![]() |
oleh Reiner Emyot Ointoe
"Sebuah teks adalah alam semesta yang terbuka di mana interpreter dapat menemukan interkoneksi tak terbatas... Namun ia tidak berhak mengatakan bahwa pesan tersebut dapat bermakna apa saja. Teks dapat bermakna banyak hal, tetapi ada arti-arti tertentu yang sangat konyol untuk diajukan." -- Umberto Eco(1932-2016), Misreading)1993).
Biru Laut adalah tokoh fiksi. Nama dari seorang aktivis korban kerusuhan 1998.
Biru Laut—tokoh utama yang merepresentasikan kedukaan sekaligus keberanian para aktivis mahasiswa 1998.
Ia, tokoh fiksi yang hidup dalam alur ingatan yang sunyi di bawah labirin sejarah reformasi.
Namun, kelak, melalui narasi Leila S. Chudori -- Laut Bercerita, kini mencapai cetakan ke-121 pada Juni 2026 silam -- memahat luka sejarah penyiksaan, penghilangan paksa, serta keheningan menyiksa yang ditanggung oleh keluarga korban yang ditinggalkan.
Novel ini mengisahkan ketakutan, persahabatan di tengah ancaman represi Orde Baru, dan ironi ruang hampa tempat orang-orang terkasih menunggu kepastian tanpa akhir.
Ketika naskah sastra yang telah mengetuk kesadaran publik ini -- masuk cetakan 121 kali dengan asumsi rata-rata 3000 pembaca -- melangkah ke medium sinematik di bawah arahan sutradara Yosep Anggi Noen.
Dari tayang perdana di Busan International Film Festival(BIFF) pada 11 Oktober lalu, kisah itu mendapat standing ovation panjang sebelum rilis luasnya pada 26 Oktober 2026 nanti.
Dengan kata lain, setelah sukses dengan asumsi 363.000 pembaca, apakah sebuah proses alihwahana berskala besar pun bisa sesukses sebagai bacaan.
Proses alihwahana dari sastra ke film, sebagaimana dirumuskan oleh Sapardi Djoko Damono, bukan sekadar pemindahan kata menjadi gambar.
Melainkan pula, sebuah penerjemahan antar-medium yang menuntut penceritaan ulang dengan konvensi bahasa estetika yang sama sekali baru.
Dalam konteks adaptasi Laut Bercerita, Yosep Anggi Noen berhadapan dengan estetika teks Leila S. Chudori yang sangat berakar pada monolog batin, puitisisme penderitaan, serta metafora air dan laut yang mencekam.
Bicaralah. Bagaimana deskripsi teks dalam imajinasi pembaca beralih ke deskripsi sinematik para penonton?
Novel karya Leila S. Chudori berjudul Laut Bercerita menandai sebuah sujet dalam monolog.
Konsep ini menjelaskan mengapa sebuah cerita tidak selalu harus dimulai dari pengenalan awal kronologis.
Namun, Laut bisa dibuka di tengah cerita atau langsung menuju klimaks demi membangun efek dramatis, ketegangan psikologis, dan makna estetika tertentu bagi penikmatnya.
Pada bagian awal novel (Prolog) yang menggunakan sudut pandang tokoh utama Biru Laut Wibisono terselia kalimat berikut.
"Semakin dalam, entah berapa ribu meter aku melayang menuju dasar.
Dan akhirnya, tubuhku berdebam melekat ke dasar laut, di antara karang dan rumput laut disaksikan serombongan ikan-ikan kecil yang tampaknya iba melihatku.
Aku menyadari: aku telah mati.
Tubuhku akan berada di dasar laut ini selama-lamanya, dan jiwaku telah melayang entah ke mana.
Sementara ikan-ikan biru, kuning, ungu, jingga mencium pipiku; seekor kuda laut melayang-layang di hadapanku, aku mendengar suara ketukan yang keras. Sebuah ketukan pada sebilah papan kayu..."
Secara teks visualisasi imajinasi pembaca mudah menangkap maksud prolog tentang sang tokoh.
Dengan demikian, kekuatan utama dari alihwahana sinematik ini terletak pada keberanian sutradara untuk mengeksplorasi bahasa visual yang puitis dan puitika kesunyian.
Kamera tidak sekadar merekam aksi fisik penculikan atau intimidasi, melainkan menangkap kedalaman psikologis "character study" melalui pencahayaan yang remang.
Ada tempo yang lambat, dan bahasa tubuh para aktor yang sarat beban sejarah.
Seperti bicaralah deskripsi diri sang tokoh, terdapat penyebutan frase "laut biru" menjelang akhir prolog ketika ia mengenang namanya.
"Semua berbaur, saling berkelebatan seperti sebuah pemutaran film hitam putih yang dipercepat.
Aku merasakan arus bawah laut itu berputar-putar memelukku.
Begitu erat, begitu hangat, seolah aku adalah bagian dari laut ini.
Mungkin itu sebabnya Ibu dan Bapak memberiku nama Biru Laut."
Laut harus membaca dua momen dalam imaji teks dan serangkaian paparan sinematik dan penglihatan atas tindakan teks pada aktor.
Kekuatan sinematik ini berhasil mewujudkan atmosfer traumatis yang dalam teks berupa deskripsi verbal menjadi bentuk spasial yang konkret dan meresap ke dalam indra penonton.
Dengan demikian, setiap proses alihwahana tidak pernah luput dari kelemahan atau batas-batas pengurangan loss and gain.
Kelemahan yang muncul dalam pemindahan karya ini adalah hilangnya kompleksitas monolog dalam dan detail naratif yang sangat kaya dalam novelnya.
Teks sastra memiliki keleluasaan merentang waktu subjektif.
Mengutip Eco mengatakan:
"Beberapa teori kritik kontemporer menegaskan bahwa satu-satunya pembacaan yang dapat diandalkan dari sebuah teks adalah pembacaan yang keliru, bahwa eksistensi sebuah teks semata-mata ditentukan oleh rantai respons yang ditimbulkannya..."
Teks novel membiarkan pembaca menyelami pikiran terdalam Biru Laut atau penderitaan Asmara Jati secara bertahap.
Ketika dikondensasikan ke dalam durasi film, beberapa jaringan emosional antar-tokoh serta lapisan peristiwa politik historis berisiko mengalami penyederhanaan.
Sensasi subjektif saat membaca tulisan Leila yang personal dan mendalam terkadang terputus oleh jarak objektif yang diciptakan oleh lensa kamera.
Kritik alih wahana dari teks sastra ke medium film dari karya Leila S. Chudori ang merujuk pada edisi cetakan ke-121 bulan Juni 2026 —dan adaptasi filmnya yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen -- dapat dianalisis melalui kerangka pemikiran semiotika dan pembacaan teks.
Salah satunya, ulasan Umberto Eco dalam kumpulan esai satirisnya berjudul Misreadings(1993).
Melalui Eco dikatakan bahwa proses membaca dan menafsirkan sebuah teks sastra maupun film tidak pernah luput dari kemungkinan "misreading" atau salah pembacaan yang kreatif.
Karena, pembaca atau penonton secara aktif membangun makna baru yang terkadang melampaui intensi awal dari pengarangnya.
Dalam Misreading teoritisnya, terutama sangat berkaitan dengan overinterpretation dan hermeneutika teks.
Berikut tandasnya, "Inisiatif penerima(penonton/pembaca) ... dapat menemukan dukungannya dalam sistem signifikasi film tersebut, atau bahkan dapat memodifikasinya secara keseluruhan..."
Transformasi sebuah novel sejarah dan penculikan aktivis berlatar Orde Baru ke dalam bentuk audio-visual layar lebar menuntut adanya pergeseran tanda.
Meski hanya menonton thriller-nya, tampak dalam tafsir saya, sutradara Yosep Anggi Noen tidak sekadar memindahkan kata-kata tertulis ke dalam bentuk visual,
Malahan, ia kerap melakukan interpretasi ulang atau penafsiran lapis kedua terhadap narasi utama Biru Laut Wibisono.
Mengacu pada gagasan-gagasan dasar Eco dalam Misreadings, bicaralah bagaimana sebuah teks kerap mengalami salah baca yang produktif, interpretasi kreatif, atau pembongkaran atas kemapanan penafsiran tunggal.
Dengan demikian, film garapan Anggi Noen ini dapat memperlakukan novel Leila S. Chudori bukan sebagai teks yang sakral dan tak tersentuh.
Bahkan sebagai prasasti terbuka dari sejarah faktual ke fiksional teks dan gambar, hadir kerentanan terhadap penekanan negosiasi makna visual yang kuat.
Ketika novelnya menekankan kedalaman psikologis dan penderitaan internal melalui monolog batin Biru Laut serta sudut pandang berganti dari Asmara Jati, medium film kerap -- atau memang terpaksa -- menerjemahkannya melalui sunyi, gestur minimalis, serta lanskap sinematik yang mewakili trauma kolektif masa lalu.
Pendekatan ini sejalan dengan kritik budaya Eco bahwa setiap pembacaan— termasuk pembacaan seorang sutradara terhadap novel laris tersebut — selalu melibatkan proses penambahan, pengurangan, dan pergeseran tanda yang menghasilkan otonomi karya baru tanpa harus kehilangan esensi historis dari teks sumber aslinya.
Pada akhirnya, alihwahana Laut Bercerita karya Yosep Anggi Noen tetaplah sebuah pencapaian estetis yang penting dalam lanskap perfileman dan sastra Indonesia modern.
Sambutan meriah di Busan mengukuhkan bahwa penderitaan dan penegakan kemanusiaan yang diusung oleh novel Leila Chudori memiliki bahasa universal yang melampaui batas batas negara dan medium.
Baik melalui lembaran cetakan novel maupun pendar cahaya di layar perak, Laut terus bicara dan mengajak kita untuk terus membaca, mengingat, serta menolak lupa pada jejak-jejak ketidakadilan sejarah.
Jakarta - Manado, 18 Oktober 2026 -- Batik Air ID 6742.
#credit foto Biru Laut di palung laut memeluk novel Laut Bercerita(Cetakan 121 Juni 2026) atas perbuatan AI,
#coverlagu:
Lagu "Biru Laut (Live)" yang dibawakan oleh Rehan Darso Putra (bersama Riyanti Darlia dan diproduksi di bawah naungan label Bandung Music) dirilis secara resmi pada tanggal 21 Juli 2025.

