Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Mengaji dan Halaqah Semarakkan Haul Ketiga Buya Marzuki Tuanku Labai Nan Basa

Undangan terbuka peringatan Haul ketiga Buya Marzuki Tuanku Labai Nan Basa. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Muharram ini tepatnya sudah tiga tahun berlalu Buya Marzuki Tuanku Labai Nan Basa meninggal dunia.

Pimpinan Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk (1995 - 2020) ini meninggalkan kenangan indah tersendiri, terutama buat keluarga besar pesantren yang diteruskannya mengasuh dan memimpin.

Ahad petang di bulan September tahun 2020, di tengah dunia sedang dihebohkan oleh peristiwa covid, Buya Marzuki pergi setelah mengalami sakit.

Buya Marzuki diminta mengajar di Madrasatul 'Ulum oleh guru besar pesantren ini, Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah pada tahun 1995, setelah kepergian Buya Iskandar Tuanku Mudo.

Buya Marzuki wafat dalam usia 72 tahun. Kurang lebih 25 tahun memimpin dan mengasuh pesantren yang berdiri sejak tahun 1940 tersebut.

Sepertinya, Buya Marzuki seorang pimpinan yang sempurna nilai-nilai Madrasatul 'Ulum-nya. Konon, dia tidak pernah mengaji di tempat lain, selain di Lubuk Pandan bersama Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah.

Sepulang dari mengaji di Lubuk Pandan, dia aktif berdakwah dan mengajar, dan sempat kuliah di Padang Panjang, tapi tidak sampai tamat.

Berbadan sedang, tidak tinggi, Buya Marzuki mampu beradaptasi dengan lingkungannya. Lahir di Singgalang, Kabupaten Tanah Datar, lama menuntut ilmu di Padang Pariaman, membuat keberadaannya diterima oleh masyarakat.

Ahad (6/8/2023) malam, Madrasatul 'Ulum menggelar Haul ketiga Buya Marzuki. Haul adalah peringatan wafat seseorang, dan banyak dilakukan di kalangan ulama dan pesantren.

Tujuan Haul tentunya memberikan doa dan kaji kepada almarhum, sekaligus membaca biografinya untuk dikenang oleh generasi yang ditinggalkannya.

Agenda Haul itu adalah mengkhatam Quran dan zikir bersama sesudah Magrib. Diawali dengan Magrib berjemaah, lalu langsung ke pokok kegiatan.

Ya, seluruh santri dan alumni yang hadir ikut mengkhatam Quran, membaca secara bersambung. Semakin banyak yang membaca Quran, tentu semakin sedikit yang dibacanya.

Fadhilah membaca Quran itu diperuntukkan buat Buya Marzuki dan buat seluruh guru-guru dan ulama yang punya hubungan tersendiri dengan pesantren ini.

Kemudian, mengkhatam Quran ini juga diharapkan mampu memperkuat kelangsungan pesantren ini hingga terus hadir sepanjang masa.

Usai mengkhatam Quran dan zikir bersama, agenda Haul dilanjutkan dengan halaqah bersama. Haul ketiga ini, panitia menyiapkan tema; "Mengenal Sosok Buya Marzuki Tuanku Labai Nan Basa".

Dari halaqah ini, tentu akan banyak cerita dan kisah yang akan diceritakan oleh alumni dan anak mendiang sendiri. Kisah dan cerita baik yang penuh dengan hikmah, adalah sesuatu yang amat penting untuk diwarisi.

Buya Marzuki meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Seorang anaknya sudah menamatkan kaji di Lubuk Pandan.

Zulkarnain namanya. Anak sulung Buya Marzuki itu kini berkiprah di tengah masyarakat, lewat pendidikan surau. (ad/red)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies