Type Here to Get Search Results !

Mengapa Kita Harus Menulis? Membaca Mengenal Dunia, Menulis Membuat Dunia Mengenal Kita



Oleh: Duski Samad

Menulis sering dianggap pekerjaan penulis, wartawan, sastrawan, atau akademisi. Orang yang merasa tidak mempunyai bakat menulis kemudian mengambil jarak. “Saya bukan penulis,” katanya. Padahal menulis bukan semata profesi. Menulis adalah cara manusia menyimpan ingatan, mengikat ilmu, mewariskan pengalaman, dan memperpanjang manfaat kehidupan.

Setiap manusia sesungguhnya mempunyai bahan untuk ditulis. Seorang guru mempunyai pengalaman mendidik. Ulama memiliki pengetahuan dan pengalaman membimbing umat. Petani memahami tanah, musim, dan tanaman. Ibu dan ayah mempunyai pengalaman membesarkan anak. Perantau menyimpan cerita tentang perjuangan. Pemimpin memiliki pengalaman mengelola manusia dan organisasi. Bahkan seseorang yang pernah gagal mempunyai pengetahuan yang mungkin sangat berguna agar orang lain tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Masalahnya, sebagian besar pengalaman itu hanya tersimpan dalam ingatan. Ketika pemiliknya pergi, pengetahuan dan pengalaman tersebut ikut menghilang.

Di situlah pentingnya menulis.

Perintah Langit Bernama Iqra’

Islam mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan tradisi literasi. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bahkan dimulai dengan sebuah perintah: Iqra’, bacalah.

“Iqra’ bismi rabbikalladzÄ« khalaq” — “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan” (QS. Al-‘Alaq: 1).

Menariknya, rangkaian wahyu pertama itu tidak hanya berbicara tentang membaca. Beberapa ayat kemudian Allah SWT menyebut al-qalam, pena: “AlladzÄ« ‘allama bil-qalam” — “Yang mengajar manusia dengan pena” (QS. Al-‘Alaq: 4).

Iqra’ dan qalam seperti dua sayap peradaban. Membaca memungkinkan manusia menerima pengetahuan, sedangkan menulis memungkinkan pengetahuan disimpan dan diwariskan.

Karena itu ada ungkapan yang menarik: “Dengan membaca kita mengenal dunia, dengan menulis dunia mengenal kita.”

“Dikenal dunia” tentu tidak selalu berarti terkenal. Dunia itu mungkin hanya anak dan cucu kita, murid, mahasiswa, jamaah, masyarakat kampung, atau generasi yang hidup puluhan tahun setelah kita meninggal dunia.

Melalui tulisan mereka dapat mengetahui bahwa kita pernah hidup, berpikir, berjuang, dan mempunyai sesuatu yang ingin diwariskan.

Mengikat Ilmu

Manusia mempunyai keterbatasan yang tidak dapat dihindari: lupa.

Pengetahuan yang hari ini begitu jelas dalam ingatan dapat menjadi samar beberapa tahun kemudian. Nama terlupakan, peristiwa berubah dalam ingatan, tanggal tertukar, dan cerita akhirnya bercampur antara fakta dan interpretasi.

Karena itulah menulis menjadi penting.

Ada ungkapan terkenal dalam tradisi keilmuan: “Ikatlah ilmu dengan tulisan.”

Ilmu yang hanya disimpan dalam ingatan mengikuti keterbatasan pemiliknya. Tetapi ketika dituliskan, ilmu memperoleh kesempatan untuk hidup lebih lama.

Kita dapat menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Berapa banyak sejarah keluarga yang akhirnya hanya diawali dengan kalimat, “Kata orang tua dahulu....” Berapa banyak sejarah surau yang hilang karena guru-guru tua telah wafat? Berapa banyak perjalanan organisasi tidak lagi diketahui karena tidak pernah didokumentasikan?

Bahkan riwayat ulama, tuanku, guru, ninik mamak, dan tokoh masyarakat dapat hilang hanya dalam dua atau tiga generasi.

Maka menulis bukan sekadar merangkai kata.

Menulis adalah menyelamatkan ingatan.

Ingatan pribadi yang ditulis dapat menjadi memori keluarga. Memori keluarga dapat menjadi sejarah masyarakat. Sejarah masyarakat pada waktunya menjadi bagian dari pengetahuan sebuah bangsa.

Berdialog dengan Masa Depan

Ucapan mempunyai batas ruang dan waktu. Ceramah selesai ketika majelis berakhir. Percakapan berakhir ketika orang berpisah. Nasihat lisan dapat hilang ketika pendengarnya lupa.

Tulisan mempunyai nasib berbeda.

Sebuah kitab dapat berbicara kepada manusia yang hidup berabad-abad setelah penulisnya wafat. Surat lama dapat menjelaskan kehidupan sebuah keluarga. Manuskrip dapat membuka sejarah sebuah masyarakat. Catatan perjalanan sederhana dapat menjadi sumber penelitian puluhan tahun kemudian.

Artinya, ketika seseorang menulis hari ini, ia sebenarnya tidak hanya berbicara kepada manusia hari ini.

Menulis adalah berdialog dengan masa depan.

Boleh jadi sesuatu yang sekarang dianggap biasa justru menjadi informasi penting lima puluh atau seratus tahun mendatang.

Catatan tentang sebuah surau hari ini mungkin menjadi sumber sejarah pada masa depan. Pengalaman seorang guru menghadapi perubahan perilaku murid dapat menjadi bahan kajian pendidikan. Cerita seorang perantau dapat menjelaskan perubahan sosial suatu masyarakat.

Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan, “Pengalaman saya tidak penting.”

Yang biasa bagi kita belum tentu biasa bagi generasi berikutnya.

Tulisan Memanjangkan Umur

Setiap manusia mempunyai batas usia. Tidak seorang pun dapat menghindarinya.

Namun manusia mengenal bentuk “usia” lain, yakni usia manfaat.

Kita masih membaca pikiran manusia yang hidup ratusan tahun lalu. Kita mengetahui kegelisahan, pemikiran, pengalaman, bahkan perdebatan mereka karena ada tulisan yang ditinggalkan.

Penulisnya telah wafat, tetapi bukunya masih dibaca. Ulama telah tiada, tetapi kitabnya masih dikaji. Guru telah meninggal, tetapi catatannya masih digunakan. Orang tua telah kembali kepada Allah, tetapi nasihat yang ditulisnya masih dibaca anak dan cucu.

Jasad berhenti, tetapi gagasan terus berjalan.

Dalam pengertian inilah tulisan memanjangkan umur intelektual dan umur manfaat seseorang.

Pertanyaan kehidupan akhirnya bukan hanya, “Berapa lama kita hidup?”

Ada pertanyaan lain yang lebih penting:

“Berapa lama manfaat kita tetap hidup setelah kita tiada?”

Harta Bernama Tulisan

Manusia bekerja sepanjang hidup untuk mengumpulkan harta. Rumah, tanah, kendaraan, tabungan, dan berbagai aset diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan.

Tetapi ada satu bentuk kekayaan yang sering terlupakan: kekayaan intelektual.

Tulisan adalah salah satunya.

Harta material dapat habis, rusak, atau berpindah kepemilikan. Sebaliknya, gagasan yang ditulis dapat diberikan kepada ribuan orang tanpa membuat pemiliknya kehilangan gagasan tersebut.

Sebuah buku dapat dibaca ribuan orang. Sebuah artikel dapat mengubah cara pandang seseorang. Sebuah catatan dapat menjadi sumber penelitian. Sebuah nasihat tertulis dapat menjadi pegangan beberapa generasi.

Tulisan adalah deposito gagasan, tabungan pengalaman, dan investasi peradaban.

Nilainya tidak selalu dapat diukur dengan uang. Ada tulisan yang mungkin tidak pernah menghasilkan honor besar, tetapi mengubah kehidupan seseorang. Ada buku yang penjualannya biasa saja, tetapi menjadi rujukan selama puluhan tahun.

Menulislah Sebelum Cerita Itu Hilang

Tidak semua tulisan harus menjadi buku. Tidak semua orang harus menjadi sastrawan.

Mulailah dari apa yang paling dekat.

Tuliskan sejarah keluarga. Catat pengalaman menjadi guru. Dokumentasikan perjalanan organisasi. Tuliskan sejarah kampung dan nagari. Catat perkembangan surau. Rekam cerita ulama dan guru tua. Tuliskan pengalaman merantau. Dokumentasikan nasihat orang tua.

Jangan menunggu menjadi orang besar untuk menulis.

Justru orang-orang yang dianggap “biasa” sering menyimpan pengalaman luar biasa yang tidak pernah masuk ke dalam buku sejarah.

Setiap manusia sesungguhnya membawa sebuah perpustakaan di dalam dirinya. Di dalamnya tersimpan pengalaman, ilmu, kenangan, kegagalan, keberhasilan, cinta, kehilangan, perjuangan, dan kebijaksanaan.

Sayangnya, terlalu banyak perpustakaan itu akhirnya terkubur bersama pemiliknya karena tidak pernah dituliskan.

Maka menulislah sebelum cerita itu hilang.

Menulislah bukan hanya agar terkenal. Bukan semata-mata untuk memperoleh honor atau penghargaan. Menulislah karena ilmu perlu diikat, pengalaman perlu diwariskan, sejarah perlu diselamatkan, dan kebaikan perlu diperpanjang manfaatnya.

Membacalah agar kita mengenal dunia.

Menulislah agar dunia mengenal kita.

Lebih dari itu, menulislah agar generasi sesudah kita tidak harus selalu memulai semuanya dari nol. Biarkan mereka belajar dari pengalaman kita, melanjutkan yang baik, memperbaiki yang keliru, dan mencapai sesuatu yang belum sempat kita capai.

Pada akhirnya manusia akan pergi. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan memudar. Harta akan berpindah tangan.

Tetapi tulisan yang bermanfaat dapat terus tinggal dan berjalan dari generasi ke generasi.

Manusia boleh selesai menjalani hidupnya, tetapi ilmu, gagasan, pengalaman, dan kebaikan yang dituliskannya dapat terus hidup melampaui zamannya.

Itulah mengapa kita harus menulis. 01092026

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.