![]() |
oleh ReO Fiksiwan
Akibat Slilit Sang Kiyai(1)
Sepiting kayu tetangga
kupakai
untuk mengorek sisa daging
di sela gigi
habis kondangan
Muridnya bermimpi
wajah sang kiyai memerah
persis cahaya api neraka
dan tak sanggup menahan
siksaan lebih dari slilit
yang menyelip di sela gigi
Bukan itu, soalnya, kata kiyai
dalam mimpi
sepiting kayu itu
aku ambil dari pagar bambu
tetangga
tanpa permisi
itu jadinya,
sepiting kayu yang kuambil
tanpa izin
telah menyempitkan kuburanku
dan cahaya neraka lebih panas
dari air 100% derajat pembalakan
dan pembakaran
Lalu, aku melihat gambar-gambar
lebih mengerikan dari kisah
slilit sang kiyai
karna orang-orang
enggan pulang dari kondangan
aku melihat para pejabat
anggota parlemen
para gubernur
para bupati
para walikota
sampai kepala desa
memandang langit tanpa suara
batin mereka tersiksa
oleh keniscayaan kuasa
atas alam
atas fauna dan flora
pesta mereka bak kencana
surga di bawah tumpukan
air bandang
deras menerjang
melumpuhkan seluruh hasrat
yang dipumpun dari istana
kantor menteri
dan gedung parlemen
hingga balai desa
lumat
menelan jutaan satwa
dan hutan-hutan jutaan area
dengan tangis ribuan warga
kehilangan nyawa
harapan
janji
yang culas di ujung kampanye
setelah itu
hasrat lain segera menyerbu
menghimpun kekayaan alam
di saku celana
di brankas
di rekening gendut
di korporasi raksasa
ganas
rakus
dan maha serakah
aku rubuh di antara tubuh-tubuh
mati
atau digerus banjir
tertimbun jutaan glondongan
kayu-kayu hutan
habis dibabat
cinsaw seberat tiga pesawat herkules
tangis itu tiba-tiba hilang
hanya kuburan masal
penuh lumpur
dan eskapator
dengan gerigi lebih tajam
dari bisa kobra
dengusnya meracau
menutup telinga para sekutu
oligarki
negara
dan para pejabat
aku sedikit menggeliat
di antara tubuh mati
di atas tumpukan kayu glondongan
di Aceh dan Sumatra
di atas hati mati
para petinggi negeri
yang mulut dan kulitnya
membengkak bak sariawan
kepedihan itu
bencana ini
kehancuran itu
dan tanda-tanda ini
bukan tulah
ia rasi kualat
dari kebohongan yang ditutupi
dari kebenatan yang disingkir
aku menutup wajahku
bukan malu dan hina
di hadapan kencana istana
dan dunia
aku mau mati
karna malu
sedalam-dalamnya
sederas-derasnya
pada pengirim bencana besar ini
aku malu pada kezalimanku
sendiri
karna tahu
surga manapun
tak pantas menampungku
dan neraka kelak
lebih dahsyat
dan keras
melumat semua ampas
keserakahan
dari bisikan
maut jin dan iblis
(1) Diinspirasi dari buku, Slilit Sang Kiai(1991), Emha Ainun Najib(72).
#coverlagu: Lagu “Kemarau” oleh Prambors Band pertama kali dirilis tahun 1978 dalam album Jakarta Jakarta.
Bisa dimaknai sebagai refleksi sosial-ekologis tentang musim kering, kekeringan, banjir dan dampaknya bagi kehidupan masyarakat, sekaligus metafora tentang kegersangan batin dan keresahan manusia

