Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Ketika Nama Korban Itu Diabadikan

Jemaah Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Padang Pariaman sedang di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. (ist)

Banda Aceh, Sigi24.com--Keluar dari komplek makam Syekh Abdurrauf as-Singkili di Gampong Deyah Raya, Jumat 12 Januari 2024, rombongan Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Padang Pariaman menuju agenda berikutnya.

Shalat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Semuanya ikut ke sana. Jemaah yang dipimpin Amrizal Tuanku Sutan, Nursyamsu alias Bujang, Buya Bustanul Arifin Khatib Bandaro dan Buyung Elok Tuanku Kuniang ini tentu memanfaatkan momen dari perjalanan ziarah Syiah Kuala ini.

Dan sepertinya, Shalat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman ini juga menjadi hal penting dalam rombongan yang setiap tahun ke bumi Serambi Mekkah ini.

Luar biasa dan tentu terasa istimewa. Terutama bagi jemaah yang belum pernah shalat di masjid di jantung kota Banda Aceh tersebut.

Azan Jumat dua kali, khatibnya pakai tongkat, tentu terasa di kampung. Ada persamaan dengan masjid yang berbasis di perkampungan Padang Pariaman, yang menjadi tumbuh dan berkembangnya kelompok Shatariyah di Padang Pariaman.

Shatariyah yang dibawa Syekh Burhanuddin Ulakan, menyebar di sebagian besar ulama di Minangkabau, setelah belajar panjang Syekh Burhanuddin Ulakan dari Aceh bersama Syekh Abdurrauf as-Singkili yang dikenal dengan Syiah Kuala.

Dari Masjid Raya Baiturrahman, jemaah bertolak ke museum gempa dan tsunami. Tapi tempat itu tutup setiap Jumat.

Lalu lanjut ke situs tsunami kapal PLTD apung dan kapal tsunami Lampulo. Yakni kapal terdampar dan kapal tersangkut di atas rumah warga akibat terjangan tsunami.

Ya, situs yang juga memuat dan menulis nama-nama korban tsunami 2004 silam yang gugur dan dalam peristiwa yang sangat dahsyat tersebut.

Ribuan nama bisa dibaca dengan jelas di situ. Mereka gugur bersabung nyawa menghadapi ujian dan musibah yang datang dari Allah SWT.

Tapi, oleh pemerintah kemudian tentunya di data, dan namanya diabadikan. Mereka diabadikan sebagai syahid akhirat.

Terhadap ini, pemerintah patut diberikan apresiasi. Menjadikan sebuah peristiwa sebagai kisah tersendiri. Kisah yang abadi sepanjang masa, karena situs itu dirawat dengan baik.

Padang Pariaman pernah mengalami musibah besar pula. Memang tak sedahsyat tsunami Aceh. Tapi gempa besar 2009, ikut merenggut ratusan nyawa.

Namun, nama mereka yang gugur akibat amukan gempa itu tak diabadikan. Tak ada sebuah situs pun yang mengabadikan korban gempa Cumanak, Tandikek itu.

Sepertinya, penting pembelajaran soal ini. Soal pengabadian nama-nama yang korban akibat musibah.

Pengabadian nama-nama korban serta catatan dan cerita musibah, setidaknya memberikan nilai sejarah tersendiri dalam introspeksi diri.

Evaluasi diri untuk perubahan dan perbaikan, mengingat Allah SWT, bahwa hidup dan kehidupan berjalan atas kuasa Tuhan.

Penting untuk mendalami kajian tauhid dan tasawuf, agar paham kita tidak sesat dan menyesatkan di tengah masyarakat.

Dari kajian dua hal inilah yang membentuk kesalehan dan ketinggian adab. Adab sesama makhluk Tuhan, adab makhluk kepada Tuhan.

Maupun adat sebagai dan antar keyakinan dan keagamaan yang ada di muka bumi ini. Nilai luhur inilah yang menjadi sprit Syekh Abdurrauf as-Singkili atau Syiah Kuala yang dikembangkan oleh Syekh Burhanuddin Ulakan. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies