Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Membelah Kabut Hutan Tanjung Pucuk Jambi Menuju Kawasan 48

Di Puncak Tri Poin. Menjelang tiba di lokasi pembangunan pesantren, Buya Malin foto bersama dengan rombongan. (ad)

Jambi, Sigi24.com---Tak berapa jauh dari rumah Remija Azwarni di Desa Tanjung Pucuk Jambi itu, tepatnya jalan lintas Sumatera lama dan sehabis ganti mobil, kami belok kiri.

Mengikuti mobil yang dikendarai Rudi Purba dan rombongan menuju Kawasan 48.

Ya, kawasan perkebunan yang sebagian besar milik Remija Azwarni. Kiri dan kanan jalan tanah yang lebarnya mencapai delapan meter itu, penuh dengan hutan sawit, karet dan cassia.

Sunyi dan kesepian membelah hutan di belahan Pucuk Jambi itu. Deru suara mobil, seolah menghilangkan suara lain. 

Sementara, jemaah Al-Wasilah yang dipimpin Mashendri Malin Sulaiman, sehabis peringatan maulid istirahat di Masjid Al-Mukhlisin, untuk besoknya, Ahad 1 Oktober 2023 melanjutkan perjalanan dari Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi itu ke Pagaruyung, Sumatera Barat.

Ini bagian dari rangkaian safari dakwah Buya Malin, begitu Mashendri Malin Sulaiman akrab di kalangan jemaahnya.

Terpisah dari rombongan, tapi kontrol tetap. Komunikasi siang Ahad mulai lancar. Semalaman hingga jelang siang, Buya Malin dan rombongan tak dapat sinyal.

Jemaah dan tokoh masyarakat Tanjung Pucuk Jambi pun sudah tahu, Buya Malin dan rombongan istirahat malam itu di rumah Rudi Purba, di Kawasan 48.

Jalan tanah, tapi mobil bisa melaju kencang. Bustanul Arifin Khatib Bandaro sepertinya menguasai medan meskipun baru kali itu masuk ke kawasan tersebut.

Kecepatan mobil Rudi Purba masih bisa diiringinya dengan membelah kabut dari semburan mobil Rudi Purba. Sesekali tak terlihat jalan, alias tak tembus pandang saking besarnya gelombang kabut yang dihasilkan mobil Rudi Purba ini.

Menurun, mendaki, belokan ke kiri dan kanan membuat liyukan setir yang dikendalikan Bustanul Arifin kian mengasyikkan perjalanan malam itu.

Ada tiga portal yang kami lewati, tanpa pemeriksaan. Maklum, masih milik Remija Azwarni, mungkin. Pas mobil Rudi Purba berhenti di depan portal, petugas langsung menaikan plang pintu masuk, kami pun mengiringi dari belakang.

Ada satu dua mobil yang berselisih di jalan. Barangkali mobil pekerja yang mengangkut barang dan peralatan. Pas tiba di Kawasan 48, jam telah menunjukkan pukul 00.00 wib lebih sedikit.

Tak ada diskusi. Mungkin karena kecapean. Sehabis memarkir mobil di bagian bawah, tempat kediaman Rudi Purba, Bustanul Arifin langsung rebah.

Tentu permadani rancak sudah dibentangkan oleh istri Rudi Purba sebelumnya, di ruangan tengah rumahnya itu, tempat rombongan Buya Malin merebahkan badan, meluruskan punggung.

Rencana ngopi sambil bercerita, tak jadi. Malam kian larut, lelah pun menyelimuti semuanya. Dan memang rencana melihat lokasi pembangunan pesantren dilakukan pagi Ahad. (ad/red)

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies