![]() |
| Atlet Federasi Arum Jeram Indonesian sedang ikut Porprov XVI Sumatera Barat, berlaga di Aek Nabirong, Silaping, Pasaman Barat. |
Luar biasa. Momen kejuaraan olahraga yang seharusnya menjadi panggung kehormatan, kini resmi berganti menjadi wahana roller coaster emosi paling absurd tahun ini.
Mari kita beri tepuk tangan paling meriah untuk sebuah keputusan fantastis: Perolehan medali para atlet resmi dianulir hanya karena hasil “Keputusan RAKOR”!
Ya, Anda tidak salah dengar. Bukan karena atlet kami menggunakan doping, bukan karena kecurangan di lapangan, dan jelas bukan karena melanggar aturan pertandingan—karena di arena, Teknikal Delegasi (TD) cabor resmi memperbolehkan mereka bertanding. Namun, apa gunanya restu dari para ahli teknis di lapangan jika pada akhirnya nasib keringat atlet bisa digaris bawahi dan dihapus begitu saja di dalam ruang rapat ber-AC yang dingin?
"Tuan dan Puan yang Terhormat, Mari Bicara Soal SIRIMAU..."
Tujuan panitia menggunakan sistem pendataan pendataan SIRIMAU tentu sangat mulia, mutakhir, dan berniat baik. Tapi mari kita jujur: mengapa sistem yang belum valid dan belum sempurna ini justru mengorbankan darah.
Apakah aplikasi yang error atau data yang glitch bisa merasakan rasanya cedera otot? Bisakah barisan kode dalam sistem itu merasakan bagaimana atlet kami menahan sakit, memutus napas di detik-detik terakhir demi mengharumkan nama daerah?
Sistemnya yang belum siap, tapi atlet yang menanggung hukumannya. Sungguh sebuah logika administrasi yang sangat efisien!
"Lempar Bola, Cuci Tangan, dan Korban di Sudut Ring"
Sekarang, pertunjukan berlanjut ke babak berikutnya: Drama Lempar Bola.
KONI Kabupaten/Kota dan KONI Provinsi seolah-olah sibuk saling menunjuk, lalu dengan sangat kompak menjadikan TD Cabor sebagai kambing hitam. "Kenapa dibiarkan bertanding?" kata mereka. Padahal, jika sejak awal ada niat melindungi atlet, penyelesaiannya tidak akan sekasar ini.
Lalu, bagaimana dengan atlet-atlet kami?
Mental mereka dihempas: Bayangkan rasa bangga saat medali dikalungkan di leher, lalu dalam semalam status juara itu dicabut bukan karena mereka kalah, tapi karena "masalah sistem". Apa yang harus kami katakan pada orang tua mereka yang menangis haru di tribun?
Bonus yang terancam melayang: Bagi sebagian pejabat, bonus mungkin sekadar angka anggaran. Tapi bagi para atlet, bonus itu adalah pengganti biaya suplemen, pendorong ekonomi keluarga, dan ganjaran atas berbulan-bulan latihan berat yang menyiksa fisik.
Suara Hati Seorang Ketua Cabor
Sebagai Ketua Cabor, hati saya hancur. Saya melihat sendiri bagaimana atlet kami bertumpah darah, bertanding dalam rasa sakit, bahkan ada yang harus pulang membawa cedera fisik yang belum tentu sembuh dalam hitungan minggu.
Tujuan modernisasi sistem itu baik, kami dukung! Tapi di mana hati nurani kalian? Apakah selembar kertas keputusan RAKOR dan kelemahan sebuah aplikasi lebih berharga daripada harkat, martabat, dan perjuangan seorang atlet?
Kami tidak butuh aksi saling tuding atau narasi cuci tangan. Yang kami butuhkan hari ini adalah SOLUSI YANG MEMILIKI HATI NURANI.
Tolong jawab pertanyaan sederhana dari kami yang ada di lapangan ini:
"Lalu, bagaimana dengan nasib atlet-atlet kami...?
Mailon Maneza

