![]() |
oleh ReO Fiksiwan, Terry Heesye Sigar, MAO (M. Aldin Ointoe), Almitra Putri Ointoe
“Hakikat Natal Kristus adalah perjumpaan Allah dengan manusia dalam kasih yang melampaui batas agama dan budaya serta tanda bahwa Allah hadir dalam sejarah manusia, bukan untuk memisahkan, melainkan untuk mempertemukan dalam kasih dan damai.” — Olaf H. Schumann(85), Jesus the Messiah in Muslim Thought(2002).
Natal selalu menjadi momentum yang melampaui sekadar perayaan liturgis.
Ia adalah ruang refleksi, ruang perjumpaan, dan ruang penghayatan akan pesan Kristus yang sederhana namun mendalam: Kasih, Damai, dan Sejahtera.
Bagi seluruh umat Kristiani, khususnya dari lingkaran keluarga, saudara, tetangga, kerabat, hingga para pejabat sebagai warga negara, pesan ini bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan panggilan hidup yang nyata.
Kami, keluarga besar Ointoe Sigar, dengan rendah hati ikut mengucapkan pesan Kristus tersebut sebagai pengingat bersama bahwa iman yang ditabur akan selalu berbuah kasih yang dituai.
Pada Kamis, 25 Desember 2025, kita kembali diajak merefleksikan pesan Kristus, terutama bagi para pemeluknya, namun juga sebagai ekspresi universal yang dapat dirasakan oleh seluruh umat beragama.
Dalam konteks ini, refleksi tidak berhenti pada batas keyakinan, melainkan meluas pada nilai kemanusiaan.
Sam Harris(58) dalam Letter to a Christian Nation(2006), seorang filsuf dan neuroscientist, mengingatkan bahwa iman sering kali dipertanyakan dalam dunia modern, namun kasih tetap menjadi bahasa yang universal.
Sementara Paul F. Knitter(87) dalam One Earth, Many Religions: Multifaith Dialogue and Global Responsibility(1995), menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi sekat, melainkan jembatan untuk saling memahami.
Natal, dengan demikian, menjadi simbol lintas iman yang mengajarkan bahwa kasih adalah fondasi yang dapat menyatukan manusia dalam keberagaman.
Kami sebagai keluarga Ointoe Sigar telah menjalani hampir tiga dekade hubungan kekeluargaan yang berlandaskan perbedaan keyakinan.
Namun, perbedaan itu tidak pernah menjadi penghalang, melainkan justru memperkaya perjalanan hidup bersama.
Dalam harmoni, kami belajar saling menghormati tanpa sekat psikologi spiritual maupun religius.
Seperti yang pernah diuraikan oleh Friedrich Engels(1820-1895), dalam The Origin of the Family, Private Property and the State(1884), keluarga adalah tonggak kebangsaan, tempat nilai-nilai dasar kehidupan berakar.
Kami percaya bahwa keluarga adalah miniatur bangsa, dan jika dalam keluarga perbedaan dapat dirangkul dengan kasih, maka bangsa pun dapat berdiri teguh dalam damai.
Akhirnya, kami keluarga Ointoe Sigar—Reiner Emyot, Terry Heesye, Aldin, dan Almitra Putri—menyambut Natal umat Kristiani ini dengan fondasi iman masing-masing, dalam balutan Kasih, Damai, dan Sejahtera.
Semoga pesan Kristus yang kami tabur dalam iman dapat dituai sebagai kasih yang nyata, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi sesama, bangsa, dan dunia.
Dominus vobis cum
Dona nobis pacem
Shalom Alaechem
Haleluya
Salam Sejahtera
#coversongs:
Joy to the World ditulis oleh Isaac Watts pada tahun 1719, dengan melodi yang kemudian diatur oleh Lowell Mason berdasarkan karya George Frideric Handel.
Versi rekaman Joy to the World oleh Nat King Cole(1919-1965) dirilis pada tahun 1960.
#credit foto: MAO.

