![]() |
oleh Reiner Emyot Ointoe
“Imajinasi bukanlah sebuah kekuatan empiris yang ditambahkan pada kesadaran, ia adalah kesadaran itu sendiri yang mewujudkan kebebasan.” -- Jean Paul Sartre (1905-1980), L’Imaginaire (1940).
Tadi malam, Badan Pengurus Satupena hasil kongres 13 Agustus 2026 menggelar rapat daring Obrolan Hatipena#203 dengan tajuk: Satupena dan Masa Depan Penulis Indonesia.
Diawal Obrolan Hatipena, yang diikuti tak kurang dari 80 peserta, Ketua Umum terpilih, Denny JA PhD, menyampaikan pengantarnya yang memukau dan prospektif.
Dengan mengawali wacananya, ia menegaskan bahwa asosiasi para penulis di Satupena akan dipeluas cakrawala gagasan imajinasi mereka menyebrang secara geografi kultural.
Ia mencontoh bagaimana karya "Unknown Writer from Schandinavia", Sigfrid Unset(1882-1949) kelahiran Kalundborg, Denmark,
dan wafat di Norwegia -- peraih Nobel Sastra 1928, dalam trilogi Kristin Lavransdatter: , Marta Oulie(1907), Jenny (1911), Gunnar’s Daughter(1909) -- menembus pasar international setelah disalin ke dalam bahasa Inggris.
Bertolak dari satu sumber otentik para penulis, imajinasi, Ketum Satupena ini, akan mengawali pula program akbarnya dengan menyalin kurang lebih 126 karya imajinasi para penulis di Satupena ke dalam bahasa Inggris.
Agenda kerja yang ambius sekaligus memukau ini mengingatkan pada tradisi publikasi riset dan penulisan ilmiah Mahzab Frankfurt dari Institut für Sozialforschung.
Adalah Martin Jay, lahir 1944 dan masih aktif sebagai sejarawan intelektual di University of California, Berkeley, yang merekam secara mendalam bagaimana kerja intelektual para pentolan pemikir kontemporer asal Jerman.
Rekaman dari tradisi riset dan penulisan pemikiran yang kelak dikenal dengan nama populer mahzab Teori Kritis, Jay mengulasnya dalam The Dialectical Imagination: A History of the Frankfurt School and the Institute of Social Research, 1923–1950(1973).
Tepatnya, karya Jay sebagai karya klasik yang menyingkap hakikat imajinasi dialektis dalam tradisi Teori Kritis dan masih relevan dirujuk selain karya Thomas McCarthy, Teori Kritis (1982).
Mengutip Jay, hakikat imajinasi dialektis adalah kemampuan berpikir kritis yang tidak membeku dalam sistem tertutup, melainkan selalu bergerak antara teori dan praksis, antara filsafat dan pengalaman sosial.
Ia pun menekankan bahwa para pemikir Frankfurt School -- Horkheimer, Adorno, Marcuse, Benjamin -- juga penerusnya, Fromm dan Habermas, mencoba menjawab kegagalan revolusi proletar pasca Perang Dunia I.
Selain itu, para perintis mahzab ini mengalihkan fokus dari ekonomi ke budaya, dari determinisme material ke analisis kompleks tentang otoritas, keluarga, psikologi, dan industri budaya.
Dialektika di sini bukan sekadar metode logis, melainkan imajinasi yang mampu menyingkap kontradiksi kapitalisme modern, menolak dogma, dan membuka ruang bagi emansipasi.
Dikutip ringkas, Jay menulis bahwa “Critical Theory rejects closed systems and embraces dialectical critique,” -- "Teori Kritis menolak sistem tertutup dan menganut kritik dialektis."
Atau, sebuah kutipan yang merangkum semangat imajinasi dialektis sebagai sikap anti-dogmatis dan reflektif terhadap sejarah.
Ia pun menunjukkan bagaimana Institut für Sozialforschung, sejak berdiri tahun 1923 di Frankfurt, berusaha mempertahankan otonomi intelektual dan finansial agar dapat mengembangkan riset interdisipliner.
Dengan demikian, sejarah ringkas lembaga ini mencatat pergeseran dari Marxisme mekanistik ke Teori Kritis yang lebih kaya
Dengan integrasi psikoanalisis dan sosiologi, serta analisis tentang otoritarianisme dan budaya massa, sejarah lembaga ini pula yang mewariskan suatu tatanan ekosistem berpikir sebagai kerja imajinasi dialektis.
Arkian, The Dialectical Imagination bukan hanya kronik institusional, melainkan juga refleksi filosofis tentang bagaimana imajinasi dialektis menjadi inti dari Teori Kritis tetap relevan sebagai warisan dan tradisi berpikir yang digerakkan oleh imajinasi dialektis.
Teori yang kelak mendedahkan sebuah cara berpikir yang selalu menolak reduksi.
Juga, menyingkap kontradiksi, dan menempatkan teori sebagai mitra praksis dalam perjuangan melawan dominasi.
Akhirnya, gagasan agung dalam gerak dan kerja imajinasi para penulis Satupena -- lewat ungkapan Ketum bersama organisasi ini -- kelak akan dirasakan seperti sejarah Mahzab Frankfurt 1923-1950.
Tegasnya, karya-karya penulis Satupena -- dengan menyalin 126 karya imajinasi ke dalam bahasa Inggris selama satu periode -- pada 2049 nanti akan terjual dan dibaca sebagai Weltliteratur.
Manado, 11 September 2026 -- ReO Bibliothek Kokima Hill.
#credit foto Ketum dari Obrolan Hatipena#203.

