Type Here to Get Search Results !

Membaca Filsafat Ego Ketiadaanku

oleh ReO Fiksiwan 

„Al‑‘adam (ketiadaan) bukanlah sesuatu yang memiliki realitas; ia hanyalah ketiadaan wujud. Hakikat wujud tidak dapat dipahami kecuali dengan lawannya, yaitu ketiadaan.” — Muhammad Baqir al‑Sadr(1935-1980), Falsafatuna, Mizan 1991).

Kematian selalu hadir sebagai paradoks yang menggugah sekaligus mengguncang. Ia adalah kodrat kehidupan yang tak terelakkan, namun tetap menjadi misteri yang sulit dijelaskan. 

Ontologi kematian menempatkan ketiadaan bukan sekadar absensi, melainkan realitas yang menyingkap batas eksistensi manusia. 

Dalam perspektif filsafat fenomenologi dan eksistensialisme, ketiadaan bukanlah kekosongan mutlak, melainkan horizon yang memaksa manusia untuk menatap dirinya sendiri, menimbang makna hidup, dan menyadari kefanaan yang melekat pada setiap denyut waktu.

Mengawali perspektif ini, „membaca ego ketiadaanku“, Jean-Paul Sartre(1905-1980), dalam Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology(1943, diterjemahkan oleh Hazel E. Barnes, 1956), menegaskan bahwa ketiadaan adalah bagian integral dari eksistensi. 

Kutipannya: „Kekosongan tersembunyi di jantung keberadaan—seperti cacing.”

Frase ini menegaskan bahwa ketiadaan bukan sekadar absensi, melainkan bagian inheren dari wujud itu sendiri. 

Sartre melihat ketiadaan sebagai kondisi ontologis yang memungkinkan kebebasan manusia: kita bisa meniadakan, menolak, atau melampaui keadaan yang ada.

Manusia, dengan kebebasan yang dimilikinya, selalu berhadapan dengan “nothingness” yang menyelinap di balik setiap pilihan. 

Jauh sebelum Sartre, Martin Heidegger(1889-1976) dalam Sein und Zeit(1927) mengurai kematian sebagai “Sein-zum-Tode“(keberadaan yang menuju mati), hendak menunjukkan bahwa kesadaran akan akhir justru memberi intensitas pada hidup. 

Ungkapan terkenal dari Heidegger, “Das Nichts selbst nichtet”(Ketiadaan itu sendiri meniadakan), menegaskan bahwa ketiadaan adalah hakikat ontologi, karena ia membuka kemungkinan bagi pemahaman tentang Ada.

Bahwasanya, manusia(Dasein) selalu berhadapan dengan kemungkinan ketiadaan(Das Nichts), terutama dalam pengalaman kematian.

Lebih jauh lagi, filsuf Islam dari abad-13 kelahiran Ray, Teheran Iran pada 1149 — 38 tahun setelah wafatnya Al Ghazali(1111), Fakhruddin Ar-Razi dalam Wujud dan Waktu(2022) mencoba menghubungkan dimensi teologis dengan filsafat kontemporer.

Ia, yang dijuluki „Sultan Para Teolog“(Sulthanul Mutakallimin), menekankan bahwa ketiadaan(al‑‘adam, العدم) adalah bagian dari wujud yang tak bisa diabaikan, meski sering disembunyikan oleh manusia yang lebih sibuk dengan urusan empiris dan materialistik.

Dikitip ia mengatakan: „Ada dan ketiadaan adalah hakikat wujud; tanpa keduanya, wujud tidak dapat dipahami.” 

Pandangan ini menempatkan Ar-Razi dalam tradisi teologi skolastik Islam, yang menggabungkan logika Aristotelian dengan metafisika Islam.

Ia menolak pandangan yang hanya menekankan “ada” sebagai realitas tunggal, karena menurutnya ketiadaan juga memiliki peran epistemologis dalam memahami wujud.

Sementara, filsafat kontemporer dari Nietzsche dalam Jenseits von Gut und Böse mengingatkan bahwa siklus hidup berporos pada tarik-menarik antara perbuatan baik dan buruk, namun keduanya hanyalah konstruksi yang rapuh di hadapan kematian. 

Nietzsche mengulas: „Kesalahan paling berbahaya dan paling lama bertahan adalah kesalahan kaum dogmatis—yakni, penemuan Plato tentang roh murni dan kebaikan sebagai sesuatu yang ada.”

Di sini Nietzsche menyingkap bahwa di balik klaim “ada”(roh murni, kebaikan absolut), sebenarnya terdapat ketiadaan dasar: sebuah konstruksi metafisik tanpa fondasi nyata.

Kata “jurang”(abyss) yang digunakan Nietzsche merupakan metaforanya untuk ketiadaan: ruang kosong yang justru membuka kemungkinan bagi kedalaman eksistensi. 

„Di balik ketiadaan”(Jenseit das Nichts) berarti keberanian menatap jurang — dalam istilah Nietzsche lainnya: Untergang dan Übergang — tanpa sandaran dogma teologi yang berulang-ulang disangkal nyaris dalam seluruh karyanya, terutama Ecce Homo dan Antichrist.

Dengan demikian, ketiadaan menyingkap absurditas moral, sekaligus membuka ruang bagi manusia untuk menciptakan nilai baru. 

Atau, dalam aforisme Nietzsche, „Umwertung aller Werte“ (transvaluasi nilai) sebagai jurang mendalami hakikat ketiadaan.

Dalam konteks ini, kematian bukan sekadar akhir biologis, melainkan momentum untuk menertawakan kesombongan nilai yang dianggap absolut, terutama dalam dogma-dogma teologis.

Beberapa filsuf mutakhir melihat problem ketiadaan dalam peristiwa kematian sebagai bentuk realisme spekulatif, bahkan menyerupai magic realism dalam dunia sastra. 

Dengan kata lain, kematian menghadirkan realitas yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh logika empiris, tetapi tetap nyata dalam pengalaman manusia. 

Merujuk Arparslan Açikgebç (73), filsuf Turki, alumni PhD filsafat The University of Chicago(1983), dalam Being and Existence (2022) menekankan bahwa eksistensi manusia selalu berada di ambang antara ada dan tiada, sebuah ketegangan yang melahirkan refleksi mendalam tentang makna.

Konsep ini menekankan bahwa realitas sejati adalah Wujud itu sendiri, sementara segala sesuatu yang tampak hanyalah manifestasi.

Dalam kerangka ini, “ketiadaan” bukanlah lawan mutlak dari wujud, melainkan kondisi yang menegaskan kebergantungan makhluk pada Wujud Mutlak (Allah).

Jadi, gagasan “ada dalam ketiadaan” bisa dipahami sebagai eksistensi kontingen: makhluk tampak ada, tetapi hakikatnya bergantung pada Wujud Mutlak.

Dengan demikian, “ada dalam ketiadaan” dapat ditafsirkan sebagai eksistensi yang muncul dari ketiadaan esensi mandiri, karena hanya Wujud Mutlak yang benar-benar ada.

Dalam tradisi filsafat Indonesia, mendiang Toeti Heraty Noerhadi(1933-2021), profesor filsafat dari UI, melalui gagasan Aku-Fenomenologi dalam Aku dalam Budaya(1983)) menegaskan bahwa kematian adalah bagian dari pengalaman budaya yang membentuk kesadaran diri.

„Aku” yang berhadapan dengan ketiadaan bukanlah entitas yang hilang, melainkan bagian dari jaringan makna yang terus hidup dalam ingatan kolektif.

Dikutip ulasannya: „Aku, fenomenologi, adalah filsafat ontologi budaya, karena melalui kesadaran diri kita menemukan esensi budaya sebagai dunia bersama, tempat di mana diri dan bukan diri bertemu.”

Membaca ketiadaanku, „diri dan bukan diri bertemu“, berarti menatap kematian sebagai realitas ontologis yang tak bisa dihindari. 

Ia adalah misteri yang menyingkap batas eksistensi, sekaligus cermin yang memaksa manusia untuk menilai kembali hidupnya. 

Dalam setiap peristiwa kematian, kita diingatkan bahwa hidup bukan sekadar akumulasi materi atau pencapaian empiris, melainkan perjalanan menuju ketiadaan yang justru memberi makna pada keberadaan. 

Ontologi kematian adalah panggilan untuk menyadari bahwa hidup hanya berarti sejauh kita berani menatap ketiadaan, dan dari sana, menumbuhkan keberanian untuk hidup dengan penuh kesadaran.

#coversongs:

Nothing Compares 2 U” adalah single Sinéad O’Connor yang dirilis pada 8 Januari 1990, ditulis oleh Prince. 

Sinéad O’Connor(Shuhada’ Sadaqat, nama yang ia gunakan setelah masuk Islam) lahir 8 Desember 1966 di Dublin, Irlandia, dan wafat 26 Juli 2023 di London pada usia 56 tahun. 

Lagu ini bermakna tentang kehilangan dan kerinduan mendalam terhadap seseorang yang pergi, menjadikannya salah satu balada paling emosional dan ikonik di era 1990-an.

#creatordigital: Foto diri di ReO Bibliothek Kokima Hill, Manado, yang diubah jadi sketsa dengan bantuan AI.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.