Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Dari Napak Tilas di Marunggai, Rosman Menjemput Takdir ke DPRD Sumbar

Rosman bercerita sejarah panjang asal usulnya di Marunggai, Nagari Sikucua Barat, Kecamatan V Koto Kampung Dalam. (ad)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Kampung Tingga, tapi berisi. Sebuah kampung dalam Korong Toboh Marunggai, Nagari Sikucua Barat, Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Padang Pariaman.

Bagi Bagindo Rosman Palito Rajo Endah, Kampung Tingga adalah historis tersendiri. Di sinilah asal muasal nenek moyangnya menepati kampung turun dari darek ke rantau Piaman.

Orang-orang di situ menyebut Marunggai dengan Munggai. Umum pengetahuan, bahwa rang Piaman berasal dari darek.

Piaman terkenal sebagai daerah rantau. Pertama adalah rantaunya orang darek, Luhak Nan Tuo, Tanah Datar, Agam dan Luhak Nan Bungsu di Limapuluh Kota.

Rosman yang bersuku Sikumbang dibawah payung panji Datuak Rajo Endah berulayat di Padang Olo, Sungai Limau ini bermula dari Kampung Tingga Marunggai ini.

Itu jelas, dan tak dibuat-buat. Jadi, sejarahnya dari darek, Tabek Patah, Tanah Datar, nenek moyang Rosman turun ke rantau Piaman, menetap di Marunggai ini.

Dari Marunggai menyebar ke Sungai Geringging dan Sungai Limau. Nah, ibunya Rosman bernama Hj. Rosma, masa kecilnya merantau dan menepati mandenya di Katapiang, dan Rosman yang anggota DPRD Padang Pariaman tiga periode ini lahir dan besar di Katapiang.

Tahun 1965 Ketua Fraksi PAN DPRD Padang Pariaman ini lahir ke dunia, sekaligus membawa beban sejarah yang sarat dengan nilai perjuangan.

Di perantauan Katapiang dan Lubuk Alung Rosman berkarir setelah tumbuh dewasa. Namun, sejarah kampung, sasok jeraminya tak pernah hilang dalam memorinya.

Alek baik dan buruk selama ini terjalin dengan baik, terutama dengan Padang Olo dan Sungai Geringging. Dengan Marunggai, meskipun sudah tahu di situ asal pertamanya, tapi Rosman belum bisa secara total ke sana.

Kamis 4 Januari 2024, Rosman yang Caleg DPRD Sumbar nomor urut empat di Dapil II, Padang Pariaman dan Kota Pariaman ini datang ke Marunggai.

Datang yang kedua kalinya. Waktu pertama datang ke sana, pas di momen perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw di sebuah surau di Marunggai itu.

Di Marunggai sudah banyak tokoh masyarakat yang menanti kedatangan Rosman. Tentu dunsanak, mamak, kemenakan dan adik-adiknya yang menunggu.

Di surau sedang berlangsung wirid tetap masyarakat setempat, yakni "sembahyang empat puluh". Lazim di perkampungan Padang Pariaman ini, setiap menjelang puasa masuk, para orang tua dari kalangan bundo kanduang menetap di surau selama 40 hari, mereka ikut sembahyang empat puluh dinamakan.

Marunggai, Nagari Sikucua Barat ini berjarak sekitar 23 kilometer dari ibu kota kecamatan, 48 kilometer dari ibu kota kabupaten dan 76 kilometer dari ibu kota provinsi.

Tapi malam itu, Rosman memilih jalur Pilubang untuk sampai di Marunggai. Rosman dan rombongan berangkat sore dari Batang Sariak Katapiang, dan singgah dulu di Padang Galo, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau.

Tepatnya di kampung istrinya Rosman. Di situ mantan Walinagari Pilubang Kaidir yang sekaligus mamak istrinya Rosman menjadi tapatan.

Lama di Padang Galo, membahas berbagai strategi untuk menghadapi helat 14 Februari, khusus pemenangan Caleg PAN untuk DPRD Sumbar dari Piaman, Rosman.

Intinya, menikam jejak, pertautan ipar bisan, andan pasumandan, dunsanak, karib kerabat, tak bisa dielakkan adalah "modal dasar" untuk langkah besar kedepan bagi Rosman.

Tiga periode di DPRD Padang Pariaman, Rosman tersebut sebagai orang yang sukses di rantau. Tak bisa berbuat banyak untuk kampung halaman sendiri, karena keterbatasan ruang gerak.

Supaya bisa secara total bergerak, menjangkau kampungnya Rosman di Sungai Limau, Sungai Geringging dan V Koto Kampung Dalam, Rosman harus hadir dan berkiprah di DPRD Provinsi Sumatera Barat.

Itulah yang dilakukannya untuk helat lima tahun sekali pada musim Pemilu tahun ini. Dia maju ke Sumbar. 

Doa, dukungan dan tentunya pilihan pada 14 Februari dari tanah leluhurnya Rosman akan sangat berarti, dan menjadikan dia menjemput takdirnya ke Sumbar.

Ya, takdir sebagai anggota dewan provinsi, takdir untuk bisa maksimal mengabdi untuk kampung halaman tercinta.

Kenapa demikian! Rosman yakin bahwa kekuatan doa dari banyak dunsanak membuat dia sembuh dari penyakit.

Beberapa bulan yang lewat, Rosman jatuh sakit. Sakit yang lumayan berat, sampai dua bulan lebih tak bisa melihat.

Enam dokter di Bukittinggi dan Pekanbaru pesimis terhadap Rosman untuk bisa bangkit dan pulih.

Tapi Tuhan punya cara tersendiri terhadap hamba-Nya. Rosman terkenal sebagai tokoh besar di Katapiang. Dia punya banyak anak angkat.

Anak angkat itu disekolahkan, bahkan sebagiannya sudah bekerja. Oleh masyarakat yang hidupnya susah, Rosman adalah tempat mengadu, tempat bersalang tenggang.

Banyak masyarakat mengalami kesulitan, terlunta-lunta di rumah sakit, Rosman dengan ringan tangan cepat kaki, memberikan pertolongan.

Tapi sekarang, sudah mulai normal. Sudah bisa kembali membaca pesan yang masuk ke alat komunikasinya.

Doa yang banyak, pesimis dokter menjadi kekuatan tersendiri, sehingga berubah jadi optimis. Optimis untuk bisa kembali.

Ya, niatnya untuk menjangkau kampung asal, memberikan yang terbaik, sepertinya menunggu momen 14 Februari. Insya Allah, Rosman adalah spesial anggota dewan terpilih.

Rosman tak pernah menebar janji. Tapi, ketika sudah jadi wakil rakyat, dia pun secara total berbuat untuk masyarakat.

Dan tiga kali atau sudah masuk 14 tahun di DPRD Padang Pariaman, pengabdiannya kepada masyarakat tetap secara total.

Banyak cerita dan kisah terpinggirkan dikadukan ke Rosman oleh masyarakat Marunggai malam itu. Cerita soal fasilitas umum, seperti jalan dan pembangunan masjid yang susah untuk dimajukan.

Cerita Kampung Tingga. Lihatlah ke sana. Benar-benar tertinggal, tapi kampungnya ada penghuni. 

Oleh masyarakat yang disampaikan langsung oleh seorang Muncak, Rosman yang disapanya Ajo, supaya bisa datang ke Munggai agak sekali lagi menjelang 14 Februari.

"Kalau bisa siang, sehingga sekampung bisa hadir masyarakat. Sebab, ini tentunya bagaikan sanak kemanakan yang kembali ke kampung," ujar Muncak itu.

Seiring Rosman tak memberikan janji, oleh Muncak juga disebut, masyarakat Marunggai juga tidak menjanjikan ke anak kemenakannya, tetapi langsung saja momen 14 Februari. (ad/red)


Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies