![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Konsumsi kopi telah berubah menjadi budaya gaya hidup, yang diturunkan dari generasi ke generasi, di mana tindakan minum kopi bukan lagi tentang kebutuhan, melainkan lebih tentang identitas konsumtif.” — Richard Lee(40) dkk., The Influence of Western Consumerism on Eastern Culture: A Consumer Behaviour Perspective(2026)
Kopi hari ini bukan sekadar minuman, melainkan simbol dari kapitalisme global yang menjelma dalam bentuk lapak-lapak konsumsi mendunia seperti Starbucks, Fore, dan ratusan warung kopi modern lain yang menjamur di setiap sudut kota.
Fenomena ini dapat dibaca sejak sosiolog George Ritzer(83) menulis The McDonaldization of Society(1993) sebagai proses rasionalisasi konsumsi cepat saji yang menekankan efisiensi, prediktabilitas, kalkulabilitas, dan kontrol.
Hingga kini, lewat jejaring dan digitalisme, antara lain sejak proyek McDonaldisasi dijejal, filsafat konsumerisme diajukan sebagai tahapan bagaimana proses kerja kapitalisme lanjut global semakin mendominasi berbagai sektor konsumsi masyarakat di seluruh dunia dipasok sekaligus diatur dalam budaya niaga.
Kopi yang dahulu merupakan komoditas perdagangan kolonial, kini hadir sebagai gaya hidup — di mana secangkir latte bukan lagi sekadar cairan hitam pekat — melainkan tanda status sosial, identitas urban, dan bahkan simbol keanggotaan dalam komunitas konsumer global.
Sejarah perdagangan kopi sebagai komoditas kolonial menjadi bagian dari sistem kapitalisme awal yang menunjukkan bahwa kopi sejak abad ke-17 telah menjadi medium pertukaran ekonomi sekaligus arena pertarungan ideologi.
Dari kedai-kedai kopi di Istanbul hingga London, atau dari Thiam sampai Kenanga, kopi menjadi ruang diskusi politik, filsafat, dan ekonomi sekaligus bisnis mesum maupun ilegal.
Namun, dalam kaidah kapitalisme kontemporer ruang itu direduksi menjadi sekadar tempat singgah yang diatur sedemikian rupa oleh logika pasar.
Selanjutnya, Martyn J. Lee(64), Senior Lecturer di Coventry University, Inggris, UK, lewat Consumer Culture Reborn(1993), menekankan bahwa kopi, seperti komoditas lain, bukan hanya minuman untuk fungsi biologis, tetapi meluas sebagai praktik budaya yang menandai gaya hidup dan identitas sosial.
Kritik budaya Lee juga menunjukkan bagaimana konsumsi global kopi telah bergeser dari pengalaman sosial menjadi ritual konsumerisme —di mana identitas dibentuk bukan oleh isi cangkir — melainkan oleh logo yang melekat pada gelas kertas.
Selain itu, kritik atas fenomena ini — Das Kopitalisme“ — mengingatkan kita pada Karl Marx sejak Das Kapital pada awal abad-19 jadi rujukan utama filsafat ekonomi — telah ikut menegaskan bahwa komoditas tidak pernah netral.
Kopi adalah komoditas yang sarat fetisisme, di mana nilai guna terserap oleh nilai tukar, dan aroma kopi terselubung oleh aura merek.
Dari Starbucks hingga Fore bukan sekadar penyedia minuman, melainkan pabrik tanda yang menjual pengalaman, gaya hidup, dan citra modernitas bahkan pseudo-religiositas.
Konsumsi kopi global hari ini adalah bentuk nyata dari kapitalisme lanjut. Sebuah filsafat ekonomi yang menandai bahwa setiap tegukan adalah partisipasi dalam sistem yang mengubah kebutuhan menjadi keinginan, dan keinginan menjadi mesin produksi keuntungan.
Mengacu dari Krisis Legitimasi(1975; Qalam 2004) Habermas(96), late capitalism(kapitalisme lanjut), dalam penjelmaan „Das Kopitalisme“, merupakan siklus penganiayaan kebudayaan selera(consumer culture) —de gustibus disputandum — yang dipasok dari tiga kaidah komodifikasi: produksi, distribusi dan konsumsi(PDK)
Dengan kata lain, seruput plesetan „Das Kopitalisme ” dalam konteks kopi adalah refleksi bahwa secangkir espresso di tangan kita bukan hanya hasil dari biji yang dipetik di Ethiopia atau Sumatra, melainkan juga hasil dari jaringan global kapitalisme yang mengatur tatanan PDK.
Meminjam kritik semiotik terhadap kopi sebagai tanda menunjukkan bahwa yang kita minum bukan sekadar cairan untuk keperluan mekanisme biologis, melainkan simbol dari bio-konsumerisme global.
Dan akhirnya, kopi telah menjadi teks yang harus dibaca, bukan hanya diminum, karena di dalamnya terkandung narasi tentang kolonialisme, kapitalisme, dan konsumerisme yang terus berulang dalam sejarah manusia.
#coversongs:
Lagu “Back For Good” dari Take That dirilis pada 27 Maret 1995. Lagu ini ditulis oleh Gary Barlow(54).
Terkait kopi, lirik “lipstick marks still on your coffee cup” menandai kenangan intim yang masih tertinggal—jejak kecil dari seseorang yang sudah pergi, menjadi simbol kehilangan, kerinduan, dan keinginan untuk kembali bersama.
#creator gambar diambil dari tayangan Youtube Seruput Kopi Cokro TV.

