Type Here to Get Search Results !

Guruh Perintis Industri Kebudayaan

oleh Reiner Emyot Ointoe 

"Yen Chopin padem ring Bali/Kerarung saking daksina/Titian mangenang Bali/Sunantora ngenyusa asih negare ..." -- Chopin Larung dalam Album Guruh Gipsy(1975).

Pada 1976, ketika masih duduk di kelas tiga SMA Negeri No. 222, Luwuk, Sulawesi Tengah, saya sudah mengenal Guruh Soekarno lewat majalah musik Aktuil.

Berbekal informasi majalah itu, saya mencari koneksi saudara-saudara saya di Jakarta agar bisa mengirim kaset Guruh Gipsy lengkap dengan sampul luks album itu.

Ketika ngebet mau dengar kaset itu, dengan mencuri-curi memutar tape recorder(JVC) pakai enam baterei eveready milik kakak ipar saya, karena kekuatan baterei cuma tahan Lima hari.

Jika lebih, suara tape-nya akan terdengar mirip suara orang tua mabuk bernyanyi.  

Kini, album kaset itu masih saya koleksi hingga hari ini bersama beberapa kaset Guruh lainnya.

Untuk itu, kepergian Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra, Sabtu, 26 September 2026, dalam usia 73 tahun -- selain mewariskan legasi kebudayaan -- justru membakukan sebuah perjalanan kebudayaan yang berlangsung lebih dari setengah abad.

Karena itu pula, saya tak menulis obituari tentangnya. 

Tapi, menyisir kreativitas kontemporer kebudayaannya melalui teori industri Theodor W. Adorno.

Dengan kreativitas budaya tari, karawitan, musik populer, koreografi, komposer, seni pertunjukan hingga politik sebagai anggota DPR RI dari PDI Perjuangan(PDIP);periode 2019–2024, mewakili Daerah Pemilihan(Dapil) Jawa Timur VI, kiprah Guruh begitu signifikan.

Sumber-sumber mengenai perjalanan seni dan kebudayaan mencatat bahwa sejak kecil ia mempelajari tari Jawa, Sunda, Bali, dan Minang.

Apalagi, dari kultur biogenetik ayah(Jawa-Bali) dan Ibunya(Sumatra), komplitlah revolusi biokultur Guruh. 

Kelak, ia memperdalam ragam budaya tari, karawitan Bali-Jawa dan belajar musik kepada komponis Mochtar Embut.

Namun, mengenang Guruh dengan cara yang lebih reflektif dibarengi pertanyaan: legasi kebudayaan apa yang telah diberi dan ditinggalkan setelah kematiannya? 

Pertanyaan ini yang mengantar kita masuk, salah satunya, pada Theodor Wiesengrund Adorno(1903-1969), seorang filsuf kebudayaan modern dan kritikus seni, dipakai untuk mengenang legasi kebudayaan Guruh sendiri.  

Bagi Adorno, setidaknya dalam Dialektik der Aufklärung(1947) yang ditulis bersama Max Horkheimer, persoalan besar kebudayaan modern muncul ketika karya seni memasuki apa yang disebut industri kebudayaan(culture industry).  

Atau, kata lain yang lebih merendahkan kualitaw kebudayaan dalam arti industri kreatif: komodofikasi.

Kebudayaan tidak lagi terutama hadir sebagai pengalaman yang mengguncang kesadaran, tetapi semakin mudah diproduksi, diedarkan, dikonsumsi, lalu digantikan. 

Musik populer, misalnya, menjadi salah satu wilayah kritik filsafat industri kebudayaan yang paling keras.

Di dalam mekanisme tersebut, sebetulnya, kebaruan sering hanyalah variasi di atas pola yang telah distandardisasi.

Jika Adorno hidup pada zaman TikTok, Spotify, YouTube, algoritma rekomendasi, tren viral, konser spektakuler, influencer, fanbase, dan potongan lagu belasan detik, dari Guruh pula hal itu bisa ditelisik.

Barangkali, kegelisahannya terhadap industri kebudayaan justru akan menemukan laboratorium yang jauh lebih besar. 

Dengan demikian, kematian Guruh itu terasa lebih ironis pada zaman ketika musik justru tersedia hampir tanpa batas. 

Kita memiliki jutaan lagu di dalam telepon genggam, tetapi kelimpahan itu tidak otomatis membuat pengalaman musikal menjadi lebih kaya dan sarat makna. 

Lagu datang, menjadi tren, digunakan sebagai latar video, melonjak, kemudian tenggelam digantikan tren berikutnya. 

Kebudayaan memperoleh kecepatan luar biasa, tetapi mungkin kehilangan kemampuan untuk berdiam maupun membekas dalam memori kolektor penikmatnya.

Di sinilah, letak kepeloporan Guruh Soekarnoputra, menjadi unik dan penggagasan musik dalam kebudayaan kontemporer luas, punya pengikut sekaligus pewarisnya.

Sekembalinya dari Belanda pada 1975, ia bereksperimen mempertemukan gamelan Bali dengan musik pop dan rock Barat. 

Proyek itu berkembang menjadi Guruh Gipsy, dengan musisi -- umumnya dari gang Pegangsaan --- di antaranya mendiang Chrisye, Oding, Debby, Keenan Nasution, Roni Harahap hingga Abadi Soesman.

Sumber yang merangkum arsip perjalanan Guruh menyebut eksperimen itu sebagai salah satu tonggak penting musik pop Indonesia.

Pertemuan Timur dan Barat tersebut gampang disebut “fusi”. Tetapi kata itu terlalu jinak.

Yang terjadi pada proyek Guruh Gipsy sebenarnya lebih menarik apabila dibaca sebagai ketegangan. 

Modernitas Barat tidak diterima begitu saja, sementara tradisi Nusantara juga tidak diletakkan di dalam lemari museum.

Modernitas dan tradisi dimasukkan ke dalam ruang yang sama lalu dipaksa berbicara satu sama lain.

Dan justru di sini Guruh dapat ditempatkan dalam percakapan yang ganjil tetapi produktif dengan Adorno.

Adorno curiga kepada musik populer karena industri memiliki kemampuan menjadikan perbedaan sebagai komoditas. 

Sesuatu tampak baru, padahal struktur dasarnya tetap sama. 

Bahkan pemberontakan dapat dijual sebagai gaya. Individualitas dapat berubah menjadi merek.

Guruh bergerak di daerah berbahaya itu. 

Ia membuat musik populer, bekerja dalam dunia hiburan, menciptakan tontonan, dan membangun pertunjukan berskala besar. 

Melalui Swara Maharddhika, ia menggabungkan tari tradisional, koreografi modern, musik, busana, dan panggung yang megah. 

Dengan ukuran Adorno yang paling puritan, semua itu tentu dapat dicurigai sebagai spektakel.

Namun justru di situlah paradoksnya.

Guruh memasuki industri kebudayaan tanpa sepenuhnya menyerahkan kebudayaan kepada industri.

Ia menggunakan bahasa pop untuk membawa sesuatu yang lebih tua daripada pop: tubuh penari, ritme gamelan, kain, gestur Nusantara, ingatan tentang tanah, gagasan tentang bangsa.

Dengan demikian, kebudayaan pop pada Guruh bukan semata tujuan. Budaya pop sekedar kendaraan.

Barangkali, itulah perbedaan paling penting antara kebudayaan populer dan kebudayaan yang sekadar dipopulerkan.

Yang pertama dapat tumbuh dari pengalaman masyarakat, sementara yang kedua dapat diproduksi melalui perhitungan perhatian.

Dunia hari ini semakin mengenal ekonomi perhatian. 

Kita tidak hanya membeli lagu atau menonton pertunjukan. Perhatian kita sendiri menjadi sesuatu yang diperebutkan. 

Sebuah lagu mesti segera memiliki bagian yang dapat diingat. Sebuah tarian mesti dapat dipotong. 

Sebuah citra mesti dapat dibagikan. 

Bahkan identitas kebudayaan dapat direduksi menjadi sesuatu yang mudah dikenali dalam satu pandangan.

Batik menjadi motif.

Gamelan menjadi efek bunyi.

Tari menjadi koreografi beberapa detik.

Tradisi menjadi konten yang dikontekskan.

Inilah saat, ketika kritik Adorno menjadi terasa menyeramkan dan filsafat industri kebudayaan pop tidak selalu menghancurkan perbedaan. 

Ia justru dapat melakukan sesuatu yang jauh lebih efektif, yakni memelihara perbedaan dalam bentuk yang dapat dijual.

Maka kita perlu berhati-hati ketika mengatakan bahwa zaman digital telah “melestarikan budaya”. 

Banyaknya representasi kebudayaan di layar tidak dengan sendirinya berarti kebudayaan itu hidup.

Kebudayaan dapat sangat terlihat justru ketika struktur penghidupnya semakin rapuh. 

Ritual dapat jutaan kali ditonton sementara komunitas yang menjaganya kehilangan ruang. Lagu daerah bisa viral sementara bahasanya perlahan kehilangan penutur.

Guruh tampaknya memahami bahwa kebudayaan bukan aksesori.

Ia memperlakukan kebudayaan sebagai persoalan bentuk.

Itulah sebabnya pencampuran unsur tradisional dan modern dalam pekerjaannya memiliki arti lebih besar daripada sekadar menambahkan gamelan ke dalam pop. 

Tradisi harus masuk sampai ke struktur musikal, gerak tubuh, busana, tata panggung, dan imajinasi pertunjukan. 

Dalam bahasa estetika Adorno, kita bisa mengatakan bahwa persoalannya bukan sekadar apa yang dibicarakan karya.

Malah, bagaimana kontradiksi masyarakat mengendap di dalam bentuk karya itu sendiri.

Untuk itu, di sinilah obituari -- yang juga tak saya pakai menulis tentang Guruh -- seharusnya berbalik arah.

Sebab, mungkin yang sedang kita makamkan bukan hanya Guruh.

Atau, mungkin kita sedang menyaksikan perlahan-lahan hilangnya suatu tipologi seniman Indonesia.

Dapat dikata, seniman yang merasa harus berdebat dengan kebudayaannya sendiri sebelum menghadirkannya ke dunia.

Sementara, pertumbuhan kebudayaan kontemporer terus menawarkan godaan yang lain.

Kita semakin mudah menjadi global karena perangkat estetika global telah tersedia dengan begitu mudah, masif dan ditopang oleh disrupsi teknologi digital.

Perangkat lunak yang sama, platform yang sama, format video yang sama, struktur promosi yang sama, mekanisme viral yang sama. Semuanya hadir sebagai simularka dan seduksi kebudayaan.

Akibatnya, seorang pencipta dapat terlihat sangat individual.

Padahal, mereka sebenarnya sedang bekerja di dalam tata bahasa yang semakin seragam.

Adorno menyebut mekanisme semacam ini sebagai standardisasi dan pseudo-individualization.

Di sini, perbedaan dipertahankan secukupnya supaya komoditas tampak personal, meskipun kerangkanya tetap seragam.

Dalam perspektif itu, Guruh terasa berasal dari zaman ketika “menjadi Indonesia” masih merupakan problem estetika yang harus dikerjakan, dan bukan sekadar identitas yang hanya bisa ditempelkan.

Ia juga tidak memusuhi Barat. Justru ini yang membuat posisinya penting. 

Pengalamannya di Amsterdam mencakup keterlibatan dengan gamelan Jawa-Bali dan pengajaran tari Bali - sebelum ia kembali ke Indonesia -- terekspresikan dalam eksperimen totalitas musikalnya: Guruh Gipsy(1975).

Barat tidak harus ditolak, tetapi juga tidak perlu disembah. Tradisi tidak harus dibekukan, tetapi juga jangan diperlakukan sebagai ornamen eksotik.

Genre lagunya, Asmaradhana, diubah iramanya dalam album Chrisye & Jockie Suryoprajogo dalam Sabda Alam(1978) jadi tren untuk beberapa lagu Lomba Cipta Lagu Remaja(LCLR) Prambors seperti Kharisma Indonesia dan Wawasan Nusantara.  

Ada sebuah politik kebudayaan yang tersirat di sana: modern tanpa kehilangan ingatan.

Karena itu, ungkapan klise “melestarikan budaya” terasa tidak cukup untuk seorang Guruh.

Sepanjang masa kreativitas seni dan kebudayaan yang ia agunkan kepada nasionalisme negaranya: Untukmu Indonesia.

Pelestarian sering berarti membuat sesuatu tidak berubah. Sedangkan kebudayaan hidup justru karena ia berubah.

Guruh melakukan sesuatu yang lebih berisiko daripada pelestarian: transformasi.

Kebudayaan lama dibawanya memasuki mesin modernitas, tetapi ia berusaha agar mesin itu tidak menggiling semuanya menjadi bentuk yang sama.

Dan di titik itulah, Guruh mungkin justru memberi jawaban Indonesia terhadap pesimisme Adorno.

Jika Adorno melihat industri kebudayaan sebagai mesin yang terus-menerus menghasilkan keseragaman dengan topeng kebaruan, maka Guruh memperlihatkan kemungkinan bahwa seniman dapat memasuki mesin tersebut sambil menyelundupkan ingatan historis ke dalamnya. 

Ia tidak menghancurkan industri pop dari luar. Justru meramunya, dari luar ke dalam dan keluar lagi dalam bentuk yang jadi khasnya.

Ia bekerja dari dalam wilayah popularitas, kemegahan panggung, rekaman, televisi dan hiburan.

Apakah ia berhasil sepenuhnya meloloskan diri dari industri kebudayaan? Tentu tidak.

Dan justru karena itu ia sangat menarik dan ikonik melintas zaman dan generasi.

Seni Guruh hidup di dalam kontradiksi yang sangat modern bahkan posmodern.

Kontradiksi itu tumbuh antara nasionalisme dan kosmopolitanisme, tradisi dan eksperimen, seni dan hiburan, keagungan panggung dan komoditas, kebudayaan sebagai identitas dan kebudayaan sebagai penciptaan.

Karya-karyanya yang penting bukan karya yang menyelesaikan kontradiksi itu.

Ia justru penting membuat kita mendengarnya.

Kini Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra telah tiada.

Tetapi mungkin sebuah obituari yang sungguh menghormatinya tidak seharusnya berhenti pada daftar lagu, penghargaan, nostalgia, atau ungkapan bahwa karyanya “abadi”.

Pertanyaan yang lebih tidak nyaman adalah apakah dunia kebudayaan yang datang sesudahnya masih punya kesabaran untuk menghasilkan Guruh lainnya?

Sebab algoritma mengetahui apa yang kita sukai.

Industri mengetahui apa yang dapat dijual.

Pasar mengetahui apa yang sedang populer.

Tapi, kebudayaan lahir justru ketika seseorang berani menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum kita ketahui bahwa kita membutuhkannya.

Di sanalah kematian Guruh berubah dari kesedihan biografis menjadi kecemasan kebudayaan.

Kita tidak hanya kehilangan seorang seniman.

Kita kehilangan salah seorang dari generasi yang masih percaya bahwa kemodernan Indonesia harus terus dikarang, bukan sekadar dikonsumsi.

Dan mungkin penghormatan terbaik kepada Guruh bukan memutar kembali masa lalu sembari berkata bahwa dahulu musik Indonesia lebih baik. 

Nostalgia pun dapat menjadi komoditas industri kebudayaan.

Penghormatan yang lebih radikal adalah mempertahankan keberanian yang pernah dicontohkannya.

Mengambil sesuatu dari dunia, "Untukmu Indonesia", dan mempertemukannya dengan sejarah sendiri.

Kelak nantinya, menghasilkan bentuk yang tak sepenuhnya tunduk kepada keduanya.

Sebab kebudayaan yang hidup bukan kebudayaan yang takut berubah.

Kebudayaan yang hidup adalah kebudayaan yang berubah tanpa kehilangan kemampuan untuk mengingat.

Dan ketika Guruh pergi, barangkali itulah pertanyaan yang ditinggalkannya kepada zaman kita dan generasi berikutnya. 

Setelah semua yang kita sebut konten, konteks, trending, kontinum dan ikonoklasme, apakah masih ada sesuatu yang tersisa untuk kita sebut kebudayaan?

Manado, 25 September 2026 -- ReO Bibliothek Kokima Hill sembari memutar ulang album Guruh Gipsy. 

#credit foto koleksi pribadi sembari memamerkan koleksi kaset Guruh Gipsy dan potret Guruh atas perbuatan AI.

#coverlagu:

Lagu "Cinta Indonesia" yang dibawakan oleh Vina Panduwinata dan diciptakan oleh Guruh Soekarnoputra dirilis pada tahun 1984.   

Lagu tersebut dirilis melalui album atau proyek pergelaran bertajuk Pergelaran Karya Cipta Guruh Sukarno Putra III((Vol. 1) produksi Musica Studios.

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.