![]() |
Oleh: Ririe Aiko
Sore itu, di pinggiran Kota Malang yang teduh, saya duduk di antara deretan kursi alun-alun. Angin berembus pelan, pohon-pohon seperti sengaja menurunkan volume hidup. Langkah orang-orang terasa tidak tergesa. Ada jeda yang jarang saya temui di Bandung, kota yang selalu berlari, bahkan ketika malam sudah larut. Di Malang, sore seakan mengajak kita berdamai dengan waktu. Sebuah versi slow living yang memberi saya ruang untuk sejenak menjeda.
Di tengah keheningan yang hangat itu, seorang pemuda menghampiri. Pakaiannya rapi, senyumnya sopan. Tangannya menggenggam beberapa botol minuman dingin. Ia menawarkan es kopi kekinian, katanya punya ciri khas, beda dari kopi lain. Bahasa marketing yang sederhana tapi jujur—tidak menggurui dan tidak memaksa. Satu botol sepuluh ribu rupiah.
Saya pun membeli satu.
Sambil menyeruput kopi yang ternyata aromatik dan terasa berbeda, obrolan pun mengalir begitu saja. Awalnya, percakapan kami diisi pertanyaan basa-basi khas dua orang asing. Tapi perlahan, percakapan itu berubah menjadi ruang refleksi batin. Kami tertawa kecil, lalu menghela napas panjang, dan entah bagaimana sampai pada satu kesimpulan yang sama:
“Gini-gini amat ya, jadi WNI.”
Awalnya saya mengira ia pemilik bisnis kopi. Rasanya terlalu serius untuk sekadar jualan iseng. Tapi dugaan saya meleset. Kopi itu bukan pekerjaan utamanya. Ia seorang karyawan swasta. Kebetulan sedang libur, jadi ia berjualan kopi sebagai kerja sampingan. Sambil berjualan, ponselnya tak pernah jauh dari genggaman, menunggu orderan ojek online masuk. Tiga pekerjaan dalam satu waktu.
Namun ternyata belum berhenti di situ. Ia juga bercerita memiliki beberapa akun afiliasi di berbagai platform e-commerce, yang kembali menjadi sumber penghasilan tambahan.
Apakah semua itu karena ia makhluk sakti? Atau karena ia seorang workaholic yang terlalu mencintai dunia kerja? Tentu saja bukan.
Semua itu terjadi karena realitas menjadi warga negara Indonesia sering kali menuntut kita memiliki kemampuan ganda—atau lebih tepatnya, terpaksa mengeluarkan kemampuan berlipat-lipat demi bisa bertahan hidup.
Fenomena ini bukan cerita langka. Ia hadir di sekitar kita, berulang dalam keseharian yang kerap kita anggap biasa.
Kita hidup di negeri yang, untuk bertahan, seolah mengharuskan warganya menjadi Avatar: menguasai banyak “elemen” sekaligus. Multitasking tanpa jeda. Bahkan untuk melamar kerja pun, kita dibebani banyak syarat yang kadang terasa absurd, dengan nominal gaji yang tak sepadan.
Saya pun tak jauh berbeda. Sebagai penulis, tentu saya tak hanya menulis. Membayangkan hidup yang hanya bergantung pada honor tulisan, rasanya mustahil bagi saya untuk bisa duduk manis sambil menyeruput kopi—yang harganya kadang justru lebih mahal dari honor satu artikel. Sebagai penulis, saya paham betul bahwa menulis sering kali lebih mengenyangkan batin daripada memenuhi isi dompet.
Di balik identitas penulis, saya juga bekerja sebagai guru matematika, konten kreator, admin media, dan masih menjalankan beberapa usaha kecil. Bukan karena terlalu rajin. Alasan saya sama dengan pemuda penjual kopi tadi: mode bertahan hidup menuntut kami menjadi Avatar di negeri ini.
Bayangkan inflasi yang terus naik, lapangan kerja yang kian sempit, dan biaya hidup yang semakin tinggi. Bagaimana mungkin kita hanya mengandalkan satu peran dan satu sumber penghasilan?
Di negeri yang lebih memakmurkan kantong pejabat, sebagai rakyat biasa kita harus sadar diri. Kita harus mau belajar kuat, belajar pintar, belajar cerdas, belajar memanfaatkan waktu luang, belajar membangun jejaring, belajar tidak sakit, dan belajar tahan santet.
Walau rasanya babak belur. Walau kadang ingin mundur. Tapi ketika sadar ini adalah realitas yang harus kita hadapi sebagai WNI, mau bagaimana lagi? Kita hanya punya satu pilihan yang realistis: tetap kuat, tetap bergerak, dan tetap bertahan.
Di sore Malang itu, kopi sepuluh ribu rupiah terasa lebih mahal dari sekadar minuman. Ia menyuguhkan cerita penuh rasa, seperti kopi yang pahit; awalnya kita tidak biasa, namun lama-lama terbiasa.

