Type Here to Get Search Results !

Mahasiswi di Titik Nol

oleh ReO Fiksiwan 

“Sistem itu mengecewakannya dua kali: pertama dengan tidak mempercayainya, dan kemudian dengan membiarkan pemerkosa itu terus melakukan perbuatannya.” — T. Christian Miller(56) & Ken Armstrong(67), False Report: A True Story of Rape in America (2018). 

Evia, 21 tahun, mahasiswi Universitas Negeri Manado di Tondano, Minahasa, ditemukan tewas di kamar kosnya di Tomohon. 

Remaja yang merantau dari kampungnya, di Nusa Utara — untuk menempuh pendidikan tinggi demi marwah keluarganya, tak dinanya mengalami tragedi dan takdir naas. 

Ketika ia menolak paksaan pelecehan seksual oleh oknum dosen di kampusnya berulang kali, justru kematian menjadi pilihan tragisnya. 

Kematian yang tak wajar di kamar kosnya di Tomohon ini menyisakan luka mendalam. Bukan hanya bagi orang tua dan keluarga tempat ia berasal dan memimpikan masa depannya.

Akan tetapi, luka sobek pelecehan itu merangsek dunia pendidikan tinggi yang seharusnya menjadi ruang aman etika dan edukasi bagi generasi muda. 

Evia diduga menjadi korban pelecehan berulang oleh seorang dosen, sosok yang seharusnya membimbing prestasi akademisnya. 

Ketidakmampuan menanggung beban dan trauma,

 akhirnya menyeretnya pada titik nol: sebuah akhir tragis yang tidak pernah layak bagi siapa pun.

Kisah Evia mengingatkan pada memoir Know My Name(2019) dari Chanel Miller(33). Awalnya dikenal publik sebagai “Emily Doe” dalam kasus pelecehan seksual di Stanford(2015). Identitasnya baru terungkap lewat memoir Know My Name(2019).

Miller, korban pelecehan seksual di Stanford, harus berjuang melawan sistem hukum yang meremehkan kasusnya dan budaya kampus yang melindungi pelaku, Brock Turner. 

Suara korban dipinggirkan, sementara pelaku mendapat simpati. 

Kasus Miller ini menegaskan betapa sulitnya korban untuk mendapatkan keadilan, bahkan di institusi pendidikan yang mestinya menjunjung tinggi nilai moral.

Kini, Miller aktif sebagai penulis, seniman, dan pembicara publik, dengan karya terbaru berupa buku anak dan aktivitas seni rupa di San Francisco serta New York.

Selain hadir di festival sastra, termasuk Texas Book Festival 2024, suara Miller menjadi advokasi penting dalam isu pelecehan seksual, keadilan hukum, dan pemberdayaan korban.

Selain itu, peristiwa pelecehan ini juga menemukan resonansi dalam Not That Bad: Dispatches from Rape Culture(2018) yang dieditori Roxane Gay. 

Antologi tersebut memperlihatkan bagaimana korban dari berbagai latar belakang menghadapi pelaku yang beragam, dari lingkaran sosial hingga figur berkuasa. 

Motor pendorongnya adalah “rape culture”—budaya yang menormalisasi pelecehan, menyalahkan korban, dan menganggap kekerasan seksual sebagai hal biasa. 

Gay(55), kini aktif sebagai penulis, profesor Michigan Technological University(PhD), editor, dan komentator budaya, dengan karya terbaru berupa esai, buku, serta kegiatan advokasi bagi penulis dari kelompok terpinggirkan.

Kasus Evia, yang berlarut-larut tanpa penanganan tegas, memperlihatkan bagaimana struktur sosial dan institusi pendidikan bisa memperkuat sikap permisif terhadap tindak kejahatan seksual.

Lemahnya penanganan aparat penegak hukum(APH) terhadap kasus serupa dapat dianalisis melalui A False Report: A True Story of Rape in America(2018) dari T. Christian Miller dan Ken Armstrong. 

Buku ini mengisahkan Marie, seorang remaja yang melaporkan pemerkosaan namun dianggap berbohong. 

Ketidakpercayaan aparat justru memperburuk trauma korban dan memungkinkan pelaku beraksi berulang kali. 

Situasi ini paralel dengan kasus Evia: bias aparat dan kegagalan investigasi membuka ruang bagi pelaku untuk terus melukai, sementara korban semakin terpojok hingga kehilangan harapan.

Dengan demikian, esai ini sebagai refleksi atas tragedi yang menimpa seorang mahasiswi yang bercita-cita mulia meraih gelar sarjana hingga merantau jauh dari kampungnya.

Alih-alih mendapat bimbingan, ia justru menjadi korban dari sistem yang gagal melindungi dirinya. 

 “Mahasiswi di Titik Nol” sebagai judul tragedi pelecehan seksual yang merasuk dunia kampus — meski tak sama — bisa dipetik dari kisah Firdaus dalam novel Woman at Point Zero(1977; YOI 1988) yang ditulis sastrawati asal Mesir, Nawal El-Saadawi(1931-2021).

Kisah fiksi bersumber dari fakta ini merupakan tragedi seorang perempuan belia di dunia Arab yang diseret oleh sistem patriarki hingga dilecehkan sebagai pelacur. 

Faktanya pun, sebuah bentuk protes dan perlawanan El-Saadawi, sejak remaja di kota Mesir, menolak sistem partriarki yang berlaku di negaranya dan kelak dia jadi ikon gerakan feminisme di dunia Islam.

Karna tekanan sistem partriarki, Firdaus menempuh langkah perlawanan dengan berbalik bagaimana memperdaya hasrat seksual para partriarki — setelah puas dan menambang real atau dinar mereka — tak segan ia membunuh mereka dengan caranya. 

Firdaus dan Evia sama-sama menjadi simbol perempuan yang terjebak dalam lingkaran kekerasan, pelecehan, dan ketidakadilan.

Kematian Evia bukan sekadar tragedi personal, melainkan cermin dari rapuhnya sistem perlindungan terhadap perempuan di ruang akademik. 

Ia adalah peringatan bahwa kampus, aparat penegak hukum dan masyarakat harus berhenti menormalisasi pelecehan, berhenti menyalahkan korban, dan mulai menegakkan keadilan. 

Sebab setiap suara korban yang dipinggirkan adalah tanda bahwa kita masih hidup dalam budaya yang gagal melindungi manusia paling rentan. 

Evia telah sampai di titik nol, tetapi refleksi atas kematiannya harus menjadi titik balik bagi kita semua.

#coversongs: 

John Debney(69) mengaransemen lagu/track berjudul “Rape Victim” adalah bagian dari soundtrack film The Young Messiah yang dirilis tahun 2016. 

Judul track ini merujuk pada adegan dalam film, bukan karya lepas, dan artinya adalah “Korban Pemerkosaan”, menggambarkan suasana tragis dalam cerita film tersebut.

#credit foto: Diubah dengan bantuan AI dan dicopas dari foto asli yang beredar di laman facebook.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.