Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Sapaan Tuo Itu Masih Kental di Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah

Prof Mahfud MD dalam acara Halaqah Kebangsaan dan Pengukuhan Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Sumbar. (ist)

Padang, Sigi24.com--"Baa Tuo, lah lamo tibo," kata Mesra Labai Marajo, seraya menyalami kami yang baru tiba, tapi tak langsung ke dalam ruangan acara.

Mesra Labai Marajo ini, satu dari sekian banyak kawan dan pengurus Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Sumbar yang ikut dilantik dan dikukuhkan, Ahad 17 Desember 2023 di asrama haji Tabing Padang.

Hari itu, Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Sumbar yang dipimpin Buya Mashendri Malin Sulaiman dan Bustanul Arifin Khatib Bandaro dikukuhkan.

Dikukuhkan dalam acara Halaqah Kebangsaan bersama Buya Prof Mahfud MD Angku Sadeo, Cawapres 2024 yang masih menjabat Menko Polhukam RI.

Mesra Labai Marajo orangnya periang. Sekilas, alumni MTI Batang Kabung Padang ini tidak menyimpan persoalan.

Dia mudah dekat dengan banyak orang, apalagi dengan kita yang juga alumni surau atau pesantren ini. Cepat sekali klopnya Mesra Labai Marajo.

"Lai sehat sen, tuo," begitu dia menyapa kita saat terlambat tiba di lokasi acara.

Logat Nagari Singgalang Mesra Labai Marajo ini kental, dan amat mudah menebaknya, kalau dia memang berasal di Singgalang, Kabupaten Tanah Datar.

Sehari-hari, Mesra Labai Marajo tinggal di Pasir Jambak, Kota Padang mengelola sebuah perguruan surau, memimpin jalannya ibadah masyarakat di surau itu, sekaligus memimpin jemaah.

"Tuo, awak misi dulu, mungkin di surau Zuhur sama jemaah," kata dia sebelum meninggalkan asrama haji sesudah acara.

Dia langsung bergegas setelah bersalaman, membawa sejinjing nasi bagian dia bersama jemaahnya.

"Di tempat awak, wirid tiap Senin malam, tuo. Datanglah ke tempat awak. Tapi Senin besok libur, karena kami ziarah ke Aceh," ulas Mesra Labai Marajo sambil berlalu.

Sapaan Tuo yang Mulai Hilang

Sapaan tuo ini adalah etika komunikasi orang surau. Santri yang belajar dan tinggal di pesantren. Tapi itu dulu.

Kini, sebagian pesantren sudah tidak lagi menggunakan bahasa itu. Mereka lebih sering memakai sapaan buya kepada seniornya.

Tidak lagi menyapa seniornya dengan sebutan atau sapaan tuo ini. Kenapa? Tentu banyak hal, dan yang jelas ini pergeseran yang terjadi menerpa zaman.

Hari itu dan hari-hari sebelum kegiatan itu, Mesra Labai Marajo selalu menyapa dengan sapaan tuo. Dia tak tahu apakah yang disapanya senior atau yunior dari dia dalam masa santri dulu.

Setidaknya, Mesra Labai Marajo dan buya lainnya dalam Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Sumbar ini ingin dan tetap dengan tradisi tuo.

Tradisi dan kebiasaan saling bertegur sapa dengan sesama orang surau. Tradisi surau yang tetap dikembangkan ketika sudah tidak lagi tinggal di surau tempat dia mengaji dulu lagi.

Padahal, masyarakat Kota Padang sering menyapa orang surau yang sudah tinggal dan beraktivitas di masjid, selalu disapa dengan sapaan buya.

Ratusan masyarakat menyapa Mashendri Malin Sulaiman dengan sapaan buya, tapi Mesra Labai Marajo tetap dengan kebiasaannya, dengan sapaan tuo ke Ketua Umum Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Sumbar ini.

Artinya, sesama orang surau, silakan masyarakat dengan kebiasaannya. Menyapa kawan kami dengan sapaan buya, tapi kami tetap menyapanya dengan tuo.

Sapaan buya dan tuo sepertinya penempatan kami orang surau. Sampai Prof Mahfud MD Angku Sadeo diberi gelar buya oleh Majlis Zikir dan Sholawat Al-Wasilah Sumbar ini.

Kenapa, Mahfud MD adalah Menko Polhukam yang berasal dari surau. Dia asli Madura, daerah pulau yang kental nuansa surau atau pesantrennya. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies