Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Tiga Tingkatan Mulai Puasa Masyarakat Padang Pariaman

Salah satu kelompok Shatariyah di Padang Pariaman yang menggenapkan Syakban 30 hari, dan mereka puasa Selasa. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Awal Ramadhan 1445 H, sepertinya mengalami perbedaan di kalangan umat Islam.

Muhammadiyah sudah jauh hari mengumumkan satu Ramadhan jatuh pada Senin 11 Maret 2024.

Sementara, Nahdlatul Ulama, Ahad 10 Maret 2024 mengumumkan, bahwa hasil rukyatul hilal tidak berhasil. Dengan ini, satu Ramadhan jatuh pada Selasa 12 Maret 2024.

Sebab, ketika hilal atau bulan tidak kelihatan, wajib hukumnya menyempurnakan Syakban 30 hari. Jadi, untuk memulai puasa Selasa itu tak perlu lagi menunggu hilal tampak.

Di Padang Pariaman sendiri, Tuanku Kadhi Ali Amran menyebutkan, bahwa masyarakat Shatariyah telah menetapkan hari melihat bulan, yakni Selasa 12 Maret 2024.

Artinya, satu Ramadhan masyarakat Shatariyah ini jatuh pada Rabu 13 Maret 2024, jika bulan kelihatan. Kalau bulan tak terlihat, seumpama hujan, atau tertutup awan, maka mereka pun menggenapkan, dan memulai puasa Kamis 14 Maret 2024.

Perbedaan cara pandang dan metode dalam menetapkan satu Ramadhan dan satu Idul Fitri, sepertinya hukum alam yang tidak bisa disatukan.

Masing-masingnya punya kaji dan argumen yang kuat, dan menjadi warisan sejak dulunya. Mana yang betul dalam penetapan itu, merupakan ilmu Allah SWT yang bisa menjelaskan.

Tak heran, di kantong-kantong masyarakat Shatariyah ini, Selasa itu masih menggelar kegiatan mengaji pusara.

Sudah menjadi kelaziman pula baginya, bahwa mengaji pusara di situ setiap petang melihat bulan. Sementara, di hari mereka melihat bulan itu, Muhammadiyah sudah dua hari puasanya.

Biasanya, lokasi melihat bulan itu di sepanjang pantai. Terutama di Ulakan, dekat komplek makam Syekh Burhanuddin Ulakan.

Banyak juga yang pergi ke ketinggian, yakni Koto Tuo, Kabupaten Agam, tepatnya di komplek makam Syekh Alumma.

Serta di banyak tempat lainnya di Sumatera Barat. Sepertinya, perdebatan itu terjadi setiap tahun di daerah ini.

Namun, bagi warga Shatariyah itu sendiri, sebagian besarnya sudah banyak yang berubah pula.

Seperti yang "berkiblat" ke Batang Kabung Padang, itu cenderung sama dengan pemerintah. 

Batang Kabung adalah basisnya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang didirikan oleh Syekh H. Salif Tuanku Sutan.

Dan jaringan ini banyak di Padang Pariaman. Syekh H. Salif Tuanku Sutan itu sendiri adalah ulama besar asal Padang Pariaman yang mengajar di Padang.

Tentu dari sekian banyak tingkatan mulai puasa, masyarakat tak perlu bingung untuk memulainya.

Pilihan tersedia dengan baik. Yang tak boleh itu saling menyalahkan. Suami dengan istri beda mulai puasanya, mungkin ada ditemukan.

Artinya, masyarakat Padang Pariaman sudah terbiasa dalam soal perbedaan itu. Maka masyarakat yang mulai puasa Senin, Ahad malam mereka sudah Tarawih di masjid yang sudah shalat bulan puasa itu. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies