Type Here to Get Search Results !

Hadirkan Watak Tokoh di Dalam Diri Pembaca

Oleh Anto Narasoma

MENULIS puisi, cerita pendek, novel, serta esai sastra dengan kualitas menarik, siapa pun bisa melakukannya. Namun harus diakui, untuk menjadi penulis dengan kualitas yang diharapkan, perlu dilakukan secara terus-terus, sehingga kita dapat menerapkan kualitas dengan ciri kepribadian sendiri*.

------

Tradisi menulis tak hanya membutuhkan bakat dan keinginan untuk menciptakan karya yang menarik, tapi dibutuhkan kemampuan untuk menelaah ide dan gagasan --lewat alam di sekitar kita.

Sebab, secara esensi, kita membutuhkan perkembangan wawasan bagi pengembangan dan kekayaan ide penulisan.

Seperti dikemukakan penulis Rusia *Maxim Gorky* dalam _City of the Yellow Devil_, "hantu" paling menakutkan bagi penulis adalah keterbatasan wawasan. Karena keterbatasan wawasan itulah hasil karya kita menjadi sempit dan isi yang ditampilkan penuh keterbatasan.

Wawasan kita memang harus kita kembangkan dengan banyak membaca, melihat suasana di luar diri kita, secara ekstrinsik kita juga perlu membubuhi tulisan kita dengan berbagai ungkapan menarik.

Seperti menulis puisi, misalnya, ada beragam poin yang perlu kita bubuhi secara esensial ke dalam tujuan puisi. Sebab tujuan puisi yang kita terjemahkan melalui simbol-simbol yang kuat, akan menarik perhatian pembaca.

Tentu saja, pendekatan kejiwaan dan pendekatan falsafah di antara kalimat-kalimat yang kita urai akan menerjemahkan isi yang diungkap secara intensi.

Dalam puisi, kita juga perlu menggunakan bahasa sastra yang memikat. Misalnya, harus menggunakan bahasa puitis dengan ritme dan rima yang kuat.

Tentu saja, daya ungkap tulisan puisi dapat membangun efek emosional yang kuat bagi pembaca. Secara pribadi, saya pernah menulis puisi bertajuk "_*Pintu-Pintu Kakus di Mulutmu*_. 

Banyak penulis muda yang bertanya, apakah pintu-pintu kakus itu sama dengan ruang mulut seseorang?

Meskipun pertanyaan ini terdengar konyol, tapi saya memberi tafsiran yang lebih cerdas secara filosofis. Sebab, di balik kalimat itu tersimpan estetika yang kompleks dan kuat secara imageri.

Karena itu saya kemukakan bahwa imajinasi seseorang akan diajak untuk masuk ke dalam simbol-simbol secara metapora.

_*Pintu-Pintu Kakus di Mulutmu*_ merupakan puisi yang berisi kritik sosial. Bahkan jika kita sadari bahwa dengan menggunakan larik seperti itu dapat dianggap satu karya yang berpengaruh dalam menciptakan kritik sosial secara politis.

Dari isi puisi tersebut, mengandung kritik sosial yang tajam terhadap praktik korupsi, kebohongan, dan penindasan sosial.

Terus terang saja, puisi ini secara halus menyinggung peran pemerintah untuk memberantas praktik korupsi yang sudah sangat merajalela.

Coba kita perhatikan simbol-simbol yang kuat seperti di pedalaman hutan yang gundul. Bahkan kehidupan masyarakat di sekitar kejadian tidak berdaya menghadapi perbuatan pengusaha kotor untuk merusak pepohonan yang ada.

Imageri yang kuat seperti itu, diungkap dengan imaji yang kuat dan provokatif, seperti "bangkai-bangkai tikus comberan", "potongan kayu dan pepohonan yang tumbang", serta "air mata ibuku pun mengamuk", memberi kesan yang menggambarkan emosional ke dalam pikiran pembaca.

Memang, kita perlu membangun pengalaman yang kuat agar isi dan tujuan puisi itu bisa membakar emosi pembaca.

*Cerpen*

        Apakah pola penulisan cerita pendek (cerpen) sama dengan menulis puisi? Tentu saja sangat berbeda.

Yang paling dinantikan pembaca ketika ia masuk ke dalam substansi isi cerita adalah karakter dan situasi kisahan yang disukai pembaca.

Seperti isu keberanian, kesabaran, atau kebaikan hati dari satu tokoh yang ada di dalam cerita yang kita tulis.

Selain itu, ada tokoh seseorang yang dilanda kesulitan hidup, dengan kelemahan karakter, sehingga pembaca dapat merasakan kesusahan dan kesulitan tokoh yang ditampilkan dalam cerita tersebut.

Seperti dikemukakan sastrawan Francis -- *Emile Zola* di dalam novelnya bertajuk _Theresa Requin_, konflik yang kuat di dalam cerita bisa membangkitkan emosi pembaca. Sebab *Emile Zola* pandai membawa emosi pembaca ke dalam cerita yang dikisahkannya.

Konflik cerita memang sangat menentukan sikap pembaca. Apabila mereka telah tenggelam ke dalam uraian cerita yang dikisahkan, emosinya akan bergejolak.

Apalagi karakter tokoh di dalamnya dapat membantu membakar emosi pembaca setelah mereka karam ke dalam emosi karakter melalui aksi cerita, dialog-dialog yang tajam, serta uraian kisah secara deskripsi.

Apalagi jika sebagai penulis kita pandai meramu (menghadirkan) _plot twist_ yang memberi kejutan, sehingga kita biss membuat pembaca tidak puas untuk membaca cerita pendek itu berkali-kali. (penulis adalah sastrawan dan jurnalis senior)

Palembang

1 November 2025

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.