![]() |
Oleh : Ririe Aiko
Kreator Puisi Esai
Tiktok @ririeaiko_djaf
(Puisi esai ini didramatisasi dari kisah seorang bocah bernama Dafa yang kehilangan teman-teman bermainnya dalam bencana longsor di Cisarua, Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, pada Senin, 21 Januari 2026.) (1)
---000---
Pagi itu,
seorang bocah berbaju biru
menatap lumpur hitam.
Matanya berkaca,
dadanya bergetar,
menanti keajaiban
di tengah pencarian.
Rasanya baru kemarin
ia dan teman-temannya
bermain bola,
berlari tanpa alas kaki,
tertawa ceria
di atas tanah
yang kini menutup
nama-nama teman kecilnya.
Lima belas.
Angka itu berputar di kepalanya
tanpa bentuk,
tanpa wajah yang utuh.
Hanya ingatan
tentang suara dan kenangan manis
yang perlahan berubah pahit.
Dadanya menyesak
membayangkan tangan-tangan kecil
yang dulu saling bergandengan,
kini terpisah
oleh lumpur yang turun
tanpa peringatan.
---000---
Malam sebelumnya,
hujan jatuh terlalu lama.
Bukan hujan yang menenangkan,
melainkan hujan yang mengikis
lereng dan kesabaran tanah.
Bukit di Pasirlangu
tak lagi sanggup menahan beban.
Ia runtuh, (2)
menyeret rumah
dan puluhan manusia
ke dalam perutnya.
Dafa tidak tahu
tentang curah hujan,
tentang runtuhnya tanah,
Ia hanya tahu,
ketika matahari muncul,
dunia sudah berubah bentuk.
---000---
Dafa berdiri
di antara orang-orang dewasa
yang sibuk menggali tanah
dan menyebut kata “korban”.
Ia tak tahu
apa arti kata itu.
Yang ia tahu,
teman-temannya belum ditemukan.
Kemarin mereka masih berdebat
siapa yang jadi penjaga gawang,
siapa yang paling cepat berlari.
Hari ini,
Dafa belajar bahwa permainan
bisa berhenti
tanpa peluit.
“Teman-teman kalian di mana?”
Dafa berteriak lirih
suaranya tersangkut
diantara debu dan tanah
Nama-nama dipanggil berulang,
namun hanya diam yang menjawab.
Tak seorang pun tahu
ke mana mereka pergi.
Tak ada yang sempat berpamitan,
tak ada salam perpisahan.
Semua terlalu cepat,
terlalu tiba-tiba,
bagi anak-anak
yang belum mengerti
bagaimana menerima kehilangan.
---000---
Di hadapan gundukan tanah,
Dafa menatap lama.
Seolah dari sana
akan muncul wajah yang dikenalnya.
Ia ingin percaya
keajaiban itu ada.
Bukan yang besar.
Cukup satu teman bernapas.
Cukup satu suara menjawab panggilannya.
Namun yang datang
hanya bau tanah basah
dan bunyi alat yang saling beradu.
“Kalau capek, duduk dulu, Nak,”
kata seorang lelaki
dengan helm penuh lumpur.
Dafa menggeleng.
Matanya tetap di sana.
Nama-nama kembali ia panggil,
satu per satu,
Namun udara
tetap enggan menyahut.
Dafa berdiri
dengan kedua tangan mengepal.
Bukan marah,
melainkan menahan sesuatu
yang belum ia kenal bentuknya.
Di kepalanya,
ingatan datang berserakan:
sorak kecil di lapangan sempit,
debu yang menempel di betis,
tawa yang berakhir getir
tanpa kesimpulan.
Kini semua berhenti
di satu tempat
yang tak bisa ia sebut rumah
atau kuburan
---000---
Ia menunggu
dengan kesabaran yang asing
bagi anak seusianya.
Matanya kering,
namun dadanya penuh
oleh sesuatu yang berat
dan tak mau turun.
Tak ada yang menjelaskan
bagaimana caranya
menerima perpisahan
Tak ada yang mengajari
bagaimana hidup dilanjutkan
ketika separuh dunia
terkubur paksa
Dafa tidak menangis.
Ia terkatup dalam beku,
tak runtuh, tak bersuara.
Luka disimpannya rapat
di ceruk paling dalam,
tempat sakit memilih bersembunyi.
CATATAN:
(1)https://www.instagram.com/reel/DT_rUzHEuor/?igsh=MTRldnRiZjN1bjJwZA==
(2)https://rri.co.id/nasional/2129891/mengenal-kecamatan-cisarua-lokasi-longsor-renggut-korban-jiwa

