Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Heri Firmansyah Tuanku Khalifah: Basafa Tidak Diatur Tetapi Sudah Teratur dari Dulu

Heri Firmansyah Tuanku Khalifah usai mengisi Podcast Padang Pariaman bicara. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Basafa tidak diatur, tetapi sudah teratur sejak dulunya. Apa maksudnya?

Padang Pariaman punya tradisi yang hebat. Yakni Tradisi Basafa. Digelar setiap bulan Syafar di Ulakan, komplek makam Syekh Burhanuddin.

Ahad, 10 September 2023, Podcast Padang Pariaman bicara mengangkat tema; "Basafa dan Khalifah" bersama Heri Firmansyah Tuanku Khalifah.

Menurut dia, Basafa yang terhimpun dari banyak macamnya itu adalah sama dengan Haul, peringatan hari wafat ulama.

"Baik Safa Gadang, Safa Ketek, Safa Tuanku Shaliah dan Safa lainnya, merupakan ritual ziarah, zikir dan mengamalkan wirid pengajian," kata Heri Firmansyah, Tuanku Khalifah ke XV Syekh Burhanuddin ini.

Ketika digali lagi, ujar dia, ziarah atau mendatangi guru adalah wujud dari kecintaan seorang murid terhadap gurunya.

Dengan guru yang sudah tiada, menziarahi kuburnya dan guru yang masih hidup, mendatanginya dengan meminta pengajian di tempat guru itu.

Sebab, karena gurulah murid mampu mencapai puncak, dekat dengan Allah SWT, dan mampu beribadah sesuai ilmu pengetahuan yang sudah dipelajari.

"Makanya, dalam kegiatan Basafa itu, banyak terdengar wirid pengajian yang dibawakan oleh masyarakat dan jemaah di Ulakan itu, sesuai yang diangkutnya dari tempat masing-masing," ulas Heri Firmansyah.

Umum, jemaah dan masyarakat Syattariyah dari Padang Pariaman, itu membawakan wirid "Badikie". Lahirlah di sini "Bujang Sambilan". Yakni mereka yang irama dan lagu dikienya menarik.

Sebab, sehabis bulan Syafar adalah bulan maulid. Hampir tiap masjid dan surau di daerah ini orang siak Badikie, memperingati maulid secara syarafal anam.

Basafa ini dimulai setelah 50 tahun Syekh Burhanuddin wafat. Safa Gadang terkenal dengan safanya orang darek, sedangkan Safa Ketek untuk masyarakat dan jemaah dari Padang Pariaman.

Lalu, karena kedua Safa ini terus dibanjiri jemaah, Tuanku Shaliah ingin membuat hari yang berbeda. Maka hadirlah Safa Tuanku Shaliah ini Sabtu terakhir di bulan Syafar, tepatnya setelah Safa Ketek.

Heri Firmansyah Tuanku Khalifah yang berkedudukan di Surau Pondok Ketek, pun menjadi tumpuan masyarakat dan jemaah yang ikut Basafa ini.

Dia juru kunci, tempat penyimpanan peninggalan Syekh Burhanuddin. Ada banyak peninggalan Syekh Burhanuddin yang dibawanya dari Aceh dulunya.

"Jadi, jemaah itu ada yang ke Surau Pondok Ketek dulu, baru terus ke Ulakan, dan ada pula yang terbalik, dari Ulakan ke Surau Pondok Ketek," katanya.

Bahkan, katanya, rombongan jemaah Syekh Sidi Jamadi, dari Ulakan itu berjalan kaki ke Surau Pondok Ketek sambil membaca shalawat dan wirid lainnya, secara bersama dan berombongan.

Ulakan, Surau Pondok Ketek dan Surau Gadang di Tanjung Medan, merupakan pusat ziarah, dan bagian terpenting oleh masyarakat dan jemaah untuk mengunjungi atau Basafa.

Menurut warih bajawek, pusako batarimo oleh Heri Firmansyah dari Khalifah dulunya, Surau Pondok Ketek adalah tempat Syekh Burhanuddin pertama kali menemukan dunsanaknya sepulang dari Aceh.

"Syekh Burhanuddin pulang dari Aceh, dijemput oleh Syekh Idris. Dari tepi pantai mereka berdua ini terus berjalan ke Tanjung Medan, dan tiba di Koto Panjang, mereka berhenti," cerita Heri Firmansyah.

Dalam pemberhentian itu, tampak oleh mereka seorang wanita tua yang sedang menyapu di halaman. Sang ibu tua ini bertanya ke Syekh Idris tentang kawan yang dibawanya.

Oleh Syekh Idris dikenalkan, bahwa itu kawannya yang baru pulang dari Aceh. Lalu sang ibu ini bertanya tentang sejarah dan sasok jeraminya.

Syekh Burhanuddin pun menyebut kalau dia dari Sintuak, bersuku Guci. Lebih jauhnya, dia berasal dari Pariangan.

Sang ibu pun terkejut, dan langsung memeluk Syekh Burhanuddin. Pandangan mata ibu ini tajam dan menatap dalam-dalam Syekh Burhanuddin muda.

Ibu ini hafal semua pertalian darah Syekh Burhanuddin. Dan bahkan ibunya Syekh Burhanuddin masih erat hubungan tali darah dengan ibu ini.

Cepat cerita, Syekh Burhanuddin meninggalkan sebagian perkakas yang dibawanya di rumah ibu ini, dan Syekh Burhanuddin bersama Syekh Idris meneruskan perjalanan ke Tanjung Medan, tepatnya ke rumah Syekh Idris sendiri.

Nah, perkakas yang ditinggalkan Syekh Burhanuddin itulah yang sampai sekarang masih tersimpan rapi, dan jadi benda yang amat berharga dan sakral.

Jauh-jauh masyarakat dan jemaah dari pelosok Sumbar, Jambi, Riau, Bengkulu dan bahkan Malaysia datang Basafa tiap tahun. Sebagian besar mereka setelah Basafa di Ulakan, melanjutkan kegiatannya ke Surau Pondok Ketek di Koto Panjang, tempat penyimpanan peninggalan Syekh Burhanuddin itu. (ad/red)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies