi vs. etika. Atau, AI sering dipuji karena meningkatkan efisiensi, tetapi hal ini bisa mengorbankan nilai kemanusiaan, seperti privasi, keadilan, dan tanggung jawab moral.
Lebih lanjut, Jürgen Habermas(96) dalam The Theory of Communicative Action(2 Jilid Edisi Inggris 1981), mengingatkan bahwa filsafat teknologi komunikasi harus menjaga agar rasionalitas komunikatif tetap hidup, bukan tunduk pada determinisme sistem.
Selain itu, ia menekankan ancaman terbesar filsafat teknologi komunikasi adalah kolonisasi lifeworld oleh sistem, yang diringkas dalam frase “the uncoupling of system and lifeworld.”
Sementara, Y. B. Mangunwijaya(1929-1999) dalam antologi Kebudayaan dan Dampak Kebudayaannya(Dua Jilid 1983;1985), menguraikan teknologi sebagai kekuatan ambivalen yang tidak hanya membawa kemajuan material, tetapi juga menimbulkan konsekuensi sosial dan budaya.
Ia bisa menjadi sarana pembebasan, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketergantungan dan dehumanisasi.
Walhasil, kritik terhadap determinisme teknologi
dalam antologi ini mengingatkan bahwa teknologi sering berkembang dengan logika internalnya sendiri.
Jika tidak dikendalikan, ia bisa menguasai manusia. Karena itu, diperlukan filsafat kebudayaan yang kritis agar manusia tetap menjadi subjek, bukan objek teknologi,
Dalam kritik tiga perspektif atas buku setebal 425 halaman ini, para penulis di era AI harus memahami teknologi sebagai bagian dari sejarah panjang peradaban, yang mengubah cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, dan membangun makna.
Penulis tidak lagi berdiri di luar teknologi, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang terus bergerak, di mana karya sastra dan esai menjadi refleksi atas dampak teknologi terhadap kebudayaan global.
Dengan demikian, Peran Penulis di Era AI merupakan sebuah antologi yang tidak hanya memotret kegelisahan penulis, tetapi juga meretas filsafat penulisan di tengah perubahan besar yang bisa menggerus atau sekaligus lebih adaptif.
Buku ini mengajak pembaca untuk melihat penulis bukan sekadar penghasil teks, melainkan sebagai pemikir yang menyeberangi batas bahasa, membaca, dan teknologi.
Di era AI, penulis tetap menjadi penjaga makna, penghubung kebudayaan, dan perintis filsafat baru yang lahir dari dialog antara manusia dan mesin.
Akhirnya, di antara 78 penulis yang berkontribusi dalam antologi Peran Penulis di Era AI, saya turut hadir sebagai salah satu penulis yang menyoroti peran penulis dari perspektif filsafat eksistensialisme.
Dalam pandangan ini, menulis bukan sekadar aktivitas teknis atau produksi teks, melainkan sebuah tindakan eksistensial: Menulis itu Mengada.
Menulis menjadi cara manusia menegaskan keberadaannya di dunia, menghadirkan dirinya melalui bahasa, dan memberi makna pada pengalaman hidup.
Di era AI, ketika mesin mampu meniru gaya, struktur, bahkan imajinasi, eksistensialisme mengingatkan bahwa keaslian manusia tetap terletak pada keberanian untuk mengada melalui tulisan.
Menulis adalah pernyataan diri yang tidak bisa digantikan oleh algoritma, karena ia lahir dari kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab.
Dengan demikian, kontribusi ini menegaskan bahwa para penulis di era AI bukan hanya berhadapan dengan teknologi belaka dan pasokan sains mutakhir di baliknya.
Akan tetapi, dengan dirinya sendiri — manusia atau para penulis — tetap dihadapkan pada bagaimana menulis menjadi jalan untuk meretas eksistensi, meneguhkan makna, dan menjaga kemanusiaan di tengah arus perubahan budaya yang tiada tara dan batasnya.
#coversongs:
„Louder Than Words Intro” berfungsi sebagai pembuka album, dengan durasi singkat(sekitar 1 menit 54 detik) dan dirilis pada 21 Juli 2015.
Makna musik ini sebagai bahasa universal yang mampu menyampaikan emosi, spiritualitas, dan pengalaman batin lebih kuat daripada kata-kata biasa.
Album ini sendiri menekankan tema spiritual warfare, survival, atmosphere, dan heaven, sehingga intro menjadi semacam pintu masuk ke perjalanan emosional dan spiritual yang ditawarkan Anthony Fisher.
#cover buku diambil dari ebook-nya.

