Hot Widget

Type Here to Get Search Results !

Lamang Antarkan Masyarakat pada Bulan Suci Ramadhan

Masyarakat membuat lamang untuk mengaji ke puasa di Padang Pariaman. (ist)

Padang Pariaman, Sigi24.com---Bulan Sya'ban juga dikenal dan lazim di kalangan masyarakat Padang Pariaman sebagai "Bulan Lamang". Ya, karena di bulan ini masyarakat membuat Lamang.

Lamang adalah adalah makanan yang terbuat dari beras pulut, sama dengan ketan. Tetapi, Lamang dibuat dengan buluh.

Tradisi membuat makanan ini sudah sejak lama. Saking lamanya, bulan menjelang masuk puasa ini disebut sebagai bulan lamang.

Tentu tidak semua rumah tangga yang membuat Lamang ini. Tergantung pada niat dan rencana masyarakat yang akan melakukan kenduri atau mengaji ke puasa.

Dan biasa, orang yang membuat lamang serta mengaji ke puasa ini, adalah orang-orang berada. Hidup dengan pusaka, dimana sawah dan ladang yang dia garap tinggal menikmati.

Artinya, mengaji ke puasa yang dilakukan di rumah masyarakat ini, bagian dari terima kasih kepada yang tua-tua dulu, yang sudah tiada.

"Hanya dengan memberikan kaji, doa dan jamuan ini, kita bisa mengenang para arwah terdahulu. Jasanya banyak, dan sangat tidak terbalas oleh kita," kata seorang masyarakat yang sedang membuat lamang di daerah itu.

Di Padang Pariaman secara umum, Kamis 23 Maret masih belum puasa, karena hari itu bulan di lihat sorenya. Namun, yang puasa Rabu atau Kamis itu juga sudah ada sebagian masyarakat daerah itu. 

Sebab, Muhammadiyah puasa Rabu di saat pemerintah masih melakukan Sidang Isbat.

Otomatis, Kamis itu masih ada masyarakat yang melakukan mengaji ke puasa serta membuat lamang tentunya. Begitu juga yang mengaji pusara, diperkirakan masih ada.

Sebab ada tradisi dan kebiasaan di suatu kampung, kalau mengaji pusara itu pada saat orang melihat bulan. Begitu juga pribadi masing-masing yang mewiridkan mengaji ke puasa itu malam saat orang melihat bulan. 

Kembali ke cerita lamang. Meskipun bulan ini disebut sebagai bulan lamang, bukan berarti di bulan lainnya tidak ada orang membuat makanan ini di Padang Pariaman. 

Ada. Seperti pada saat masyarakat melakukan hajatan atau mengaji pada saat setelah peristiwa kematian, yang disebut dengan meniga, menujuh, mendua kali tujuh, empat puluh sampai seratus hari peringatan kematian, ini pada umumnya ahli waris membuat lamang.

Pun bulan maulid juga membuat lamang. Bahkan bulan maulid ini di Padang Pariaman tiga bulan, dan rata-rata masyarakat membuat lamang, karena di masjid atau surau-nya sedang memperingati maulid. 

Daerah ini terkenal banyak surau dan masjid. Surau ada yang milik kampung disebut sebagai surau korong. Banyak juga surau kaum. Masing-masing kaum membuat sebuah surau.

Tak heran, di sebuah nagari kecil ditemui banyak surau dan rumah ibadah. Belum lagi surau dibangun oleh pribadi, para tokoh masyarakat yang sukses di rantau, lalu bangun surau rancak di kampung.

Lamang dibuat juga ada untuk pelepas kerinduan orang rantau pada kampung. Lamang pun jadi media silaturahmi dan komunikasi antar kampung yang satu dengan kampung lainnya. 

Ya, masyarakat adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Mereka butuh kawan dan teman. Begitu pula dalam membuat lamang, ada tetangga dekat dan jauh yang ikut bekerja. 

Kalau membuat lamang dalam versi besar dan banyak, ini butuh waktu semalam sehari. Sejak senja para ibu-ibu telah bekerja, membersihkan buluh, mengukur kelapa, menanak nasi dan membuat sambal.

Lalu ada yang membasuh beras pulut untuk dijadikan lamang. Yang laki-laki membuat bantalan lamang. Bantalan adalah untuk memasak lamang.

Dua batang besi di pajang pakai tonggak, dengan pakai jarak. Di tengahnya api menggejolak, menghanguskan sabut kelapa dan kayu bakar yang teronggok di bagian tengah itu.

Di sini tercermin silaturahmi ipar besan, andan pesumandan, gotong royong bersama membuat makanan yang namanya lamang. (ad)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Below Post Ad

Hollywood Movies