![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag.
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Pariaman
Babak Baru Perjalanan STIT Syekh Burhanuddin
Kabar menggembirakan kembali datang dari dunia pendidikan tinggi Islam di Kota Pariaman. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin Pariaman memasuki babak baru pengembangan kelembagaan dengan diumumkannya pembukaan Program Studi Manajemen Haji dan Umrah.
Berita yang dipublikasikan media Oke Sinergi mengenai pembukaan program studi tersebut merupakan momentum penting bagi keluarga besar Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin, pimpinan perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan masyarakat Pariaman serta Padang Pariaman.
Pembukaan program studi ini bukan sekadar penambahan pilihan pendidikan bagi calon mahasiswa. Lebih jauh, langkah tersebut merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk mewujudkan transformasi STIT Syekh Burhanuddin menjadi Institut Agama Islam (IAI) Syekh Burhanuddin Pariaman pada tahun 2027.
Perjalanan panjang lembaga pendidikan yang berakar pada tradisi keilmuan Islam dan warisan ulama Minangkabau ini semakin menunjukkan arah kemajuan yang nyata.
STIT Syekh Burhanuddin yang berdiri sejak 1978 telah melewati berbagai tantangan, perubahan kebijakan pendidikan tinggi, dinamika kelembagaan, keterbatasan sumber daya, dan kompetisi antarperguruan tinggi. Namun, semangat untuk mempertahankan sekaligus mengembangkan lembaga pendidikan Islam tetap terpelihara.
Ketahanan kelembagaan tersebut merupakan modal penting. Perguruan tinggi yang mampu bertahan hampir setengah abad tentu memiliki akar sosial, legitimasi historis, dan kepercayaan masyarakat yang tidak dapat dibangun dalam waktu singkat.
Kini, modal sejarah itu harus ditransformasikan menjadi kekuatan akademik, reputasi ilmiah, profesionalisme tata kelola, dan daya saing kelembagaan.
Dari Dua Program Sarjana Menuju Perguruan Tinggi Multidisipliner
Selama ini STIT Syekh Burhanuddin menyelenggarakan dua program studi sarjana, yakni Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD).
Kedua program studi tersebut telah menjadi fondasi pengembangan pendidikan tinggi Islam, khususnya dalam menghasilkan tenaga pendidik dan sumber daya manusia keagamaan bagi masyarakat.
Tahun 2026 menjadi periode akselerasi yang sangat menentukan.
Kehadiran Program Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) memperluas kapasitas akademik STIT Syekh Burhanuddin dari penyelenggara pendidikan sarjana menjadi perguruan tinggi yang juga menyelenggarakan pendidikan pascasarjana.
Dalam pemberitaan wisuda ke-35 pada 24 September 2026, pimpinan STIT juga menyampaikan bahwa pengembangan Program Studi Manajemen Haji dan Umrah serta Hukum Keluarga Islam merupakan bagian dari agenda peningkatan status kelembagaan.
Dengan demikian, pengembangan STIT tidak lagi hanya bergerak dalam rumpun pendidikan atau tarbiyah, tetapi mulai memasuki bidang manajemen layanan keagamaan dan, apabila izin program studinya terbit, bidang hukum Islam.
Diversifikasi keilmuan inilah yang menjadi salah satu landasan strategis menuju institut.
Namun, perubahan bentuk kelembagaan tidak otomatis terjadi hanya karena bertambahnya program studi. Status institut harus diperjuangkan melalui pemenuhan persyaratan akademik, jumlah dan keragaman program studi, dosen, sarana prasarana, tata kelola, dan ketentuan perizinan yang berlaku.
Karena itu, ungkapan "selangkah lagi menjadi IAI Syekh Burhanuddin" harus dipahami sebagai optimisme kelembagaan yang disertai kesiapan administratif, akademik, dan regulatif.
Manajemen Haji dan Umrah: Ilmu, Profesi, dan Pengabdian
Pembukaan Program Studi Manajemen Haji dan Umrah memiliki relevansi strategis dengan kebutuhan umat Islam kontemporer.
Haji dan umrah bukan hanya perjalanan spiritual. Keduanya memerlukan sistem pelayanan profesional yang melibatkan manajemen perjalanan, administrasi, transportasi, akomodasi, pembiayaan, kesehatan, teknologi informasi, komunikasi lintas budaya, dan pendampingan ibadah.
Pengelolaan haji dan umrah yang baik memerlukan tenaga profesional yang tidak hanya menguasai prosedur teknis, tetapi juga memahami fikih manasik, etika pelayanan, psikologi jamaah, dan nilai-nilai spiritual ibadah.
Di sinilah kekhasan pendidikan Islam menjadi penting.
Program Studi Manajemen Haji dan Umrah STIT Syekh Burhanuddin diharapkan tidak sekadar menghasilkan tenaga administratif atau pekerja industri perjalanan ibadah, melainkan melahirkan profesional Muslim yang memahami bahwa melayani jamaah merupakan amanah sekaligus pengabdian kepada Allah.
Kompetensi lulusannya perlu dikembangkan melalui integrasi empat dimensi, yaitu kecakapan manajerial, penguasaan ilmu syariah, kecerdasan psikospiritual, dan kemampuan pelayanan berbasis teknologi digital.
Peluang pengabdian dan karier terbuka pada penyelenggaraan layanan haji dan umrah, lembaga pemerintah sesuai ketentuan rekrutmen, perusahaan perjalanan berizin, pembimbing manasik, lembaga pelatihan, serta kewirausahaan layanan ibadah.
Bagi Sumatera Barat, program studi ini juga berpotensi memperkuat kualitas pembimbing ibadah yang memahami karakter sosial dan budaya masyarakat Minangkabau.
Warisan Syekh Burhanuddin sebagai Keunggulan Institusi
Transformasi STIT Syekh Burhanuddin menuju institut tidak boleh kehilangan identitas historis dan kulturalnya.
Nama Syekh Burhanuddin bukan sekadar identitas kelembagaan. Nama itu mengandung warisan besar pendidikan Islam, jaringan surau, tradisi keulamaan, pengembangan tarekat, dan pembentukan masyarakat religius di Minangkabau.
Warisan tersebut merupakan modal intelektual dan spiritual yang membedakan STIT Syekh Burhanuddin dari perguruan tinggi Islam lainnya.
Di tengah kecenderungan pendidikan tinggi yang semakin berorientasi pada pasar kerja, STIT Syekh Burhanuddin justru memiliki peluang mengembangkan paradigma pendidikan yang mengintegrasikan ilmu, akhlak, spiritualitas, kebudayaan, dan profesionalisme.
Konsep Sarjana Tuanku dan Tuanku Sarjana menjadi salah satu bentuk konkret integrasi pendidikan tinggi modern dengan tradisi keulamaan surau.
Demikian pula Gerakan Taman Pendidikan Indonesia Emas (TPIE), yang telah dideklarasikan pada September 2026, dapat menjadi wadah aktualisasi perguruan tinggi berdampak.
Apabila transformasi kelembagaan menuju IAI berhasil diwujudkan, identitas Syekh Burhanuddin harus menjadi penciri akademik, bukan hanya simbol historis.
Kajian filsafat pendidikan surau, khazanah keulamaan Minangkabau, tasawuf, pendidikan karakter, moderasi beragama, dan manajemen pelayanan keagamaan dapat menjadi pusat keunggulan institut.
Civitas Akademika sebagai Darah Pergerakan
Keberhasilan transformasi STIT menjadi IAI tidak cukup hanya mengandalkan keputusan yayasan atau kebijakan pimpinan.
Transformasi memerlukan gerakan kolektif seluruh unsur perguruan tinggi.
Pimpinan harus menjadi pemberi arah, dinamisator, sekaligus pusat kendali perubahan. Kepemimpinan tidak cukup hanya menjalankan administrasi rutin, tetapi harus mampu membangun visi, menggerakkan sumber daya, menyelesaikan hambatan, dan memastikan setiap program memiliki target yang terukur.
Dosen harus menjadi aktor utama pergerakan akademik. Produktivitas penelitian, publikasi ilmiah, pengembangan kurikulum, inovasi pembelajaran, serta pengabdian kepada masyarakat merupakan indikator penting kemajuan lembaga.
Tenaga kependidikan menjadi pendukung profesional yang memastikan pelayanan administrasi, data akademik, sistem informasi, dan tata kelola berjalan tertib dan akuntabel.
Mahasiswa, alumni, dan masyarakat merupakan komponen yang harus diberdayakan sebagai mitra pengembangan kampus.
Dalam konteks ini, transformasi menuju institut memerlukan perubahan budaya organisasi, dari sekadar mempertahankan keberadaan lembaga menjadi budaya bergerak, berinovasi, berprestasi, dan menghasilkan dampak.
STIT Syekh Burhanuddin tidak cukup hanya bertahan. Kini saatnya tumbuh, berkembang, dan naik kelas.
SK Izin Operasional Telah Terbit: Bukti Kemajuan yang Nyata
Kabar yang lebih menggembirakan, berdasarkan pemberitaan Oke Sinergi tanggal 12 Oktober 2026, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman telah resmi memperoleh Surat Keputusan Izin Operasional Program Studi Manajemen Haji dan Umrah dari Kementerian Agama Republik Indonesia.
SK tersebut diterima langsung oleh Ketua STIT Syekh Burhanuddin, Dr. Neni Triana, M.A., di Kantor Pusat Kementerian Agama RI, Jakarta, dengan pendampingan Dr. Asro'i, M.Pd., Kasubdit Akademik.
Dengan diterimanya izin operasional tersebut, Program Studi Manajemen Haji dan Umrah dinyatakan resmi membuka penerimaan mahasiswa baru.
Pencapaian ini patut disyukuri sebagai hasil kerja kolektif pimpinan perguruan tinggi, yayasan, dan seluruh pihak yang telah mendukung pengembangan STIT Syekh Burhanuddin.
Secara kelembagaan, STIT Syekh Burhanuddin kini memiliki empat program studi yang telah diumumkan memperoleh izin penyelenggaraan, yaitu S1 Pendidikan Agama Islam, S1 Pendidikan Islam Anak Usia Dini, S1 Manajemen Haji dan Umrah, serta S2 Pendidikan Agama Islam.
Agenda berikutnya adalah memperjuangkan izin Program Studi Hukum Keluarga Islam, melengkapi persyaratan perubahan bentuk kelembagaan, dan memperkuat kualitas seluruh program studi.
Agenda Strategis Menuju IAI Syekh Burhanuddin 2027
Target perubahan bentuk menjadi IAI Syekh Burhanuddin pada tahun 2027 memerlukan langkah yang terencana, realistis, dan terukur.
Pertama, mempercepat penyelesaian seluruh dokumen akademik dan administratif sesuai ketentuan Kementerian Agama, termasuk evaluasi kelayakan program studi dan persyaratan perubahan bentuk perguruan tinggi.
Kedua, memperkuat sumber daya manusia melalui pemenuhan dosen tetap yang sesuai bidang keilmuan, peningkatan jabatan akademik, pengembangan kompetensi, dan produktivitas penelitian.
Ketiga, mengembangkan sistem penjaminan mutu internal yang efektif, tata kelola berbasis data, layanan akademik digital, serta kesiapan akreditasi.
Keempat, meningkatkan kualitas sarana dan prasarana, termasuk ruang perkuliahan, perpustakaan, laboratorium pembelajaran, fasilitas pascasarjana, dan pusat kajian keislaman.
Kelima, membangun jaringan kerja sama dengan perguruan tinggi nasional dan internasional, lembaga pemerintah, pesantren, surau, organisasi keagamaan, serta dunia usaha dan industri pelayanan haji dan umrah.
Keenam, menjadikan kekhasan Syekh Burhanuddin, tradisi pendidikan surau, kaderisasi Tuanku, dan Taman Pendidikan Indonesia Emas sebagai keunggulan akademik sekaligus kekuatan pengabdian kepada masyarakat.
Selangkah Lagi, Bukan Berarti Tanpa Tantangan
Optimisme harus disertai kesadaran bahwa perubahan kelembagaan merupakan proses yang menuntut kesungguhan dan konsistensi.
Pembukaan program studi baru adalah capaian penting, tetapi keberhasilan sesungguhnya ditentukan oleh kualitas penyelenggaraan pendidikan dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
IAI Syekh Burhanuddin yang dicita-citakan tidak boleh sekadar menjadi perubahan nama dari sekolah tinggi menjadi institut.
Perubahan itu harus menjadi transformasi substansial dalam budaya akademik, mutu lulusan, produktivitas ilmiah, tata kelola kelembagaan, dan kontribusi sosial.
Dengan kata lain, perubahan status harus diikuti perubahan kualitas.
STIT Syekh Burhanuddin telah menunjukkan bahwa keterbatasan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Sejarah panjang, ketahanan kelembagaan, dukungan yayasan, kerja keras pimpinan, pengabdian dosen, serta kepercayaan masyarakat merupakan kekuatan untuk melangkah lebih jauh.
Kini saatnya seluruh keluarga besar STIT Syekh Burhanuddin menyatukan langkah, menguatkan komitmen, dan menjadikan tahun 2027 sebagai momentum akselerasi kelembagaan.
Penutup:
Dari Kampus Bersejarah Menuju Institut Berdampak
Pembukaan Program Studi Manajemen Haji dan Umrah merupakan kabar baik yang membawa harapan baru bagi pendidikan tinggi Islam di Pariaman.
Kehadiran program studi tersebut memperluas pelayanan pendidikan, memperkuat diversifikasi keilmuan, dan membuka peluang pengembangan profesionalisme dalam pelayanan ibadah umat Islam.
Lebih jauh, capaian ini menjadi bagian penting dari perjalanan STIT Syekh Burhanuddin menuju Institut Agama Islam Syekh Burhanuddin.
Kita berharap proses transformasi tersebut memperoleh kemudahan, dukungan, dan keberkahan dari Allah SWT.
Cita-cita besarnya bukan hanya menghadirkan sebuah institut, tetapi membangun pusat pendidikan Islam yang unggul, berakar pada warisan keulamaan Syekh Burhanuddin, menguasai ilmu pengetahuan modern, dan memberikan manfaat nyata bagi umat serta bangsa.
Dari surau lahir ulama. Dari kampus lahir sarjana. Dari IAI Syekh Burhanuddin diharapkan lahir generasi ulama-intelektual, profesional Muslim, dan pemimpin peradaban.
Selangkah lagi menuju IAI Syekh Burhanuddin Pariaman 2027. Bersama bergerak, bersama berkhidmat, bersama mewujudkan kampus berdampak. Pariaman, 12 Oktober 2026

