Type Here to Get Search Results !

Paul Somalingi, Jejak Sunyi Sang Arsip Kehidupan

oleh ReO Fiksiwan

“Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” — Roma 14:7–8

Dalam senyapnya lembaran waktu — belum lebih dari 100 hari berpulangnya rekan sekerjanya, Stella Warouw — satu nama lagi kini tinggal dalam kenangan: Paul Somalingi, wartawan dan editor, Koran dan Penerbit Buku Sinar Harapan pada 1980-an, yang mengabdikan hidupnya pada kata-kata, arsip, dan makna. 

Ia bukan sekadar penjaga berita, tetapi penjaga jejak—seorang arsiparis telaten di zaman ketika setiap potongan koran disusun dengan tangan, setiap naskah disunting dengan mata yang jeli, dan setiap kata dijaga seperti doa.

Paul adalah bagian dari generasi emas Sinar Harapan, koran milik H.G. Rorimpandey yang menjadi mercusuar pemikiran kritis di era 1980-an. 

Di tengah hiruk-pikuk politik dan tekanan zaman, Paul memilih jalur sunyi: menyusun, menyimpan, dan merawat arsip. Ia percaya bahwa sejarah bukan hanya milik para tokoh besar, tetapi juga milik setiap berita kecil yang nyaris terlupakan. 

Dalam dunia yang belum mengenal digital, Paul adalah algoritma manual yang tak pernah lelah.

Namun, hidup Paul bukan hanya tentang koran dan buku. Di balik meja redaksi, ia menemukan cinta—dengan cara yang tak kalah literer. 

Melalui rubrik biro jodoh di koran yang ia kelola sendiri, ia bertemu Onna Kumaunang (68), gadis Minahasa lulusan Fakultas Sastra Unsrat, jurusan antropologi, Angkatan 1977. era Dekan Prof. Drs. E. Tooy. 

Pertemuan mereka adalah kisah yang hanya bisa ditulis oleh tangan takdir: dua jiwa yang bertemu lewat kata, lalu menyatu dalam hidup.

Mereka menikah, menetap di Bumi Bekasi Baru, dan dianugerahi tiga anak. 

Di sana, Paul menjalani hidupnya dengan tenang, jauh dari sorotan, namun penuh makna. 

Ia tetap menulis, menyunting, dan menyimpan—bukan hanya arsip koran, tetapi arsip kehidupan keluarganya. Ia adalah ayah yang tak banyak bicara, tetapi selalu hadir; suami yang tak gemar panggung, tetapi setia pada peran.

Beberapa karyanya, antara lain: Kliping harian Sinar

Harapan era 1980-an; buku memoar atau sejarah

pers. Kami Mantan Wartawan; Koleksi pribadi atau

dokumentasi institusi pers.

Kini, Paul telah berpulang. 

Ia meninggalkan seorang istri yang setia dan anak-anak yang tumbuh dalam nilai-nilai kesederhanaan, ketekunan, dan cinta akan pengetahuan. 

Dalam terang iman, kita percaya bahwa hidup Paul bukan sekadar perjalanan profesional, tetapi juga ziarah spiritual. Ia telah menyelesaikan tugasnya di dunia: menjaga kata, menjaga cinta, dan menjaga jejak.

Dalam refleksi teologis, kita mengenang Paul sebagai sosok yang memahami bahwa hidup adalah teks yang ditulis dengan kesabaran. Ia tidak mencari popularitas, tetapi keutuhan. Ia tidak mengejar sorotan, tetapi kedalaman. 

Dan kini, dalam keheningan, kita membaca kembali hidupnya sebagai sebuah manuskrip yang indah—ditulis dengan tinta kasih, disunting oleh waktu, dan diterbitkan oleh Sang Pencipta.

Selamat jalan, Paul Somalingi. Arsipmu kini abadi dalam hati kami.

*Ditulis sebagai obituari Paul Somalingi. Saya punya andil menjodohkan dengan istri, Onna Kumaunang, kakak Angkatan Sastra 1978.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.