![]() |
- Inspirasi dari film Eleanor the Great, 2025
Oleh Denny JA
Komunitas itu terpana dua kali.
Pertama, ketika mereka mendengar kisah sedih Eleanor. Dengan suara tenang namun bergetar, ia bercerita sebagai seorang penyintas Holocaust.
Kata-katanya mengalir rapi, penuh penghayatan, seolah luka itu baru saja terjadi kemarin.
Ia menggambarkan rumah yang dirampas, jeritan para tawanan yang disiksa, dan wajah-wajah keluarga yang lenyap satu per satu, seperti foto yang perlahan memudar dalam ingatan.
Paling lama Eleanor berhenti pada kisah adiknya. Bocah itu ditarik dari pelukan ibunya. Tangannya yang kecil sempat meraih udara, mencari sesuatu yang tak pernah lagi ditemukan.
Eleanor bercerita tanpa air mata. Justru di sanalah para pendengar menangis. Keheningan menjadi bahasa yang paling jujur.
Namun keterpanaan kedua jauh lebih menghantam.
Anak dan cucu Eleanor masuk ke ruangan. Mereka berjalan menghampiri sang ibu.
Di depan orang banyak, putrinya memarahi Eleanor. Dengan suara patah, ia berkata kepada komunitas yang hadir bahwa kisah itu palsu.
Yang diceritakan Eleanor bukan pengalaman hidupnya, melainkan kisah sahabatnya yang sangat ia cintai, Bessie Stern.
Bessie adalah penyintas Holocaust yang telah menemani Eleanor selama puluhan tahun.
Mereka hidup berdampingan, saling menjaga, saling mengisi hari-hari tua dengan percakapan kecil, tawa sederhana, dan kesetiaan tanpa syarat.
Ketika Bessie wafat dalam pelukan Eleanor, dunia seolah runtuh perlahan.
Sejak hari itu, Eleanor tanpa sadar mengenakan identitas orang lain sebagai cara bertahan dari kehilangan yang tak tertanggungkan.
Bukan untuk menipu, melainkan untuk tetap hidup.
-000-
Saya menonton film ini di pesawat, dalam perjalanan menuju World Economic Forum 2026.
Salah satu kegemaran saya ketika terbang delapan, enam belas, bahkan dua puluh empat jam adalah menonton film. Tidur hanyalah selingan di antara layar yang menyajikan kisah manusia, luka manusia, dan cara manusia bertahan dalam sejarah.
Film ini diperankan dengan hening oleh June Squibb, disutradarai oleh Scarlett Johansson, dan ditulis oleh Johansson, Cohn, Silverstein.
Tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ada hanya kejujuran yang dibiarkan bernapas, pelan, apa adanya, dan terasa natural.
-000-
Eleanor adalah perempuan tua yang hidup tenang bersama sahabatnya, Bessie Stern. Bessie bukan sekadar teman. Ia adalah keluarga pilihan, tempat Eleanor menyimpan rahasia, tawa, dan rasa aman.
Dalam hidup yang panjang dan sederhana, Bessie menjadi poros. Seseorang yang mengisi hari bukan dengan janji, melainkan dengan kehadiran.
Bessie adalah saksi hidup atas masa lalu yang gelap. Ia penyintas Holocaust. Sementara Eleanor adalah pendengar setia yang tak pernah berpaling.
Bertahun-tahun Eleanor mendengarkan kisah tentang kamp, tentang keluarga yang diambil paksa, tentang ketakutan yang terpahat di hati bahkan setelah perang berakhir.
Eleanor tidak pernah menginterupsi. Ia menyimpan cerita itu seperti menyimpan sesuatu yang suci.
Ketika Bessie wafat, Eleanor kehilangan pusat hidupnya. Kesedihan datang tanpa suara, tetapi menyelimuti segalanya.
Rumah terasa terlalu besar, hari-hari terlalu panjang, dan keheningan berubah menjadi musuh yang tak kenal ampun.
Dalam upaya melanjutkan hidup, Eleanor pindah ke kota lain dan tinggal bersama anak perempuannya.
Namun perpindahan itu tidak menyembuhkan. Eleanor tetap murung dan sepi. Ia duduk lama di kursi, menatap jendela, berbicara seperlunya.
Anak perempuannya melihat sang ibu perlahan menghilang dari kehidupan. Dengan lembut, ia menganjurkan Eleanor mencari teman, keluar dari rumah, dan bergabung dengan sebuah komunitas.
Eleanor pun bergabung dengan komunitas yang mempertemukan para penyintas Holocaust dan para pendengar yang ingin belajar mengingat.
Di sana, ia bertemu seorang jurnalis muda, penuh empati dan rasa ingin tahu. Hubungan mereka tumbuh perlahan, seperti jembatan antara generasi, antara luka lama dan perhatian baru.
Dalam sebuah sesi perkenalan, setiap orang diminta memperkenalkan diri dan menceritakan hal yang paling melukai hidup mereka.
Ketika giliran Eleanor tiba, ia ragu. Lalu, dengan suara pelan, ia mulai berbicara. Ia bercerita tentang Holocaust. Tentang kamp. Tentang adik yang direnggut dari pelukan ibu. Tentang keluarga yang tak pernah kembali.
Ia tidak berkata, “Sahabat saya mengalami ini.”
Ia berkata, “Saya.”
Komunitas mendengarkan dengan hormat. Untuk pertama kalinya setelah lama, Eleanor merasakan sesuatu yang hampir hilang: makna dan rasa didengarkan.
Cerita itu memberinya tempat di dunia. Cerita itu memberinya napas.
Namun cerita yang terus diulang, pelan-pelan berubah menjadi identitas. Eleanor tidak lagi sekadar menyampaikan kisah Bessie. Ia menjadi kisah itu sendiri.
Ia berbicara sebagai aku yang lain. Kamera mengikuti perubahan halus ini melalui cara ia berdiri, menatap, dan bernapas.
Tidak ada kebohongan yang teatrikal. Yang ada hanya pergeseran sunyi antara empati dan pengambilalihan.
Konflik memuncak ketika keluarga Eleanor datang dan mengetahui apa yang terjadi. Putrinya, yang selama ini hidup dalam bayang-bayang kebohongan kecil sang ibu, tidak sanggup menerima pemalsuan besar itu.
Pertengkaran terjadi di ruang publik. Bagi sang putri, ini soal kebenaran. Bagi Eleanor, ini soal bertahan hidup.
Eleanor dipaksa memilih: mempertahankan identitas pinjaman yang memberinya makna, atau kembali pada diri sendiri yang rapuh dan sepi.
Di akhir film, Eleanor mengakui segalanya. Ia tidak meminta pengampunan. Ia tidak membela diri. Ia hanya mengembalikan cerita kepada pemiliknya.
Dalam keheningan yang panjang, Eleanor akhirnya berduka dengan jujur. Bukan sebagai penyintas Holocaust, melainkan sebagai manusia yang kehilangan sahabat, cinta terbesarnya.
Film berakhir dengan kelegaan. Karena kebenaran, betapapun menyakitkan, adalah satu-satunya rumah yang layak dihuni.
-000-
Secara visual, Scarlett Johansson memanfaatkan pencahayaan lembut dan ruang kosong untuk menegaskan kesepian Eleanor.
Setiap komposisi bingkai menjadi meditasi visual tentang kehilangan, keheningan, dan pencarian makna hidup.
Lama saya merenungkan film itu. Mengapa kita mengidentifikasi diri dengan orang lain? Dan ini tidak hanya terjadi pada Eleanor, melainkan di banyak lingkungan kita.
Eleanor sendiri merasa mendapat pembenaran batin ketika mendengar dari seorang pendeta kisah Yakub dalam Kitab Kejadian.
Yakub menyamar sebagai Esau. Ia memakai pakaian kakaknya, menutupi tangan dengan kulit kambing, dan berbicara atas nama orang lain demi memperoleh berkat ayahnya.
Identitas pinjaman itu menyelamatkan masa depannya, tetapi memaksanya hidup dalam pelarian dan pergulatan batin panjang.
Kisah ini menyingkap harga moral dari penyamaran demi makna hidup.
Buku The Drama of the Gifted Child karya Alice Miller menjelaskan bagaimana manusia sejak kecil belajar bertahan dengan menyesuaikan diri pada harapan orang lain.
Ketika emosi asli tidak diterima, kita menciptakan diri pengganti yang lebih mudah dicintai. Identifikasi dengan orang lain menjadi strategi bertahan hidup.
Dalam kasus Eleanor, identitas Bessie menjadi ruang aman bagi duka yang tak pernah mendapat tempat.
Miller menunjukkan bahwa penyembuhan hanya mungkin ketika seseorang berani kembali pada perasaan aslinya: marah, sedih, rapuh, tanpa topeng yang menenangkan namun menipu.
Sementara itu, buku Man’s Search for Meaning karya Viktor E. Frankl menulis bahwa manusia dapat bertahan dalam penderitaan ekstrem jika menemukan makna.
Namun makna yang dipinjam bisa menyesatkan. Eleanor menemukan makna dalam kisah Bessie, sebuah makna yang nyata, tetapi bukan miliknya.
Frankl mengingatkan bahwa makna sejati lahir dari tanggung jawab personal terhadap hidup sendiri. Ketika makna itu diambil alih, identitas pun ikut terseret.
Film ini menjadi peringatan lembut tentang batas tipis antara empati dan pelarian diri.
-000-
Pada akhirnya, film ini bukan tentang kebohongan. Ia tentang cinta dan kehilangan. Tentang betapa kadang kala rasa sakit terlalu besar untuk ditanggung sendirian, sehingga kita meminjam nama orang lain untuk bernapas.
Namun hidup menagih keberanian paling sunyi: berani menjadi diri sendiri, meski tanpa cerita heroik.
Karena hanya dengan identitas kita sendiri, luka dapat sembuh. Dan cinta, meski telah pergi, dapat dikenang tanpa harus menyamar.***
Jakarta, 28 Januari 2026
REFERENSI
1. The Drama of the Gifted Child, Alice Miller, Basic Books, 1979
2. Man’s Search for Meaning, Viktor E. Frankl, Beacon Press, 1959
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World
https://www.facebook.com/share/182ocybk2j/?mibextid=wwXIfr

