![]() |
Oleh: Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag.
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Wirid Bulanan Majelis Taklim Indonesia, Ahad, 1 November 2026, Masjid Baiturrahmah By Pass, Padang.
Banyak Belajar, Belum Tentu Terpelajar
Belajar adalah kewajiban sepanjang hayat. Namun, tidak semua orang yang banyak belajar otomatis menjadi manusia terpelajar. Pendidikan tidak cukup diukur melalui ijazah, gelar akademik, atau banyaknya pengetahuan. Hakikat keterpelajaran terletak pada kemampuan mengubah ilmu menjadi kesadaran, adab, akhlak, dan amal kebajikan.
Orang terpelajar (well-educated person) bukan sekadar orang pintar, melainkan pribadi yang mampu menggunakan kecerdasannya untuk membangun kehidupan bermartabat. Ilmu yang tidak membentuk karakter dapat melahirkan manusia cerdas tetapi kehilangan integritas, bahkan menggunakan pengetahuannya untuk merugikan orang lain.
Di sinilah majelis taklim memiliki kedudukan strategis sebagai institusi pendidikan Islam berbasis masyarakat. Majelis taklim bukan sekadar tempat mendengarkan ceramah, melainkan ruang pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning) untuk membentuk manusia yang semakin beriman, berilmu, beradab, dan bermanfaat.
Majelis Taklim sebagai Pendidikan Sepanjang Hayat
Dalam tradisi Islam, pendidikan berlangsung melalui ta'lim (pengajaran), tarbiyah (pembinaan), tazkiyah (penyucian jiwa), dan ta'dib (pembentukan adab). Keempatnya menjadi fondasi majelis taklim sebagai pusat pembelajaran masyarakat.
Allah SWT mengajarkan doa, Rabbi zidni 'ilma, "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku" (QS. Thaha [20]: 114). Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak boleh merasa selesai belajar.
Konsep tersebut sejalan dengan pendidikan sepanjang hayat yang dikembangkan UNESCO melalui empat pilar pembelajaran: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together (Delors et al., 1996).
Dalam Islam, pendidikan sepanjang hayat memperoleh dimensi transendental: belajar untuk mengenal Allah, memperbaiki diri, dan mengabdi kepada kemanusiaan.
Semakin bertambah usia, seharusnya semakin matang kebijaksanaan. Semakin banyak mengikuti pengajian, semestinya semakin baik perilaku dan semakin luas kepedulian sosial.
Ilmu sebagai Bekal Amanah Kekhalifahan
Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya: Wa 'allama Adama al-asma'a kullaha (QS. Al-Baqarah [2]: 31). Selanjutnya, ayat 32 menggambarkan pengakuan malaikat bahwa pengetahuan mereka terbatas pada apa yang Allah ajarkan.
Rangkaian ayat ini menunjukkan kedudukan ilmu sebagai bekal penting manusia menjalankan amanah kekhalifahan di bumi.
Khalifah bukan semata penguasa, tetapi manusia yang bertanggung jawab memelihara kehidupan, menegakkan keadilan, dan menghadirkan kemaslahatan.
Karena itu, pendidikan harus menghasilkan manusia yang cerdas sekaligus bermoral. Kecerdasan tanpa integritas berpotensi melahirkan manipulasi, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Sebaliknya, ilmu yang dipandu iman dan akhlak melahirkan kebijaksanaan.
Lima Indikator Manusia Terpelajar Menurut Al-Qur'an
Al-Qur'an memberikan landasan untuk merumuskan lima karakter utama manusia terpelajar.
Dimensi| Landasan Al-Qur'an| Indikator Keterpelajaran
Rabbani| Al-A'raf [7]: 172; Ali 'Imran [3]: 79| Bertauhid, amanah, ikhlas, dan bertanggung jawab
Fitrah suci| Ar-Rum [30]: 30; Asy-Syams [91]: 9| Menjaga kesucian jiwa dan menghindari sifat tercela
Qalbun salim| Asy-Syu'ara [26]: 88–89| Jujur, pemaaf, rendah hati, dan berempati
Ulul albab| Ali 'Imran [3]: 190–191| Kritis, reflektif, memadukan zikir dan pikir
Nafsul mutmainnah| Al-Fajr [89]: 27–30| Tenang, sabar, tawakal, dan mampu mengendalikan diri
Rabbani: Kepribadian Berbasis Ketuhanan
Kesadaran rabbani berpangkal pada kesaksian primordial manusia: Alastu birabbikum, qalu bala syahidna—"Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul, kami bersaksi" (QS. Al-A'raf [7]: 172).
Manusia terpelajar menjadikan kesadaran ketuhanan sebagai orientasi hidup. Ilmunya melahirkan kejujuran dalam bekerja, keadilan dalam memimpin, dan tanggung jawab dalam kehidupan sosial.
Fitrah Suci: Pendidikan sebagai Penyucian Jiwa
Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan menurut fitrah-Nya (QS. Ar-Rum [30]: 30). Fitrah tersebut harus dipelihara melalui pendidikan dan penyucian jiwa.
Qad aflaha man zakkaha—"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya" (QS. Asy-Syams [91]: 9).
Orang terpelajar bukan yang merasa paling suci, melainkan yang terus memperbaiki diri dan membersihkan hati dari kesombongan, iri, dengki, dan riya.
Qalbun Salim: Kesehatan Hati sebagai Ukuran Akhlak
Allah menyatakan bahwa keselamatan akhirat berkaitan dengan hadirnya manusia membawa qalbun salim, hati yang bersih (QS. Asy-Syu'ara [26]: 89).
Dalam tasawuf, hati merupakan pusat kesadaran spiritual dan moral. Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din menempatkan pembinaan hati sebagai bagian penting pendidikan manusia.
Ilmu yang benar seharusnya menjadikan seseorang lebih jujur, mudah memaafkan, tidak pendendam, dan semakin peduli terhadap penderitaan sesama.
Ulul Albab: Menyatukan Zikir dan Pikir
Al-Qur'an menggambarkan ulul albab sebagai manusia yang mengingat Allah sekaligus memikirkan penciptaan langit dan bumi (QS. Ali 'Imran [3]: 190–191).
Manusia terpelajar tidak memisahkan spiritualitas dan rasionalitas. Ia mampu berpikir kritis tanpa kehilangan kerendahan hati, serta beragama secara mendalam tanpa mengabaikan ilmu pengetahuan.
Dalam masyarakat digital, karakter ulul albab diperlukan agar umat tidak mudah terjebak hoaks, fitnah, dan manipulasi informasi.
Nafsul Mutmainnah: Kematangan Spiritual
Puncak pembinaan jiwa tergambar dalam seruan Allah: Ya ayyatuhan nafsul mutmainnah—"Wahai jiwa yang tenang" (QS. Al-Fajr [89]: 27).
Jiwa mutmainnah bukan berarti kehidupan tanpa persoalan, melainkan kemampuan menghadapi ujian dengan kesabaran, ikhtiar, tawakal, dan keridaan kepada Allah.
Ketenangan spiritual menjadikan seseorang tidak mudah dikuasai kemarahan, keserakahan, atau ambisi duniawi.
Dari Majelis Taklim Menuju Masyarakat Terpelajar
Keberhasilan majelis taklim tidak cukup diukur dari jumlah jamaah, frekuensi pengajian, atau panjangnya ceramah. Ukuran utamanya adalah perubahan perilaku.
Apakah jamaah semakin jujur, keluarganya semakin harmonis, hubungan sosial semakin rukun, dan kepeduliannya terhadap sesama semakin nyata?
Majelis taklim harus berkembang menjadi pusat pembentukan masyarakat pembelajar (learning society) yang menyatukan ilmu, iman, adab, dan pengabdian sosial.
Semakin banyak belajar, semakin rendah hati. Semakin tinggi ilmu, semakin mulia akhlak. Semakin lama mengikuti pengajian, semakin besar manfaat bagi masyarakat.
Itulah makna belajar menjadi terpelajar: bukan sekadar mengetahui ajaran agama, melainkan menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan.
Sebab, hakikat pendidikan bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menyucikan jiwa, menyehatkan hati, mematangkan kepribadian, dan menenangkan kehidupan.
Referensi
1. Al-Qur'an: Al-Baqarah [2]: 31–32; Al-A'raf [7]: 172; Ali 'Imran [3]: 79, 190–191; Thaha [20]: 114; Ar-Rum [30]: 30; Asy-Syams [91]: 9; Asy-Syu'ara [26]: 89; Al-Fajr [89]: 27–30.
2. Al-Ghazali. Ihya' 'Ulum al-Din. Pembahasan ilmu, hati, dan penyucian jiwa.
3. Delors, J., et al. (1996). Learning: The Treasure Within. UNESCO.

