![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Pemimpin sejati bersifat abadi karena mereka menginspirasi kepercayaan, mewujudkan integritas, dan membimbing dengan visi.” — John K. Clemens(76) & Steven W. Albrecht(73), The Timeless Leader(1995).
Putra asal Minahasa Selatan kelahiran Aceh tahun 1943, Letjen (Purn.) Ernst Evert Mangindaan SIP, menjadi salah satu figur penting dalam sejarah politik Sulawesi Utara.
Pada tahun 1995, perwira tinggi TNI ini didapuk oleh Partai Golkar untuk menggantikan posisi Gubernur Sulut yang sebelumnya dijabat mendiang Letjen (Purn.) C.J. Rantung(1985–1995).
Sejak dilantik, E.E. Mangindaan—akrab disapa Opa Lape—harus menghadapi warisan kisruh politik Kelompok-10 yang digerakkan oleh aktivis Julius Undap, Philipe Pantou, Renata T. Ticonuwu, Roy Erikson Mamengko, mendiang Max L. Siso, dan almarhum, aktivis Kahmi, Hi. Harun Wasolo.
Mereka berseberangan dengan rezim politik Golkar yang dipimpin mendiang Letjen (Purn.) J. Lengkey bersama Sekretaris Walikota Manado Drs. Wempie Frederik New, sebelum kelak digantikan oleh mendiang Brigjen (Purn.) Rolly Tanos, ayah dari dr. Devi Kartika Tanos(kini Kadis Pariwisata) dan suami Wagub Sulut(2016-2024), Drs. Steven O.C. Kandouw..
Di masa pemerintahannya, Opa Lape dikenal sebagai satu-satunya Gubernur Sulut yang memiliki dua wakil sekaligus: Brigjen (Purn.) Drs. B. Wenas, mantan Bupati Jayawijaya, yang menangani bidang pemerintahan, serta Dr (HC) H.A. Nusi yang mengurusi bidang ekonomi dan birokrasi.
Pada suatu penerbangan Jakarta–Manado, ia menerima hadiah dari saya berupa sebuah buku Unlimited Power karya Anthony Robbins, motivator kelahiran 1960 yang kini berusia 65 tahun.
Buku itu menjadi simbol semangat kepemimpinan yang berusaha menggabungkan disiplin militer dengan motivasi personal untuk membangun daerah.
Karir politik Mangindaan mencapai puncak sekaligus ujian ketika ia kalah dalam Pilgub Sulut 2000–2005 lewat DPRD terakhir oleh pasangan koalisi Golkar–PDIP, mendiang Drs. A.J. Sondakh dan F.H. Sualang. Namun kekalahan itu tidak membuatnya patah arang.
Sebagai Gubernur Sulut satu periode(1995–2000), ia meninggalkan jejak dengan jargon “Enjoy, Yes” dan slogan pembangunan “Torang Samua Basudara.”
Ia juga memperkenalkan perspektif pemerintahan lokal menghadapi globalisasi dengan istilah “outward looking developmentalism.”
Di bawah kepemimpinannya, Sekprov almarhum Arsjad Daud SH bersama Masyarakat Ilmu Pemerintahan(MIPI) yang dipimpin Prof. Dr. M. Ryaas Rasjid, kelak jadi menteri Otonomi Daerah menggelar Seminar Nasional yang kemudian dibukukan menjadi Pemerintahan Daerah dalam Perspektif Manajemen Global (1997).
Seminar ini dikawal oleh Karo Pemerintahan Gemmy Kawatu SE, MSi.
Selain itu, . E.E. Mangindaan turut merespons Seminar Kebudayaan Bolaang Mongondow pada 1995 — baru kurang dari dua bulan menjabat Gubernur — digagas Yayasan Bogani Karya bersama Syahrial Damopolii MBA, Ir. Novie Mokobombang, Firasat Mokodompit SE, dan Dr. Ir. Ridwan Lasabuda MSi di era Bupati mendiang Drs. Syamsudin Paputungan.
Produk seminar ini menjadi salah satu legasi penting yang ia tinggalkan. Di luar jabatan gubernur, Mangindaan terus melanjutkan kiprah politiknya.
Bersama sang istri, Adelina Dede Tumbuan, ia membangun keluarga yang juga berpengaruh di dunia politik lokal. Putranya, Dr. Harley Benfica Ai Mangindaan, pernah menjabat sebagai Wakil Walikota Manado(2010–2015).
Sementara karir politik Opa Lape, tentu demikian cucu-cucu dan yang akrab dengan Erenst Evert Mangindaan, putra legenda dan arsitek sepak bola nasional, sendiri melejit hingga tingkat nasional dengan jabatan dua kali menteri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—sebagai Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Menteri Perhubungan—serta menjabat Wakil Ketua MPR RI hingga 2019.
Hari ini, di usia 83 tahun, Opa Lape dikenang sebagai gubernur kelima Sulawesi Utara dari kalangan TNI yang memiliki karir politik panjang sejak era Reformasi 1998.
Ia tetap menjadi simbol kepemimpinan yang berusaha menggabungkan disiplin militer, semangat motivasi, dan nilai kekeluargaan khas Sulut.
Selamat ulang tahun Opa Lape. Tuhan memberkati senantiasa di usia lanjut ini. “Enjoy, Yes. Karena Torang Samua Basudara.”
#coversongs:
Duo pop Belanda-Indonesia Sandra & Andres (Sandra Reemer dan Andres Holten) merilis lagu “Storybook Children” pada 1967/1968 di bawah label Philips.
Sandra Reemer lahir tahun 1950 (wafat 2017 pada usia 66 tahun), sedangkan Andres Holten lahir tahun 1945(wafat 2018 pada usia 73 tahun).
Lagu kesayangan Opa Lape & Oma Dede berkisah tentang cinta yang polos dan penuh imajinasi, digambarkan seperti kisah dalam buku cerita anak, namun juga menyiratkan kerinduan akan hubungan yang sederhana, murni dan panjang seperti dianugerah pada mereka.
#credit foto: Ketika masih menjabat Wakil Ketua MPR RI(2014-2019), E.E. Mangindaan saya bersilaturahmi di ruang kerjanya sembari tukar pikiran soal banyak hal.
Tapi, ia lebih senang memberi pandangan tentang SDM dunia pendidikan.
Saat saya hendak pamit karna hampir sejam berdiskusi, ia bertanya tentang anak saya, Almitra Putri, masih kuliah di Binus. Tak disangka, ia menitip sejumlah uang untuk kuliah anak saya.
Makase Opa Lape, Almitra putri saya, sudah tamat kuliah dan kerja di Jakarta.

