Type Here to Get Search Results !

Ahmad Damanhuri, Dari Surau untuk Kecerdasan Masyarakat

Damanhuri ketika mewawancarai David Chalik, Ketua Laznas Syarikat Islam 

Anak nomor dua dari sembilan bersaudara ini memulai jadi wartawan sejak awal reformasi. Terinspirasi dari tulisan orang hebat di Majalah Media Dakwah dan Republika yang sering dibacanya ketika mondok di Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan (1993-1998). Secara kebetulan pula, pesantren itu berlangganan Media Dakwah, yang dikirim langsung oleh penerbitnya dari Jakarta. Lima tahun mondok di pesantren yang diasuh oleh Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah ini, Damanhuri merupakan santri pindahan, yang sebelumnya mondok di Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Kabupaten Tanah Datar, dari 1988-1993).

Masih di zaman Orde Baru. Nama pesantren itu belum tenar benar. Lazim dan familiar waktu itu surau. Akhir zaman Presiden Soeharto itu, Padang Magek menempatkan anak siak yang datang dari Padang Pariaman, Teluk Kuantan, Provinsi Riau, Solok, Tanjung Simaludu, Jambi, Sijunjung dan daerah lain di tiga surau. Yakni, Surau Baru, Surau Tabiang, dan Surau Tungga. Ketiga surau ini terletak di Guguak Gadang, Padang Magek. Pesantren ini didirikan oleh Syekh Salim Malin Kuniang 1940 an.

Damanhuri diantar mengaji oleh ayahnya, mendiang Ali Ibrahim ke Padang Magek punya sejarah dan catatan khusus. Ayahnya di Padang Magek itu pula mengajinya dulu, sampai tamat melanjutkan ke Sekolah Persiapan IAIN di Limo Kaum. Selama di Luhak Nan Tuo itu, orang tua Damanhuri ini punya kesan tersendiri. Punya seorang kawan yang hebat di kelasnya. Ahmad Damanhuri nama kawannya itu. Saat belajar itu, ayahnya membatin, "kelak bila punya anak laki-laki akan diberinya nama Ahmad Damanhuri". 

Di dua pesantren itu Damanhuri mengikuti pendidikan ala surau. Di pesantren, belajar sepanjang hayat berlaku dan sudah menjadi kekuatan pula sejak dulunya. Disebut belajar sepanjang hayat, karena saat kita naik tingkat menjadi guru tuo, belajar juga namanya. Yakni belajar jadi guru. Jadi pengurus Organisasi Santri Intra Pesantren (OSIP), kita belajar juga namanya. Belajar mengurus orang banyak, mengurus proses belajar mengajar santri yang banyak. Di Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, Damanhuri agak lebih banyak belajar "memimpin" ini. Dari 1993-1998 itu, Damanhuri pernah jadi Sekretaris, Wakil Ketua dan Ketua OSIP.

Secara formal, Damanhuri tamat kelas tujuh atau "marapulai kaji" di Madrasatul 'Ulum itu tahun 1995. Dia termasuk marapulai kaji terakhir, yang ijazahnya ditandatangani oleh Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah. Pertengahan 1996, di separo jalan marapulai berikutnya, Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah wafat.

NU dan Perti 

Adalah tahun 1994. Nahdlatul Ulama (NU) Padang Pariaman menggelar Konferensi Cabang (Konfercab). Pimpinan Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, H. Iskandar Tuanku Mudo merupakan warga NU. Berbeda dengan Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah, Syaikhul Ma'ad Madrasatul 'Ulum yang konsen dan kokoh dengan Perti. NU dan Perti sepertinya punya pengaruh tersendiri di pesantren yang berdiri 1940 M ini. Di tahun ini, Iskandar Tuanku Mudo melibatkan seluruh majlis guru untuk ikut menyukseskan Konfercab NU yang digelar selama dua hari di Gedung Saiyo Sakato di Pariaman. Dalam Konfercab, Iskandar Tuanku Mudo terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Padang Pariaman.

Peristiwa ini, sepertinya menjadi cikal-bakal Damanhuri bisa masuk dan dikader di NU. Tahun 2002, Damanhuri mengikuti pengkaderan NU se Sumatera Barat di Padang, dan tahun itu juga dia mengikuti Pendidikan Kader Lanjutan (PKL) GP Ansor se Sumatera di Lampung Timur, Provinsi Lampung. Berbekal sertifikat pengkaderan itu pula, periode 2007-2011, Damanhuri jadi Ketua GP Ansor Padang Pariaman, setelah sebelumnya menjadi Sekretaris. GP Ansor adalah Badan Otonom NU yang lahir 1934 di Banyuwangi, Jawa Timur. Damanhuri ikut Mukhtamar NU ke 31 tahun 2004 di Solo, Jawa Tengah, Kongres GP Ansor 2005 dan 2011 di Jakarta dan Surabaya.

Sementara, tahun 1994 itu Perti Sumatera Barat menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di salah satu sekolah Tarbiyah di Kabupaten Limapuluh Kota. Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah ikut dan diundang ke situ. Bersama Buya Buchari Rauf, Syekh Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah membawa santri senior, Afredison. Perti adalah ormas yang lahir di Minangkabau tahun 1928, dua tahun setelah NU lahir 1926 di Jawa Timur. Perkembangan berikutnya, banyak tokoh Perti yang bergabung dengan NU. Termasuk di Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan sendiri, para santri dan guru tuo banyak yang bergabung dengan kedua ormas itu.

Tahun 1998, Damanhuri tidak lagi tinggal di pondok. Tapi masih berkiprah di surau. Dari Lubuk Pandan dia pindah ke Lubuk Idai, Nagari Koto Tinggi, memulai kehidupan baru setelah dari pesantren. Bersama Latiful Khabir Tuanku Kaciak, Damanhuri membuka usaha kedai nasi, di halaman Masjid Raya Lubuk Idai. Kedai nasi ini merupakan cikal bakal hadirnya Pondok Lesehan Lubuk Idai di Padang, Bukittinggi dan di sejumlah tempat lainnya. Merasa tak betah di Lubuk Idai, Damanhuri mencoba merubah peruntungan baru ke Padang. Tapi tidak berkedai nasi. Di Ulak Karang, Damanhuri belajar mencetak foto kilat lima menit siap. Hebatnya, belajar itu hanya sebentar. Selesai belajar, langsung buka. Kerja cetak foto lima menit siap terasa mengasyikkan, terutama masa-masa penerimaan mahasiswa baru. Selesai penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi, kerja cetak foto kembali sepi. Ada kawan mengajak kerja kuli membuat pelabuhan Tua Pejat di Mentawai. Sempat sebulan di pulau itu bekerja kuli bangunan.

Sampai tahun 2005, Damanhuri aktif di sejumlah surau. Setelah dari Lubuk Ida, pindah ke Duri, Provinsi Riau. Seorang pemilik rumah makan besar di Kandih, Duri meminta dia menghidupkan surau yang dibangun pemilik rumah makan itu. Tak lama di Duri, dia pindah dan pulang kampung. Mengajar mengaji di kampung sebentar, lalu pindah ke Ulakan. Di Padang Toboh ini, tepatnya awal tahun 2000, Damanhuri melanjutkan mengajar anak mengaji, sambil mengantar koran seminggu sekali. Koran Padang Pos.

Mesin Tik Desa Padang Toboh

Di samping sering membaca majalah dan koran semasa di pondok dulunya yang menginspirasi Damanhuri jadi wartawan, ketokohan Amiruddin, Zakirman Tanjung dan Fadril Aziz Isnaini Infai, termasuk menginspirasi paling nyata. Zakirman Tanjung tiap Jumat di Masjid Raya Lubuk Pandan. Namanya disebut oleh pengurus, karena rajin bersedekah di masjid itu.

"Zakirman Tanjung, wartawan Canang, seribu rupiah," begitu pengurus menyebutkan tiap Jumat di Masjid Raya Lubuk Pandan tahun 1990 an. Damanhuri nyaris pula tiap Jumat di situ shalatnya. Peristiwa ketika pengurus menyebut nama Zakirman Tanjung itu menjadi inspirasi tersendiri. Inspirasi ketika tahu dan mengenal sosok seorang wartawan, sering pula bersedekah. Agak acap Damanhuri membatin, memimpikan seorang wartawan yang tidak kenal tulisannya saja, tetapi juga aktif melakukan pergerakan di tengah masyarakat.

Amiruddin adalah adik ayahnya Damanhuri. Kala itu, saat Damanhuri mondok di Lubuk Pandan, kampungnya Zakirman Tanjung, Amiruddin ini terkenal sedang jadi wartawan Haluan. Tahun 1999, Damanhuri sepulang dari Mentawai, sudah mulai pulih dari sakit yang panjang, diajak oleh Amiruddin mengantar koran langganannya. Tepatnya, koran mingguan Padang Pos masih terbit di edisi keenam, Damanhuri mengantar sebagian langganan Padang Pos itu di Padang Pariaman. Tahun pertama, Padang Pos terbilang media baru yang eksis, sehingga HUT perdana digelar dengan meriah pula. Damanhuri dinobatkan sebagai loper terbaik satu dalam HUT itu.

Pasca HUT perdana, Padang Pos menggelar rapat kerja di Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman. Di sana, Infai selaku pimpinan perusahaan Padang Pos meminta Damanhuri untuk terjun ke dunia wartawan. Kisi-kisi membuat berita diuraikan Infai, sampai minta target, pekan depan harus kirim satu berita. Damanhuri agak terkejut juga. Maklum, dalam bergabung dengan Padang Pos itu dia belum pernah menulis berita. Tulisan dia ada di Padang Pos itu banyak berupa opini. Di sini, karena lumayan dekat dengan Kepala Desa Padang Toboh, Syahruddin, Damanhuri meminjam sebuah mesin tik milik desa tempat Damanhuri mengabdi di surau. Berita dan tulisan diketik dengan mesin tik ini, lalu dititip saja ke Amiruddin, Kepala Perwakilan Padang Pos di Piaman. Mesin tik cukup berkesan, dan cukup lama dipinjam, sehingga agak leluasa menggunakan laptop setelah peristiwa itu. Peristiwa, di tengah mesin tik kian tak lagi digunakan. Komputer sudah banyak. Wartel pun berubah jadi warnet, berita tak lagi butuh diantar ke Padang, cukup lewat email.

Ketika Semangat Demokrasi terbit tiga kali sepekan, Damanhuri sempat pula bergabung di koran itu. Tapi tak lama. Sebab, Mingguan Media Nusantara akan hadir. Tak pula bertahan lama, Media Nusantara berubah nama jadi Media Sumbar. Redaksi berpindah dari GOR Agus Salim ke Terandam III. Media Nusantara berubah menjadi Media Sumbar, itu rentang 2002-2005. Rentang itu pula Damanhuri sering mengikuti Karya Latihan Wartawan (KLW) dan ujian keanggotaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ada dua kali ikut KLW dan ujian itu. Sekali lulus sekali tidak lulus. Terbit kartu biru PWI pada tahun 2003 dengan status Calon Anggota yang dikeluarkan oleh PWI Sumatera Barat. Karena tidak lulus sekali, kartu biru berubah dan tidak lagi pakai Calon Anggota. Tapi tetap PWI Sumbar yang mengeluarkan. Baru tahun 2006 ikut ujian kenaikan status dan KLW, lulus dan berubah menjadi anggota biasa dengan nomor kartu 04.00.12554.06B.

Damanhuri resmi jadi anggota biasa ini sedang bergabung dengan Tabloid Publik. Tabloid mingguan yang dipimpin mendiang AA Datuak Rajo Djohan ini ingin jadi Tempo-nya Sumatera Barat. Mendiang Edi Martawin yang mengajak Damanhuri untuk gabung dan memperkuat Publik di Piaman, sekaitan Media Sumbar sudah agak tersendat jalannya. Dua tahun lamanya, 2005-2007 Damanhuri aktif di Publik. Singkat, tapi melewati sejumlah peristiwa besar yang tersua dalam dirinya.

Adalah peristiwa di PWI Padang Pariaman periode 2000-2005 yang tak kunjung melakukan konferensi. Ketua PWI Padang Pariaman waktu itu mendiang Ahsin Sulaiman yang akrab dan familiar namanya Indra Nan Sabaris, Sekretaris Indra Sakti. Tak juga konferensi, PWI Sumbar dibawah Pimpinan Muftie Syarfie dan Khairul Jasmi, Ketua dan Sekretaris mengundang seluruh anggota PWI Padang Pariaman ini ke Padang. Dasar wartawan punya banyak kegiatan, hanya tiga orang yang tiba di PWI Sumbar dari Pariaman. Nasrun Jon, Amiruddin dan Damanhuri. Kehadiran orang ini ditunggu oleh Ketua Muftie Syarfie dan Wakil Ketua Bidang Organisasi, Infai.

Berdebat, berdiskusi ia pula, terkait belum konferensi di Piaman. Akhirnya, PWI Sumbar menerbitkan surat mandat. Mungkin karena yang paling kecil, belum punya hak suara dalam memilih, masih memegang kartu biru dari PWI Sumbar, mandat itu ditujukan ke Damanhuri. Mandat sekaligus meneguhkan ketua panitia konferensi. Mandat diberikan dan berlaku satu tahun, tapi dalam lisan diminta bergerak cepat melakukan konferensi. Sebab, organisasi profesi wartawan tertua di republik itu sudah tidak punya legalitas, SK kepengurusan Padang Pariaman sudah habis masa berlakunya.

Setelah mandat diberikan, Damanhuri bergerak cepat. Langsung rapat di PWI Padang Pariaman, bentuk kelengkapan panitia konferensi, lalu konferensi. Konferensinya terbilang meriah dan sukses. Ketua Umum PWI Pusat, Tarman Azzam tiba di penghujung konferensi. Menariknya, dalam konferensi banyak calon ketua, sehingga dinamika berjalan dengan irama tersendiri. Yang maju jadi calon ketua kala itu, Amiruddin, Syamsu Arman, Dedi Salim. Pemilihan ketua dalam konferensi dimenangkan Dedi Salim, untuk masa bakti 2006-2009. Dalam menyusun pengurus, Infai yang mewakili PWI Sumbar sebagai anggota tim formatur, menjadikan Damanhuri sebagai Sekretaris. Demikian itu pertama di lingkungan PWI kabupaten dan kota, yang pengurus harian dijabat oleh anggota muda.

UKW dan sering ganti media

Ayah dua putri ini, sejak mulai jadi wartawan sering gonta-ganti media. Penyebabnya, di samping media yang tertatih-tatih hidupnya, media baru pun tumbuh dengan sangat banyak. Dari 2000 sampai sekarang, Damanhuri itu tercatat pernah sebagai wartawan Padang Pos, Semangat Demokrasi, Media Nusantara, Media Sumbar, Publik, harian Bersama, harian Singgalang, Serru.com, Minangkabaunews.com, Sigi24.com. Sebagai orang pesantren, Damanhuri mendirikan mu-online1.com, sebuah media online yang banyak menerbitkan tulisan keagamaan, pesantren dan kisah-kisah ulama.

2013, Damanhuri ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di harian Singgalang, dengan Lembaga Pers Dr. Soetomo, jenjang wartawan muda. Lulus, sertifikatnya ditandatangani Ketua Dewan Pers waktu itu Prof. Bagir Manan. Kemudian, dalam rentang waktu yang panjang setelah itu, tepatnya 2024, UKW lanjutan untuk tingkat madya atau kelas redaktur diikuti Damanhuri di Padang bersama PWI. Kemelud di PWI Pusat membuat hasil kelulusan peserta UKW yang lewat PWI ini pun terhalang. Setahun, 2025, baru sertifikat kelulusan diberikan oleh Dewan Pers setelah PWI selesai menjalani kemelud, sehingga sertifikat kelulusan UKW Madya Damanhuri dengan nomor 3851-PWI/Wdya/DP/VII/2024/03/10/75 ditandatangani Prof. Komaruddin Hidayat, padahal saat UKW 2024, Ketua Dewan Pers adalah Ninik Rahayu.

Kegigihan Ikhlas Bakri 

Ketua PWI Pariaman Ikhlas Bakri dinilai Damanhuri sebagai sosok yang paling getol dan gigih menyuruh wartawan Piaman untuk ikut UKW ini. Bagi dia, wartawan itu penting dan perlu mengikuti UKW. Tak sekedar mendorong, Ikhlas pun memastikan wartawan itu ikut UKW, diantar sampai ke tempat UKW, didampingi, kapan perlu didoktrin dulu sebelum UKW. "Sepanjang bisa kita rekomendasikan, kawan wartawan ini harus ikut UKW. Sampai di Jakarta sekalipun UKW, kita antar ke situ," kata Ikhlas Bakri.

2024 dan 2025, Ikhlas Bakri menembus daerah lain. Sejumlah wartawan Sumatera Barat direkomendasikannya ikut UKW di Provinsi Riau. "Riau tak terlalu jauh dari Pariaman, dan tidak pula dekat. Sepanjang bisa kawan kita ikut UKW, tak ada salahnya kita antar sekalian," sebutnya. Hebatnya, kawan yang direkomendasikan Ikhlas Bakri ini nyaris semua lulus UKW.

Kuliah, menulis buku, dan ancaman 

Pria kelahiran 1975 ini sampai sekarang masih wartawan aktif. Sepertinya, profesi wartawan tidak sekedar pilihannya, tetapi dia merasa Tuhan sudah menakdirkannya untuk terus jadi wartawan. Sejak awal, niat jadi wartawan adalah ingin mengamalkan ilmunya yang didapatkan di pesantren. Bahwa wartawan bukan profesi untuk mencari kekayaan, sudah diketahuinya. Dia merasa beruntung, saat ikut beberapa kali KLW di lingkungan PWI Sumbar, dimentori oleh wartawan hebat. Dari Fakhrul Rasyid, dia banyak belajar cara menulis laporan dan investasi mendalam, dari Khairul Jasmi dan Eko Yanche Edrie, Damanhuri mengadopsi penulisan feature yang bagus yang disertai dengan data yang lengkap serta menulis buku.

Sementara, Infai mengajarkannya dasar, kaedah jurnalistik dan berorganisasi dan ber PWI. "Utang denai lunas. Denai berjanji mendatangkan Tarman Azzam ke konferensi PWI, dan itu sudah terwujud," kata Infai saat akan meninggalkan PWI Pariaman usai konferensi tahun 2006 itu.

Makanya, ketika Damanhuri ditugaskan Singgalang mengikuti kunjungan kerja anggota DPRD Kota Pariaman ke Yogyakarta tahun 2010, kunjungan kerja DPRD Padang Pariaman ke Bali tahun 2017 dan 2018, lancar saja menuliskan laporan itu satu halaman. Begitu juga laporan jurnalistik ketika diikutkan dalam studi tiru walinagari se Padang Pariaman ke Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2015. 

Damanhuri telah mengabadikan sejumlah tulisannya menjadi buku. Tahun 2025 kemarin, dua judul buku Damanhuri diluncurkan di Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuak Pua, yakni buku "Boleh Pulang ke Rumah Tapi tak Bisa Tidur dengan Istri" dan "Menantang Arus Menuai Asa, Biografi Ahmad Yusuf Tuanku Sidi". Diterbitkan oleh Pustaka Artaz. Buku pertama merupakan kumpulan tulisan feature yang pernah dimuat di Singgalang.

Semangat menulis buku, Damanhuri mengakui terinspirasi dari tokoh wartawan hebat, Khairul Jasmi, Armaidi Tanjung dan Yurnaldi. "Bahwa puncak jadi wartawan harus bisa menulis buku, sementara puncak karir seorang adalah mampu jadi pimpinan redaksi". 

Sebelum buku yang dua itu, Damanhuri juga telah menulis buku secara sendiri dan berkolaborasi. Seperti buku "Moderat dan Disiplin, Biografi Syekh Abdullah Aminuddin (1908-1996), yang diterbitkan Kalista Padang tahun 2020, sementara buku "Gempa Dahsyat Sumatera Barat" adalah buku ditulis bersama tahun 2010, diterbitkan Harian Singgalang.

Bagi Damanhuri, kerja jadi wartawan adalah profesi yang menantang. Mencerdaskan kehidupan masyarakat. Kesiapan untuk itu, oleh Damanhuri terus dilakukan. Bahwa wartawan harus tahu dulu baru bertanya, menjadi catatan tersendiri dalam buku diarinya. Sering dapat pujian, pun acap dapat ancaman, teror, intimidasi adalah vitamin bagi wartawan dalam melakukan kontrol sosial di tengah masyarakat.

Suatu ketika Damanhuri menulis feature, tentang seorang pelajar yang lulus di kedokteran UIN Syarif Hidayatullah, tapi terhalang biaya yang kurang. Tulisannya menyebar dan cepat dibaca banyak orang, karena terbit di halaman depan. Berkat tulisan itu, anak ini dapat beasiswa dan dapat bantuan. Artinya, tulisan ini hadir terasa sekali solusinya bagi yang diberitakan. Keluarga anak itu tidak sekedar berterima kasih pada wartawan yang menulisnya, tapi juga dapat sambutan dari lembaga yang kesulitan menyerahkan bantuannya untuk anak kurang mampu.

Di lain hari, muncul pula tulisan Damanhuri yang menyoroti perasaian seorang janda beranak lima, yang lama mendiami kandang kambing. Rumahnya runtuh oleh gempa 2009, lalu kandang kambing di sebelah rumahnya masih utuh, lapang pula, sehingga dengan terpaksa janda itu menempatinya. Pas di hari terbit berita itu, janda tersebut didatangi oleh Ketua TP PKK Provinsi Sumatera Barat. Tangis haru tiba-tiba menghinggapi janda itu, sambil menerima bantuan istri Prof. Marlis Rahman itu.

Pasca gempa 2009, lumayan banyak tulisan feature yang menyoroti masalah kemanusiaan itu ditulis Damanhuri. Hebatnya, feature yang menulis masalah kesulitan hidup masyarakat, penyelewengan bantuan oleh oknum camat, dan lainnya langsung dirasakan solusinya oleh objek berita. Demikian itu, menjadi kepuasan batin tersendiri bagi Damanhuri. Seperti, peristiwa di Lubuk Alung pascagempa 2009, seorang ahli waris menerima uang duka bencana Rp 1,5 juta. Seharus menerima Rp 2,5 juta. Pas ketika beritanya terbit, bergegas orang kantor Camat Lubuk Alung menghubungi ahli waris tersebut, dan memenuhi semua bantuan sesuai petunjuk.

Berita kontrol sosial yang menghasilkan ancaman, pernah pula ditulis Damanhuri. Dampaknya luar biasa pula dirasakan Damanhuri. Ada kasus "Kandang Rasul" di VII Koto Sungai Sariak. Berita terbit di halaman depan Harian Singgalang. Lama sekali ibu-ibu yang mengelola kelompok "Kandang Rasul" itu mengata-ngatai Damanhuri lewat telpon. Bahkan sampai mengancam, mengadukan ke polisi.

Lain pula pahitnya ancaman seorang anggota KPU Padang Pariaman yang terbukti menghamili orang, lalu perempuan itu berkisah panjang lebar dengan Damanhuri, jadi berita, judulnya, "Akibat Coblosan Anggota KPU, Sianu Menggugurkan Kandungannya". Anggota KPU ini marah besar, sampai menulis SMS, "Awas kami, kemana pun kamu lari, saya kejar". 

Begitu juga saat pergantian Ketua Padang Pariaman dari Wiriya Fansuri ke Suharti Bur. Damanhuri yang sering menyimak dinamika di internal KPU itu, ikut pula terseret. Karena konflik sampai ke polisi, pemberitaan yang ditulis Damanhuri pun dijadikan sebagai jalan memutus perkara. Sempat Damanhuri hadir memenuhi panggilan polisi.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.