![]() |
Oleh : Ririe Aiko
Perjalanan menuju Sidoarjo sore itu tak pernah saya niatkan sebagai perjalanan refleksi hidup. Ia bermula dengan tujuan sederhana menikmati senja di sebuah kota kecil yang terasa teduh, tidak tergesa-gesa, dan memberi ruang untuk bernapas sejenak. Di sepanjang trotoar, saya melihat pemandangan yang tidak asing namun berhasil meninggalkan kesan mendalam, orang-orang duduk lesehan di atas tikar tipis, berbagi tawa, berbagi piring dan berbagi cerita hidup.
Ada sesuatu yang unik di sana. Trotoar yang biasanya identik dengan lalu lintas dan langkah orang yang tergesa-gesa, berubah menjadi ruang keluarga kolektif. Tak ada sekat status, tak ada jarak jabatan. Semua duduk sejajar, lutut berdekatan, menunduk pada piring yang sama: makanan.
Saya pun ikut duduk, menanggalkan jarak sebagai pendatang. Dengan gaya khas penduduk lokal yang merakyat, saya menikmati seporsi rujak cingur, sajian yang tidak hanya kaya rasa, tetapi juga kaya sejarah. Gurih, pedas, dengan aroma kencur berpadu dengan cingur yang pekat dan berani, seolah tidak meminta izin untuk disukai. Ia hadir apa adanya, dan tetap berbaur dengan rasa yang memaksa kita untuk terbiasa menikmati.
Di antara kunyahan yang saya nikmati perlahan, saya berusaha membiasakan diri dengan aroma yang pekat dari sepiring rujak khas Surabaya itu. Tanpa sekat antara satu pembeli dan lainnya, ruang terasa lebih terbuka. Tanpa sengaja, telinga saya menangkap percakapan dua orang pria paruh baya berseragam karyawan yang duduk tak jauh dari tempat saya berada.
Percakapan itu terdengar ringan di permukaan, namun sesungguhnya rumit dan sangat realistis, tentang dunia yang menuntut kita terus kuat bertahan, bahkan ketika rasanya sangat tidak nyaman. Mereka tidak berbicara dengan nada marah. Tidak pula mengeluh berlebihan. Mereka berbicara seperti orang-orang yang sudah terlalu sering belajar menelan realitas.
Pikiran saya ikut berputar: menyimak, mengamini, sekaligus merasakan getir dari obrolan yang mengalir di antara mereka. Tentang bagaimana di dunia kerja, terutama bagi mereka yang berada di pinggiran sistem, sering kali tidak ada pilihan selain bertahan. Tentang bagaimana kondisi memaksa seseorang bekerja dengan orang-orang yang toksik, rekan yang manipulatif, lingkungan yang mengharuskan kita tunduk atas nama profesionalisme.
"Mbok ya, Kalau nggak kepikiran anak istri di rumah, rasanya udah lama pengen keluar! Tapi ya gimana lagi... kita wong cilik, dilindes juga, ya manggut-manggut bae."
Ungkapan itu, dilontarkan dengan gaya medok khas logat Jawa, terdengar sederhana, namun seperti aroma kencur di rujak cingur, tajam, menyengat, dan menetap lama di ingatan.
Nasib wong cilik yang cuma bisa manggut-manggut wae seakan menggambarkan realitas yang tak bisa dipungkiri: menjadi orang tanpa privilege adalah bertahan di posisi penerima. Harus diam menghadapi orang-orang bermental menjijikkan, harus siap dijatuhkan, harus siap direndahkan. Harus berpura-pura kuat padahal mental sedang dihancurkan perlahan. Harus memakai topeng, tetap tersenyum manis, sementara hati merasa muak dan ingin merobohkan dinding kesenjangan yang menciptakan strata pembeda antara satu manusia dengan manusia lainnya.
Mendengarkan keluh kesah 'wong cilik' sore itu, membuat saya menghela napas panjang. Ya, itu memang realitas hidup kaum pinggiran, makanan sehari-hari yang pahit, tapi harus ditelan. Kaum pinggiran jarang punya waktu untuk menyembuhkan rasa sakit hati terlalu lama, apalagi pergi ke psikolog, yang biayanya jauh lebih besar dari gaji bulanan mereka. Jadi ujungnya, perlakuan seburuk apapun ya ditelan saja.
Seperti sepiring rujak cingur yang memadukan rasa ekstrem dalam satu suapan, hidup sering memaksa kita menelan getir dan gurih sekaligus. Aroma yang tajam membuat kita terkejut pada awalnya, tapi seiring suapan berikutnya, kita mulai terbiasa.
Sidoarjo sore itu mengajarkan saya satu hal: di tengah kerasnya sistem yang kerap mengklasifikasikan manusia, masih ada ruang-ruang kecil untuk tetap waras dan bertahan, entah lewat makanan, tawa, atau berbagi obrolan hangat dengan teman seperjuangan. Setidaknya, semua hal itu bisa menguatkan kita untuk tetap bertahan.

