![]() |
oleh ReO Fiksiwan
“Emotions bring the body into the loop of reason.” — António R. Damásio(81), Descartes' Error: Emotion, Reason, and the Human Brain(1994).
Tahun ajaran baru di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sam Ratulangi 2025 dibuka dengan gegap gempita, penuh semangat akademik dan ritual penyambutan yang—meski tak lagi disebut perploncoan—masih menyisakan aroma hierarki sosial yang tak lekang oleh regulasi.
Di tengah barisan mahasiswa baru yang berjejer rapi, satu sosok mencuri perhatian bukan karena tinggi badan, melainkan karena keberanian tampil beda: Moses Sinyal, 18 tahun, asal Sonder, Minahasa.
Tubuhnya mungil, nyaris seperti karakter kaboter dalam mitologi lokal Manado—makhluk liliput yang gesit, cerdik, dan kadang bikin orang dewasa merasa kalah.
Dalam dunia yang terlalu sering mengukur potensi dari penampilan, Moses hadir sebagai gangguan epistemologis: ia merusak asumsi, menantang norma, dan memaksa kita berpikir ulang tentang apa itu “mahasiswa ideal.”
Ketika mikrofon dibuka untuk perkenalan, Moses melangkah maju dengan percaya diri yang tak sebanding dengan ukuran tubuhnya.
“Tubuh boleh kerdil, asal otak cerdas,” katanya, dengan nada yang tak meminta simpati, tapi menuntut pengakuan.
Ruangan yang semula riuh mendadak hening, bukan karena Moses lucu, tapi karena ia benar.
Di hadapan sistem pendidikan yang sering kali terlalu sibuk mengklasifikasi, Moses adalah anomali yang tak bisa diabaikan.
Dari sudut pandang neurosains, kecerdasan tidak bersumber dari tinggi badan, panjang kaki, atau lebar bahu.
Otak manusia, dengan 86 miliar neuron, tidak peduli apakah ia berada dalam tubuh setinggi dua meter atau satu setengah.
Neuroplastisitas—kemampuan otak untuk belajar dan beradaptasi—adalah hak biologis setiap manusia, bukan privilese anatomi.
Moses, dengan tubuh liliputnya, adalah bukti hidup bahwa kapasitas intelektual tidak mengenal ukuran.
Namun, sistem sosial kita belum sepenuhnya siap menerima kenyataan itu.
Di kampus, masih ada bisik-bisik, tawa kecil, dan tatapan yang mencoba menyembunyikan rasa heran.
Moses tidak marah. Ia tahu bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tapi juga soal membongkar bias.
Ia datang bukan untuk menjadi simbol, tapi untuk belajar. Dan dalam proses itu, ia mengajar kita semua.
Pedagogi sejati bukanlah tentang menyamakan semua orang, melainkan tentang memberi ruang bagi setiap perbedaan untuk tumbuh.
Moses Sinyal, sang maba liliput dari Sonder, telah membuka semester ini dengan pelajaran pertama: bahwa kecerdasan tidak bisa diukur dengan meteran, dan bahwa kampus adalah tempat di mana tubuh kecil bisa menampung ide besar.
Selamat datang, Moses. Fakultas Ilmu Budaya(FIB), Unsrat, kini punya alasan baru untuk bangga.

