Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Haul Ketiga Buya Marzuki Tuanku Labai Nan Basa, tak Ingin Sendirian dalam Melahirkan Kebijakan

Undangan terbuka peringatan Haul ketiga Buya Marzuki Tuanku Labai Nan Basa. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com--Selama 25 tahun memimpin dan mengasuh Pondok Pesantren Madrasatul 'Ulum Lubuk Pandan, tentu banyak keteladanan yang dilahirkan oleh Buya Marzuki Tuanku Labai Nan Basa.

Dia mulai totalitas masuk ke pondok itu setelah diminta oleh pendiri pesantren, Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah, melalui sejumlah alumni pesantren itu sejak awal 1995.

Buya Marzuki yang wafat tahun 2020 ini dalam memimpin pesantren sepertinya tak mau memutus persoalan dengan sendiri. Dia selalu melibatkan majelis guru yang ada di pesantren. 

Sistim kepemimpinan demokratis ala surau, tak mau menggunakan otoritasnya selaku pimpinan. Pun dalam kebersamaan itu, dia terbuka untuk dikritik, dan diberi masukan oleh guru tuo. 

Secara organisasi dan majelis guru, saya pernah ikut dalam mengkritik dan memberi masukan kepada Buya Marzuki ini. Kala itu soal kedekatan dia dengan salah seorang santri, yang dinilai kurang elok.

Saya yang mendatangi dia bersama Ardindas, bicara enam mata. Dan dia sangat menerima kritikan dan masukan. Tentu ini sistim kepemimpinan yang mau mendengar bawahannya yang diterapkan Buya Marzuki.

Begitu tinggi nilai-nilai kebersamaan yang ditanamkannya kepada guru dan pelaksana pendidikan di lingkungan pesantren yang berdiri 1940 ini.

Itu saya rasakan pada saat awal Buya Marzuki di pondok. Saya satu dari enam santri yang ditetapkan jadi "marapulai kaji" tahun 1995.

Artinya, saya jadi marapulai kaji itu perdana rekrutmen Buya Marzuki dan terakhir dengan Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah.

Bulan Ramadhan sudah berjalan separoh. Tadarus untuk menentukan marapulai kaji tahun ajaran baru selesai. Kami pun bersiap-siap untuk pulang kampung.

Malam terakhir usai tadarus itu, tiba saya dipanggil oleh Buya Marzuki bersama sejumlah guru tuo. Dipanggil menghadap ke kantor.

Saya tak tahu apa isi panggilan. Saya sejak masuk di Lubuk Pandan itu, bulan puasa selalu ikut tadarus dari awal sampai selesai.

Tak sedikit pun dalam pikiran saya, kalau isi panggilannya itu memberitahu saya, kalau saya jadi marapulai kaji sehabis lebaran.

Sungguh tak terbayangkan. Ternyata, panggilan itu adalah memberikan ultimatum, menanyakan kesiapan saya untuk mengaji tiap pagi di atas Anjung.

Guru tuo yang mendampingi Buya Marzuki kala itu, Tuanku Afredison, Tuanku Nafa'i, Tuanku Mansuir, Tuanku Syamsuir. 

Selesai ultimatum, membahas masalah kelangsungan marapulai kaji, guru tuo itu menyodorkan sepucuk surat untuk orangtua di kampung.

Ada proses yang hebat dan kuat, saya rasakan ketika akan jadi marapulai kaji itu. Sepertinya, proses itu tidak mudah pula ditetapkan oleh guru besar, pimpinan dan guru tuo.

Waktu itu rombongan saya yang jadi marapulai kaji, adalah Edi Kartika Tuanku Imam dari Aripan Solok, Amril Labai Sinaro dari Singgalang, Suardi dari Batagak, Asniyeli dari Balai Satu Lubuk Pandan, dan Asmarni dari Payo, Tanah Datar.

Karena memutuskan secara bersama itu, saya merasakan adanya persaingan. Ada banyak daftar antrian santri dan santriwati yang akan jadi marapulai kaji.

Tahun itu, saya masih terbilang santri baru di Madrasatul 'Ulum. Makanya, saya tak punya pikiran untuk jadi marapulai. Yang ada hanya semangat ikut tadarus, dan senang bersama kawan di asrama saat bulan puasa itu.

Pun dalam bepergian keluar daerah, Buya Marzuki tak pernah sendirian. Ada saja guru tuo atau santri yang diajaknya ikut.

Sama halnya dengan Buya Abdullah Aminuddin Tuanku Shaliah yang juga tak pernah jalan sendirian.

Saya ada beberapa kali ikut dan diajak oleh Buya Marzuki keluar daerah. Pergi memberikan pengajian dan ceramah agama di kampungnya, Singgalang, Tanah Datar dan sejumlah tempat di Padang Pariaman.

Masa itu Buya Marzuki belum ada kendaraan. Sehingga setiap diundang ceramah itu, kami selalu bermalam di surau atau masjid tempat pengajian.

Beda dengan ulama dan penceramah zaman sekarang, yang rata-rata sudah punya kendaraan, dan tidak pernah bermalam di lokasi acara. (ad/red)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies