![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Perbedaan antara penyakit ‘otak’ dan ‘pikiran,’ antara masalah ‘neurologis’ dan masalah ‘psikologis’ atau ‘psikiatrik,’ adalah warisan budaya yang disayangkan… Hal ini mencerminkan ketidaktahuan mendasar tentang hubungan antara otak dan pikiran.” — Antonio Damasio(81), Descartes’ Error: Emotion, Reason, and the Human Brain(1994).
Membicarakan otak manusia selalu berarti menyingkap lapisan sejarah evolusi yang panjang.
Dari otak reptil yang hanya mengenal naluri bertahan hidup, hingga otak sapiens yang mampu merumuskan filsafat, seni, dan teknologi, perjalanan ini adalah kisah tentang transformasi kesadaran.
Buku terbaru karya dr. Tifauzia Tyassuma, Gibran’s Black Brain(2026), yang dipromosikan lewat akun X Dokter Tifa, mencoba membedah isi otak seorang pemimpin dengan pisau neurosains perilaku, epidemiologi perilaku, dan neuropolitika.
Ia melanjutkan jejak penelitian sebelumnya bersama, Dr. Roy Suryo dan Dr. Rismon Sianipar dalam Jokowi’s White Paper(2025), dengan pesan keras agar bangsa tidak lagi mengulang kesalahan fatal dalam memilih pemimpin.
Namun, untuk menambah bobot ilmiah, refleksi atas fungsi otak manusia perlu ditempatkan dalam horizon yang lebih luas.
Ditelisik dari Dean Burnett(44), dosen dan tutor di Cardiff University, mengelola program MSc Psychiatry (2012–2018), dalam Otak Bahagia(2018) dan Otak Idiot(2016) menunjukkan bahwa otak bukanlah mesin sempurna, melainkan organ yang penuh paradoks.
Ia bisa membuat manusia bahagia, tetapi juga bisa menjerumuskan pada kebodohan kolektif.
Sementara, Dr. dr. Taufik Pasiak(56), neurosainstis spiritual di Indonesia — kini Dekan Fakultas Kedokteran UPVN Jakarta — dalam Tuhan dalam Otak Manusia(2014) menegaskan bahwa otak adalah locus spiritualitas, tempat manusia merasakan kehadiran transenden.
Dari persepektif Mario Beauregard(64), aktif sebagai neuroscientist yang meneliti kesadaran serta pengalaman spiritual dan Denyse O’Leary(75), aktif sebagai penulis, jurnalis, serta blogger yang fokus pada isu hubungan sains, iman, dan filsafat, dalam Otak Spiritual(2009) menambahkan bahwa pengalaman religius bukan sekadar ilusi neurologis, melainkan bagian dari kapasitas otak untuk menembus batas material.
Dari perspektif ini, otak sapiens bukan hanya kelanjutan dari otak reptil, melainkan lompatan menuju kesadaran yang kompleks dengan struktur evolusi berikut:
1/ Otak reptil mengatur naluri dasar: makan, bertahan, kawin.
2/ Otak mamalia menambahkan emosi, ikatan sosial, dan memori.
3/ Otak neokorteks sapiens melampaui itu semua, menghadirkan bahasa, abstraksi, dan refleksi diri.
Akan tetapi, sebagaimana dikritisi Burnett, otak sapiens tetap membawa jejak reptil dan mamalia di dalamnya.
Naluri primitif bisa muncul dalam politik, dalam perilaku massa, dalam kecenderungan memilih pemimpin bukan karena visi, melainkan karena daya tarik instingtif.
Di sinilah relevansi neuropolitika yang diangkat dr. Tifauzia Tyassuma MSc. Membaca otak seorang pemimpin berarti membaca bagaimana naluri reptil, emosi mamalia, dan rasionalitas sapiens berinteraksi.
Jika dominasi reptil lebih kuat, maka keputusan politik bisa jatuh pada insting bertahan, agresi, atau manipulasi.
Jika neokorteks yang berkuasa, maka lahirlah kebijakan berbasis rasionalitas, etika, dan visi jangka panjang.
Neurosains perilaku dan epidemiologi perilaku memberi kita alat untuk memahami bagaimana otak individu bisa memengaruhi otak kolektif bangsa.
Refleksi ini menegaskan bahwa perjalanan dari otak reptil ke otak sapiens bukanlah garis lurus, melainkan arena tarik-menarik.
Otak manusia bisa menjadi sumber kebahagiaan, sebagaimana Burnett tunjukkan, tetapi juga bisa menjadi sumber kebodohan massal(brain‘s idiot).
Ia bisa menjadi tempat pengalaman spiritual, sebagaimana Pasiak dan Beauregard jelaskan, tetapi juga bisa menjadi ruang gelap penuh manipulasi. Black brain, menurut kajian dr. Tifa.
Dengan demikian, membaca otak pemimpin bukan sekadar metafora, melainkan kebutuhan ilmiah dan politis.
Pada akhirnya, otak sapiens adalah paradoks: ia membawa naluri reptil, emosi mamalia, dan rasionalitas manusia dalam satu wadah.
Dari sana lahir kebijakan, seni, agama, dan juga kesalahan sejarah.
Menilik lagi pada Damasio, ditunjukkan bahwa otak sehat harus dipahami sebagai kesatuan antara fungsi biologis dan mental, bukan dipisahkan secara kaku.
Kutipan berikut menjelaskan, Kesalahan Descartes terletak pada pemisahan pikiran dari tubuh, dan dengan demikian memisahkan emosi dari akal. Padahal, emosi merupakan bagian integral dari proses penalaran.
Dengan kata lain, fungsi otak cerdas bukan hanya berpikir logis, tetapi juga mengintegrasikan emosi sebagai penuntun keputusan.
Lanjut dikutip dari Damasio, „akal sehat mungkin tidak semurni yang kebanyakan dari kita pikirkan atau harapkan… emosi dan perasaan mungkin bukanlah penyusup di benteng akal sehat sama sekali: mereka mungkin terjalin dalam jaringannya, baik untuk kebaikan maupun keburukan.”
Buku Gibran’s Black Brain hadir sebagai peringatan bahwa bangsa tidak boleh lagi terjebak pada sisi gelap otak, melainkan harus mengaktifkan potensi tertinggi neokorteks: rasionalitas, etika, dan spiritualitas.
Dari evolusi otak reptil ke otak sapiens, perjalanan manusia adalah panggilan untuk terus memilih cahaya, bukan kegelapan.
#coversongs:
“Brainwashed” adalah album terakhir George Harrison yang dirilis secara anumerta pada 18–19 November 2002, hampir setahun setelah ia wafat pada 29 November 2001.
Harrison lahir pada 25 Februari 1943 di Liverpool dan meninggal di Los Angeles pada usia 58 tahun.
Album ini, khususnya lagu berjudul “Brainwashed,” merupakan refleksi kritis tentang manusia modern yang terjebak dalam sistem sosial, politik, dan materialisme, serta seruan untuk kembali pada spiritualitas dan kebebasan batin.
#creatordigital:
Ilustrasi diubah dengan bantuan AI dari foto asli di laman X.

