Type Here to Get Search Results !

Kalaedioskop Kesustraan Tahun 2025

oleh ReO Fiksiwan

„Sastra, wilayah lama; tetapi di dalamnya, pergeseran dari pembacaan cermat teks individual ke pembangunan model abstrak… grafik, peta, dan pohon… dapat mengubah cara kita bekerja.” — Franco Moretti(75), Graphs, Maps, Trees: Abstract Models for a Literary History(2005).

“Bencana! Tentu saja! Hari penghakiman terakhir! Omong kosong! Kalianlah bencananya, kalianlah hari penghakiman terakhir yang terkutuk itu, kaki kalian bahkan tak menyentuh tanah, kalian sekelompok orang yang berjalan sambil tidur.” — László Krasznahorkai(71), The Melancholy of Resistance(1989).

Pada tahun 384 SM di kota Stagira, Yunani, wilayah Chalcidian League, lahir seorang filsuf, Aristoteles.

Dari lelaki yang pernah mengajari putra Dinasti Alexandria di Mesir kuno, kelak dikenal sepanjang sejarah pencetus sejarah bahasa(Retorika) dan sastra(Puitika) yang bisa dibaca terjemahaman dalam Inggris maupun Indonesia.

Salah satunya, The Poetics of Aristotle:Translated with a Critical Text(Alihbasa Inggris, S.H. Butcher, 1895) yang mengulas:

„Puisi secara umum tampaknya muncul dari dua sebab, yang masing-masing berakar dalam sifat manusia. Yang pertama adalah bahwa imitasi(mimesis) adalah hal yang alami bagi manusia sejak kecil… Yang kedua adalah bahwa semua manusia senang meniru(creatio).

Tinggalkan Aristoteles bersama teori klasiknya itu — creatio(δημιουργία) dan mimesis(μιμητικός) — dan masuk pada paruh perempat kedua awal: 2026.

Dan tahun 2025 menandai sebuah titik balik yang dramatis dalam sejarah kesusastraan dunia. 

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan penetrasi kecerdasan buatan(AI), sastra tetap menunjukkan kedigdayaannya sebagai ruang refleksi, meski wajahnya kian berubah. 

Nobel Sastra tahun ini dianugerahkan kepada László Krasznahorkai, novelis asal Hungaria yang lahir tahun 1954 dan melahirkan genre sastra prosa apokalips, kritik sosial dan paranoia. 

Karya-karyanya, di antaranya The Melancholy of Resistance(1989) hingga Seiobo There Below(2008), menegaskan reputasinya sebagai penulis dengan prosa panjang, kompleks, dan apokaliptik, yang menggambarkan dunia dalam ketegangan antara kehancuran dan pencarian makna. 

Untuk tingkat regional, BRICS tak kalah pamor menganugerahkan Literary Innovation Award kepada Denny JA, pencetus genre baru puisi esai, sebuah bentuk yang menggabungkan narasi puitis dengan argumentasi analitis, menandai inovasi khas dari Asia dalam lanskap global.

Refleksi atas capaian ini tidak dapat dilepaskan dari sejarah kritik sastra abad ke-20. 

Dirujuk Northrop Frye(1912-1991), dalam Anatomy of Criticism(1957) menegaskan pentingnya struktur mitos dan arketipe dalam memahami karya sastra. 

Frye, kritikus sastra, pendidik yang aktif sebagai profesor di Victoria College dan University of Toronto, juga seorang pendeta di United Church of Canada, dapat dikutip menulis:

„Sastra, seperti matematika, adalah bahasa, dan bahasa itu sendiri tidak mewakili kebenaran, meskipun dapat menyediakan sarana untuk mengungkapkan sejumlah kebenaran.“

Selain itu, Julia Kristeva(84) dengan Revolution in Poetic Language(1974) membuka jalan bagi intertekstualitas dan semiotika feminis.

Kristeva, aktif sebagai filsuf, kritikus sastra, semiotikus, psikoanalis, feminis, dan novelis, serta berstatus profesor emerita di Université Paris Cité di Prancis, ini pun dirujuk: 

„Dengan menolak membatasi signifikansi bahasa pada maknanya – untuk hanya melihatnya sebagai sistem representasi – Kristeva menekankan materialitas bahasa, pada kondisi-kondisi kemunculannya.”

Sementara itu, Mikhail Bakhtin(1895-1975) dalam The Dialogic Imagination(1975) menekankan dialogisme dan heteroglossia sebagai hakikat bahasa sastra. 

Dalam dialog imajinasi Bakhtin menyimpulkan:

“Dalam bahasa, kata sebagian merupakan milik orang lain. Kata itu menjadi 'milik sendiri' hanya ketika penutur mengisinya dengan maksud dan aksennya sendiri, ketika ia menggunakan kata tersebut, menyesuaikannya dengan maksud semantik dan ekspresifnya sendiri.”

Ketiganya membentuk fondasi kritik modern yang menempatkan sastra sebagai medan pertemuan ide, struktur, dan suara yang beragam.

Memasuki abad ke-21 paruh awal, kritik sastra mengalami transformasi besar. 

Diawali dengan merujuk Vincent B. Leitch(81), Profesor Emeritus di University of Oklahoma, dalam Literary Criticism in the 21st Century: Theory Renaissance(2014) menegaskan kebangkitan teori dalam bentuk interdisipliner. 

Dalam bukunya, Kritik Sastra Abad 21, Leitch menekankan: 

“Teori tidak menghilang tetapi telah terlahir kembali dalam bentuk interdisipliner, melintasi batas-batas antara sastra, filsafat, studi budaya, teori politik, dan ilmu-ilmu sosial.”

Berikut kritik mutakhir, Rita Felski(69), kritikus sastra dan profesor bahasa Inggris di University of Virginia, melalui Uses of Literature(2008) dan The Limits of Critique(2015) menggeser fokus dari kecurigaan hermeneutik menuju keterhubungan emosional dan sosial pembaca dengan teks. 

Dan kini, lewat Franco Moretti dengan Graphs, Maps, Trees(2005) memperkenalkan distant reading, sebuah metode yang memanfaatkan data besar dan algoritma untuk membaca pola literer secara luas, menandai pengaruh era digital dalam studi sastra. 

Semua ini menunjukkan bahwa kritik sastra tidak lagi hanya berurusan dengan teks sebagai objek statis, melainkan dengan jaringan data, algoritma, dan interaksi pembaca dalam ruang digital.

Kalaedioskop kesusastraan 2025 memperlihatkan bagaimana kanon sastra aksara yang berabad-abad menjadi pusat imajinasi kini digeser oleh kanon sastra digital, produk AI, atau cyberliterary works. 

Dari Moretti, kritikus sastra, sejarawan literatur, dan profesor emeritus di Stanford University, ditunjukkan bahwa kesusastraan era digital menghadapi tantangan utama dengan dua pergeseran.

Kedua pergeseran(literary shift), dari pembacaan dekat(close reading) menuju pembacaan jauh(distant reading), ribuan teks kesusastraan dipetakan dan dianalisis dengan bantuan data, algoritma, dan visualisasi.

Karya-karya yang lahir dari mesin, dengan algoritma yang mampu meniru gaya, struktur, bahkan emosi, melesat cepat dan nyaris menghapus peran pengarang sebagai subjek imajinasi psikologis manusia. 

Namun, di tengah ancaman ini, penghargaan kepada Krasznahorkai dan Denny JA menegaskan bahwa manusia masih mencari suara otentik, baik dalam prosa apokaliptik maupun dalam inovasi genre baru. 

Sastra di era digital dan AI bukan sekadar kehilangan pengarang, melainkan sedang bernegosiasi ulang tentang makna kreativitas, otoritas, dan imajinasi. 

Tahun 2025 menjadi saksi bahwa kesusastraan, dalam segala bentuknya, tetap menjadi ruang perlawanan, refleksi, dan pencarian makna di tengah dunia yang semakin dikendalikan oleh algoritma.

#coversongs:

Siren Song adalah puisi karya Margaret Atwood(86), novelis, penyair, kritikus sastra, serta penulis esai adal Kanada yang pertama kali dirilis dalam kumpulan puisi You Are Happy(1974). 

Puisi ini kemudian sering dibacakan ulang dalam berbagai bentuk “literary melodies” karena mengandung nuansa musikal dan mitologis. 

Artinya merujuk pada mitos Yunani tentang nyanyian Siren yang memikat pelaut menuju kehancuran.

Akan tetapi, Atwood menafsirkannya sebagai jeritan minta tolong dari sang Siren sendiri, sehingga membalikkan mitos klasik menjadi refleksi tentang gender, bahasa, dan kekuasaan.

#credit foto: Potret diri di ReO Bibliothek Kokima Hill yang diubah dengan bantuan AI.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.