![]() |
Oleh: Ririe Aiko
Ada hal-hal kecil dalam hidup yang sering kita abaikan, sampai akhirnya terasa begitu berharga ketika sudah terlambat. Bagi saya, hal kecil itu adalah sebuah foto kebersamaan dengan almarhum ayah. Saya tak pernah memiliki kesempatan untuk mengabadikan momen berharga bersamanya, karena beliau telah pergi ketika usia saya masih sangat muda.
Ya, begitulah hidup. Kadang ia merenggut sesuatu yang paling berharga tanpa memberi aba-aba, tanpa memberi kita kesempatan untuk bersiap. Saya kehilangan ayah di usia yang masih begitu muda, terlalu dini untuk benar-benar mengerti arti perpisahan, namun cukup dalam untuk merasakan kesedihan jangka panjang.
Sejak itu, banyak momen besar harus saya jalani tanpa kehadirannya. Tidak ada foto ayah yang tersenyum bangga ketika saya menyelesaikan pendidikan. Tidak ada sosoknya di samping saya saat merayakan pencapaian yang dulu ingin sekali saya perlihatkan padanya. Yang tersisa hanyalah bayangan samar dalam ingatan, rekaman kenangan yang perlahan kabur seiring waktu.
Pada tahun 2000-an, foto tidak semudah hari ini. Handphone kala itu belum dilengkapi kamera canggih yang bisa mengabadikan momen setiap saat. Tidak ada selfie instan, tidak ada ribuan gambar di galeri digital. Karena itulah, saya jarang sekali memiliki foto bersama almarhum ayah. Jika saja saya tahu waktu yang saya miliki dengannya begitu singkat, mungkin saya akan berusaha membuat lebih banyak kenangan, sekecil apa pun itu.
Namun kini, adanya kecanggihan kecerdasan buatan (AI) memberi ruang untuk menebus penyesalan kecil itu. Dengan meng-upload foto lalu membuat prompt secara detail, mampu menciptakan potret yang diinginkan. Foto yang terasa mustahil, kini bisa dimiliki, meski hanya dalam bentuk rekayasa digital.
Bagi sebagian orang, mungkin itu sekadar gambar buatan. Namun bagi saya, itu adalah jembatan untuk merawat rindu. Foto itu tidak akan pernah benar-benar menggantikan kehadiran ayah, tetapi ia mampu menghadirkan sedikit kehangatan, seolah saya bisa kembali merasakan momen yang tidak bisa saya miliki bersama almarhum Ayah.
AI, dalam konteks ini, bukan hanya sekedar teknologi, ia hadir sebagai penolong bagi mereka yang pernah kehilangan tanpa sempat mengabadikan kebersamaan. Ia memberi kesempatan kedua untuk mimpi-mimpi kecil yang terasa mahal: punya foto bersama orang terkasih yang sudah tiada.
Namun, pada akhirnya teknologi ini tetap harus digunakan dengan penuh etika. Ia bukanlah alat untuk mencari sensasi, apalagi sarana melanggar privasi dengan menciptakan gambar yang tidak pantas tanpa izin pemilik wajahnya seperti foto dengan aktor idola yang banyak bermunculan di media sosial saat ini.
Kehadiran AI seharusnya menjadi jembatan untuk merawat kenangan bersama orang terkasih, dan karena itu sudah semestinya digunakan dengan bijak serta penuh rasa hormat.
At this point, saya benar-benar memahami betapa pentingnya mengabadikan momen bersama orang-orang yang kita cintai. Sebab kita tidak pernah tahu kapan mereka akan pergi. Dan untuk kenangan yang sempat terlewat, AI bisa memberi kesempatan untuk mengobati sebuah kerinduan meski hanya lewat sebuah foto.

