Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Konservasi dan Tragedi Oleh AS Edi

AS Edi 

Alam adalah ilmu, ilmu adalah alam, adanya gejala dan peristiwa alam merupakan pesan yang disampaikan kepada manusia untuk mengisi sejarah peradabannya dengan lingkungan hidupnya. 

Lahirlah salah satu bidang keilmuan yang disebut, Fenomenalogi-Ilmu yang mempelajari tentang gejala dan peristiwa alam yang terjadi dalam jagad raya, mulai dari lingkungan terkecil pada otak manusia sampai kepada kawasan terbesar dalam petala langit yang maha luas ini.

Keadaan manusia dalam keberadaan alam, atau keberadaan manusia dalam keadaan alam adalah suatu posisi yang menempatkan manusia dalam kesempurnaan dan keahlian sesuai perilaku yang dihadirkannya.

Petunjuk, Pedoman dan Batasan

Dalam kehidupan manusia di bumi ini, lingkungan merupakan sumber daya yang amat penting untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya. 

Demi melanjutkan dan mempertahankan kelangsungan hidup baik generatif maupun regenerative secara populasional dan multi populasional berinteraksi dalam proses perubahan, pemusnahan, dan pembentukan serta penciptaan ekosistem.

Sejarah peradaban dan kebudayaan manusia sejak zaman purbakala sampai sekarang, bertindak mengisi kebutuhan dasar hidupnya dalam keadaan lingkungan kecil pada suatu habitat di atas permukaan bumi dan lingkungan besar dengan alam jagat raya ini.

Dalam suatu habitat, manusia dengan hewan dan tumbuhan hijau membuat siklus peristiwa ekosistem oleh jaring-jaring kehidupannya dengan proses jaring-jaring makanan dan rantai makanan antara produsen, konsumen dan pengurai. 

Manusia berkedudukan sebagai makhluk rakus, apabila tidak ada petunjuk dan pedoman serta batasan, bisa beraksi sebagai paratisme, mutualisme dan canibalisme, dengan posisi menjadi konsumen tingkat pertama, kedua dan seterusnya pada lingkungan tertentu.

Kedudukan manusia dengan tuntutan (hak) kebutuhan dasar hidupnya, secara evolusi dan revolusioner akan melakukan pemusnahan, pembentukan dan penciptaan ekosistem yang perlu dan batasan, syara’ mangato, adat mamakai, alam takambang jadi guru, yang diberlakukan secara pribadi, masyarakat dan lingkungan hidup.

Antara hak dan kewajiban manusia dengan lingkungannya, wajib dipertanggungjawabkan kelestarian alam, mengingat perkembangan dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya dalam suatu populasi maupun multi populasi bukan terbatas pada satu, dua, tiga general berikutnya, akan tetapi untuk generasi terakhir menjelang kiamat total terjadi (gempa global atau panas global, goncangan dahsyat atau hangusnya planet bumi, akibat rusaknya alam dan habisnya lapisan ozon).

Majunya alat-alat teknologi canggih (cangok dan gigih) dan lajunya pertumbuhan penduduk akan memperbesar kebutuhan dasar manusia terhadap sumberdaya alam dan pada gilirannya akan memperlebar pula perubahan, pemusnahan, pembentukan dan penciptaan ekosistem pada suatu lingkungan.

Arah pembangunan fisik di suatu daerah, bentuk dan laksananya banyak yang tidak berwawasan lingkungan bersahabat dengan alam. 

Pembangunannya mempunyai dampak negatif karena memperbesar pemusnahan ekosistem, pencemaran lingkungan dan merusak alam. Sektor memperkecil perubahan ekosistem yang merugikan dan merusak alam hanya di atas kertas setelah dilakukan penelitian analisa mengenai dampak lingkungan.

Akibat proses seperti ini terjadi kepincangan tajam statistic pembangunan menuju kerawanan kondisi ekuilibrium, melewati standard dan trisol lingkungan. 

Akibatnya, mutu dan kualitas hidup tidak terjamin. Bencana terjadi, malapetaka alam, sulit, berganti. Polusi udara/air, kabut asap, kekeringan air bawah tanah, longsor, banjir, semburan lumpur, erosi, abrasi, suhu geoternal meninggi, panas global dan menipisnya lapisan ozon untuk melindungi sinar ultraviolet matahari yang mematikan semua makhluk hidup di bumi, bahkan akan menghanguskan planet bumi kita ini.

Alam tidak lagi bersahabat, karena secara sadar atau tidak manusia dengan kerakusannya sebagai konsumen mengekploitasi dan mengekplorasi potensi sumber daya alam yang tersedia, baik di atas, dipermukaan maupun dalam perut bumi. 

Analisa mengenai dampak lingkungan (Amdal) hanya dilakukan dipermukaan dan di dalam perut bumi saja, sementara di atas permukaan bumi, udara dipenuhi oleh gelombang radio, telepon, faximile, facebook, twitter, internet, televise yang jutaan macam jenis dan program acara. 

Sungguh, sangat padat lalu lintas di udara, berbenturan dan bertabrakan dengan tiupan angin, suhu, dan sekali-sekali diikut sertai oleh kilatan petir.

Begitu juga dengan kondisi perairan lautan, dengan mempergunakan alat-alat teknologi dengan dalih ekspedisi, penelitian, pencarian harta karun menjarah dan menguras kekayaan yang ada di dasar laut, serta pengerukan pasir dengan alasan pengendalian ke dalaman dermaga internasional dan menjual pasir itu keluar negeri. 

Abrasi semakin membahayakan, sementara luas daratan tepi pantai negara tetangga bertambah karena pasir yang dijual itu dipergunakan mereka untuk perluasan pembangunan di pinggir laut. 

Seratus tahun yang akan datang, insha Allah dari pulau Batam kita bisa loncat ke Singapura dengan melewati jembatan yang panjangnya mungkin 1 km saja. Wallahu’alam

Dan perairan daratan pun tak ketinggalan oleh jamahan tangan manusia yang berakibat pencemaran dengan dalih pembangkit tenaga listrik di danau, perluasan dermaga di muara sungai atau sebagai sarana transportasi sungai tanpa ada pikiran dan tindakan konservasi air.

Karena adanya fenomenal di alam sekitar kita yang dikondisikan secara paksa oleh perilaku makhluk rakus yang hanya semata-mata menguras sumber daya alam yang tersedia tanpa batas demi kepentingan dan kebutuhan sesaat, akan terjadi tragedi estafet oleh kutukan alam dengan bencana yang sangat dahsyat dan mengerikan sekali.

*Pemerhati Lingkungan Hidup


 

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Hollywood Movies