![]() |
| Silaturahim kebangsaan antara KH. Akhmad Khambali, SE, MM, Ketua Umum Gema Santri Nusa, dengan Irjen. Pol. Sonny Irawan, SH, MM, selaku Kapolda Sumatera Utara. |
MEDAN SUMATERA UTARA. 20 Oktober 2026 — Komitmen untuk merawat keberagaman, memperkuat persatuan, serta membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di Sumatera Utara terus diperkuat melalui silaturahim kebangsaan antara KH. Akhmad Khambali, SE, MM, Ketua Umum Gema Santri Nusa, dengan Irjen. Pol. Sonny Irawan, SH, MM, selaku Kapolda Sumatera Utara, yang didampingi Brigjen. Pol. Fadillah Zulkarnaen, selaku Wakapolda Sumatera Utara.
Dalam silaturahim tersebut, KH. Akhmad Khambali didampingi oleh Ustadz Fadli Sudiro, selaku Inisiator Akademi Da'i Cilik TVRI Sumatera Utara. Kehadiran keduanya mencerminkan pentingnya keterlibatan ulama, santri, pendidik, dan tokoh masyarakat dalam membangun ekosistem kebangsaan yang inklusif, memperkuat pendidikan karakter generasi muda, serta menjaga Sumatera Utara agar tetap aman, sejuk, dan kondusif di tengah realitas masyarakat yang multietnis, multiagama, dan multikultural.
Silaturahim ini memiliki makna strategis, bukan sekadar membangun komunikasi antartokoh, melainkan juga memperkuat semangat kolaborasi antara institusi kepolisian dan elemen masyarakat dalam menjaga persatuan serta menciptakan ruang kehidupan yang damai bagi seluruh warga Sumatera Utara.
KH. Akhmad Khambali, Tokoh Keberagaman dan Santri Pewaris Semangat Gus Dur
KH. Akhmad Khambali dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengedepankan semangat keberagaman, persaudaraan, dan kebangsaan, dengan membawa nilai-nilai perjuangan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), khususnya dalam membangun kehidupan berbangsa yang menjunjung tinggi kemanusiaan, toleransi, keadilan, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Sebagai Ketua Umum Gema Santri Nusa sekaligus pengasuh Majlis Sholawat Akhsa Nusantara, KH. Akhmad Khambali menempatkan santri bukan hanya sebagai penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga sebagai pelopor perdamaian, penguat persatuan, dan mitra strategis dalam membangun masyarakat yang berakhlak serta memiliki wawasan kebangsaan.
Semangat santri Gus Dur yang diusung menegaskan bahwa kecintaan terhadap agama harus berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap sesama manusia dan komitmen menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bagi KH. Akhmad Khambali, keberagaman Sumatera Utara merupakan kekuatan sosial yang harus dirawat bersama. Masyarakat yang terdiri atas berbagai suku, seperti Melayu, Batak, Jawa, Mandailing, Nias, Minangkabau, Aceh, dan berbagai kelompok etnis lainnya, serta pemeluk agama yang berbeda, membutuhkan ruang dialog, sikap saling menghormati, dan kerja sama nyata untuk membangun kehidupan yang harmonis.
“Sumatera Utara adalah rumah besar bagi kita semua. Perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan kekuatan untuk saling mengenal, menghormati, dan menguatkan. Kita boleh berbeda dalam identitas, tetapi harus tetap bersatu dalam komitmen menjaga Indonesia,” demikian pesan kebangsaan yang sejalan dengan semangat silaturahim tersebut.
Sinergi Polri, Ulama, dan Masyarakat sebagai Pilar Stabilitas Daerah
Pertemuan dengan Kapolda Sumatera Utara beserta Wakapolda menjadi momentum untuk memperkuat pentingnya sinergi yang berkelanjutan antara Polri, ulama, tokoh agama, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, pesantren, dan seluruh elemen masyarakat Ujar Kyai Khambali yang juga Pengasuh Ponpes Tahfizhul Qur'an Roudhotul Ulum.
Dalam menghadapi tantangan sosial yang semakin kompleks, pendekatan keamanan perlu berjalan beriringan dengan pendekatan edukatif, dialogis, humanis, dan partisipatif. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum, keterbukaan komunikasi, serta keterlibatan tokoh-tokoh lokal menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban dan mencegah munculnya konflik sosial.
Polri memiliki peran strategis dalam melindungi masyarakat, menegakkan hukum secara adil, dan menjaga keamanan. Sementara itu, ulama dan tokoh agama memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan ajaran yang menyejukkan, mengembangkan sikap toleran, serta mendorong penyelesaian persoalan melalui musyawarah dan dialog.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada pertemuan formal, tetapi berkembang menjadi kegiatan nyata, seperti dialog kebangsaan lintas agama dan etnis, edukasi antiradikalisme dan ekstremisme berbasis masyarakat, penguatan literasi digital, pembinaan generasi muda, serta gerakan bersama melawan hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjadi objek kebijakan keamanan, tetapi juga mitra aktif dalam menjaga perdamaian dan membangun ketahanan sosial di lingkungannya masing-masing.
Kehadiran Ustadz Fadli Sudiro, selaku Inisiator Akademi Da'i Cilik TVRI Sumatera Utara, turut memberikan dimensi penting dalam silaturahim ini, khususnya mengenai pembangunan karakter generasi muda melalui pendidikan dakwah, pembinaan akhlak, dan penguatan wawasan kebangsaan.
Pembinaan da'i cilik merupakan investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi penerus yang mampu menyampaikan pesan agama dengan santun, cerdas, beretika, serta sesuai dengan perkembangan zaman.
Generasi muda perlu dibekali kemampuan memahami ajaran agama secara baik, menghormati perbedaan, menggunakan media digital secara bertanggung jawab, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang memecah belah persaudaraan.
Melalui semangat pembinaan tersebut, dakwah diharapkan tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memperkuat tanggung jawab sosial, kepedulian terhadap sesama, kecintaan terhadap tanah air, serta komitmen menjaga persatuan bangsa, ujar Kyai Khambali selaku Pembina Akademi Da'i Cilik TVRI.
Sinergi antara ulama, pembina da'i cilik, lembaga pendidikan, keluarga, dan aparat kepolisian dapat menjadi fondasi dalam membangun generasi yang religius, nasionalis, moderat, dan berkarakter.
Generasi inilah yang diharapkan mampu menjadi penyejuk di tengah perbedaan, pelopor kebaikan di tengah masyarakat, serta benteng moral dalam menghadapi tantangan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, narkoba, dan penyalahgunaan teknologi digital.
Menghidupkan Semangat Gus Dur: Kemanusiaan, Toleransi, dan Persaudaraan
Semangat perjuangan Gus Dur memberikan pelajaran bahwa menjaga martabat manusia dan menghormati keberagaman merupakan bagian penting dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks Sumatera Utara, nilai tersebut perlu diwujudkan melalui sikap nyata: tidak mudah menghakimi kelompok lain, tidak menyebarkan kebencian atas nama agama atau identitas, serta tidak membiarkan perbedaan berkembang menjadi permusuhan.
Setiap persoalan yang berpotensi menimbulkan ketegangan perlu disikapi dengan kepala dingin, komunikasi terbuka, dan penghormatan terhadap hukum. Tokoh agama dan masyarakat juga diharapkan menjadi penengah yang menyejukkan, bukan pihak yang memperbesar persoalan.
“Ulama harus menjadi penyejuk, santri harus menjadi pelopor kebaikan, Polri harus hadir sebagai pelindung masyarakat, dan seluruh elemen bangsa harus mengambil bagian dalam menjaga persaudaraan. Jangan sampai perbedaan dimanfaatkan untuk memecah belah kita. Sumatera Utara membutuhkan kolaborasi, bukan polarisasi; membutuhkan persaudaraan, bukan permusuhan,” demikian semangat yang ingin terus dikembangkan melalui gerakan kebangsaan tersebut.
Pesan ini sejalan dengan cita-cita mewujudkan Sumatera Utara yang tidak hanya aman secara keamanan, tetapi juga kuat secara sosial, matang dalam menyikapi perbedaan, dan memiliki daya tahan terhadap provokasi maupun konflik horizontal.
Dari Silaturahim Menuju Kolaborasi Nyata
Silaturahim kebangsaan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antara kepolisian dan masyarakat sipil, khususnya komunitas santri, organisasi keagamaan, serta para pendidik generasi muda.
Ke depan, semangat kolaborasi dapat diterjemahkan ke dalam berbagai program yang terukur, antara lain:
1. Penguatan dialog kebangsaan yang melibatkan ulama, tokoh lintas agama, tokoh adat, pemuda, dan masyarakat.
2. Pendidikan toleransi dan antiradikalisme melalui pesantren, majelis taklim, sekolah, dan komunitas masyarakat.
3. Pembinaan da'i cilik dan generasi muda agar memiliki akhlak mulia, kecakapan digital, serta wawasan kebangsaan.
4. Gerakan melawan hoaks dan ujaran kebencian dengan mengedepankan literasi, klarifikasi, dan komunikasi yang bertanggung jawab.
5. Penguatan kemitraan Polri dan masyarakat melalui komunikasi yang terbuka, kegiatan sosial, serta deteksi dini terhadap potensi konflik tanpa mengabaikan hak dan martabat warga.
Langkah-langkah tersebut menjadi penting agar semangat toleransi dan persatuan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan hanya menjadi slogan dalam pertemuan.
Sumatera Utara Harmonis, Tanggung Jawab Kita Bersama
Silaturahim antara KH. Akhmad Khambali, SE, MM, dan Kapolda Sumatera Utara Irjen. Pol. Sonny Irawan, SH, MM, yang didampingi Wakapolda Sumut Brigjen. Pol. Fadillah Zulkarnaen, bersama Ustadz Fadli Sudiro, menjadi momentum untuk kembali meneguhkan bahwa masa depan Sumatera Utara bergantung pada kemampuan seluruh elemen masyarakat dalam membangun kepercayaan dan bekerja bersama.
Keberagaman harus menjadi modal pembangunan. Perbedaan harus menjadi ruang pembelajaran. Agama harus menjadi sumber nilai kebaikan. Dan keamanan harus menjadi hasil kerja bersama antara aparat dan masyarakat.
Dengan semangat kebangsaan, nilai-nilai pesantren, keteladanan ulama, serta pendekatan kepolisian yang profesional dan humanis, Sumatera Utara diharapkan terus berkembang menjadi daerah yang aman, damai, inklusif, dan bermartabat bagi seluruh warganya.
SUMUT HARMONIS: SATU TUJUAN, BERAGAM IDENTITAS, KUAT DALAM KOLABORASI.
Ulama Merangkul, Santri Mengabdi, Polri Melindungi, Masyarakat Bersatu.

