![]() |
oleh ReO Fiksiwan
„Bisnis yang baik bukan hanya soal keuntungan, tapi soal bagaimana kita memperlakukan orang lain dengan adil dan penuh kasih.” — Rich DeVos(90), pendiri perusahaan Amway dalam Compassionate Capitalism(Gramedia, 1995).
Dalam artikelnya yang reflektif, Cak AT(Ahmadie Thaha), Ilāf Quraisy, mengangkat Surah Quraisy sebagai pintu masuk untuk memahami akar spiritual ekonomi dalam Islam.
Surah pendek ini, yang terdiri dari empat ayat, menyiratkan bagaimana perjalanan dagang Quraisy ke Yaman dan Syam menjadi fondasi stabilitas sosial dan spiritual di Makkah.
Namun, tafsir ini perlu diperluas dan dikritisi secara reflektif, terutama ketika dikaitkan dengan wacana kapitalisme Islam yang lebih kompleks secara historis dan sosiologis disertai mencermati sepak terjang dunia kontemporer, „New VOC“ Danantara dengan bendahara negara RI, Menkeu, Purbaya Yadhi Sadewa((61).
Surah Quraisy(Makkiyah 106) bukan sekadar pujian atas mobilitas ekonomi, tetapi juga pengingat bahwa kemakmuran tidak berdiri sendiri.
Ia bergantung pada stabilitas politik, spiritualitas, dan solidaritas sosial. Di sinilah kritik reflektif terhadap tafsir yang terlalu memuja semangat dagang Quraisy menjadi relevan.
Ketika perdagangan dijadikan simbol keberkahan tanpa mempertimbangkan struktur keadilan, maka kita berisiko menjadikan wahyu sebagai pembenaran atas sistem ekonomi yang eksploitatif.
Dalam Islam and Capitalism(1966; LP3ES,1984) karya Maxime Rodinson(1915-2004), Islam tidak diposisikan sebagai anti-kapitalis atau pro-kapitalis secara inheren.
Rodinson menunjukkan bahwa Islam tidak menghalangi akumulasi kekayaan, tetapi menekankan keadilan sosial, zakat, dan larangan riba sebagai penyeimbang.
Ia juga mengutip Surah Quraisy sebagai bukti bahwa aktivitas ekonomi telah menjadi bagian dari kehidupan religius sejak awal Islam.
Namun, Rodinson menolak menjadikan itu sebagai pembenaran atas kapitalisme modern yang tidak mengenal batas etika.
Kapitalisme dalam bentuknya yang ekstrem adalah struktur relasi kuasa yang bisa bertentangan dengan nilai-nilai egalitarian Islam.
Maka, semangat Quraisy harus dibaca bukan sebagai glorifikasi pasar bebas, tetapi sebagai pengingat bahwa ekonomi harus tunduk pada etika wahyu.
Max Weber(1864-1920) dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism(1905; Terjemahan 2002), menjelaskan bagaimana etika kerja Protestan, terutama Calvinisme, melahirkan semangat kapitalisme modern: disiplin, rasionalitas, dan akumulasi sebagai tanda keselamatan.
Jika kita bandingkan dengan Islam, maka pertanyaannya adalah apakah Islam memiliki etika kerja serupa yang mendorong kapitalisme.
Jawabannya kompleks. Islam mendorong kerja keras, kejujuran, dan tanggung jawab sosial.
Namun, tidak seperti Calvinisme yang melihat kekayaan sebagai tanda rahmat Tuhan, Islam justru mewajibkan redistribusi kekayaan melalui zakat dan larangan penimbunan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar: Islam bukan kapitalisme yang religius, melainkan religiusitas yang mengatur kapitalisme.
HOS Cokroaminoto(1982-1934(, dalam gagasan Sosialisme Islam(1924;2024) menolak kapitalisme kolonial yang menindas rakyat.
Ia menekankan bahwa Islam mengajarkan persaudaraan, keadilan, dan distribusi kekayaan yang adil.
Bagi Cokro, Islam bukan sekadar agama, tapi ideologi pembebasan dari sistem ekonomi yang menindas.
Dalam konteks ini, Surah Quraisy bukan hanya tentang perdagangan, tetapi tentang keamanan kolektif yang memungkinkan masyarakat hidup bermartabat.
Spirit kapitalisme Islam versi Cokroaminoto adalah kapitalisme yang dibatasi oleh solidaritas sosial dan nilai-nilai kenabian.
Bryan S. Turner(80), profesor di Australian Catholic University dan Associate di Yale University, dalam Islam and Weber: The Sociology of Religion(Terjemahan 1992), menyoroti bahwa Weber gagal memahami kompleksitas Islam sebagai sistem sosial.
Islam tidak bisa disamakan dengan Protestanisme karena memiliki struktur hukum(syariah) yang mengatur ekonomi secara ketat.
Turner menekankan bahwa Islam memiliki etika ekonomi sendiri, yang tidak tunduk pada logika kapitalisme Barat.
Spirit kapitalisme Islam bukanlah adopsi mentah kapitalisme Barat ke dalam tubuh Islam. Ia adalah upaya kritis untuk menundukkan logika pasar kepada nilai-nilai wahyu.
Surah Quraisy, jika dibaca secara historis dan sosiologis, bukan sekadar legitimasi dagang, tetapi pengingat bahwa ekonomi harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya. Maka, tanggapan atas artikel Cak AT bukan penafian, tetapi perluasan.
Kita perlu melampaui romantisme Quraisy dan masuk ke wilayah kritik struktural: bagaimana kapitalisme bisa menjadi alat pembebasan jika dan hanya jika ia tunduk pada etika Islam.
Jika tidak, maka ia hanya menjadi topeng baru dari penindasan lama.
Kapitalisme Islam bukan soal semangat berdagang, tapi soal keberanian menolak lupa: bahwa ekonomi tanpa etika adalah kekuasaan dan keserakahan tanpa jiwa.
#soundtrack: Lagu "Arabian Nights“(2019) dari film Aladdin versi live-action dirilis oleh Walt Disney Records pada 22 Mei 2019 sebagai bagian dari Aladdin(Original Motion Picture Soundtrack).
Komposer Alan Menken, lirik Howard Ashman, Benj Pasek, Justin Paul; vokal Will Smith(sebagai Genie) dan soundtrack "Arabian Nights" ini sangat penting sebagai pembuka cerita dan pengantar suasana dunia fiksi Agrabah.
Lagu ini bukan sekadar hiburan, tapi memiliki fungsi naratif dan simbolik yang kuat serta memperkenalkan penonton pada dunia Timur Tengah yang eksotis, penuh misteri, keajaiban, dan petualangan.

