![]() |
Oleh: Zulnaidi SH
(Ketua Bidang Polhubaga PD PERTI SUMBAR)
Sejarah adalah sebuah panggung sandiwara besar, dan salah satu lakon paling tua di dalamnya adalah tentang takhta, kesombongan, dan kehancuran. Di sepanjang garis waktu peradaban, kita kerap menyaksikan bagaimana para penguasa yang berada di puncak kejayaan tiba-tiba jatuh terjerembap ke dalam palung kehinaan yang paling dalam. Mengapa para raksasa sejarah ini bisa tumbang begitu saja? Al-Qur’an merekam jawabannya dengan sangat presisi: ada satu titik di mana kekuasaan yang zalim berubah menjadi magnet yang mengundang murka Tuhan. Ketika seorang manusia memegang kendali atas jutaan nyawa, ada garis tipis antara menjadi pelindung atau menjadi tuhan baru. Dan sejarah mencatat, mereka yang melintasi garis itu selalu berakhir tragis.
Akar Murka: Ketika "Kecemburuan Tuhan" Terusik
Jika kita menguliti lembaran sejarah dan teologi demi mencari pemantik utama dari runtuhnya peradaban-peradaban besar, kita akan sampai pada satu kesimpulan fundamental. Penyebab pertama dan utama Allah murka adalah karena terusiknya hak veto ketuhanan oleh makhluk-Nya. Dalam khazanah spiritual, ini adalah bentuk ghairah—kecemburuan Ilahi yang paling dahsyat. Tuhan mahapengampun atas khilaf manusia, namun Dia maha-cemburu ketika takhta spiritual-Nya dikangkangi.
Murka ini meledak karena tiga pengkhianatan eksistensial manusia. Pertama, manusia mengaku dirinya "tuhan". Ini adalah puncak kelancangan makhluk, ketika seorang raja yang ringkih, yang esok hari bisa mati oleh sebutir virus, berani berdiri tegak dan memproklamirkan diri sebagai pemilik mutlak atas nasib, hidup, mati, dan hukum di muka bumi.
Kedua, adanya loyalitas buta kepada sesama makhluk. Tuhan cemburu ketika manusia memindahkan poros ketaatan absolutnya dari Pencipta kepada makhluk yang setara dengannya. Ketika rakyat atau punggawa lebih takut melanggar perintah sang raja ketimbang melanggar syariat Tuhan, di situlah tatanan tauhid kosmis telah dirusak. Manusia telah menuhankan manusia lain lewat kepatuhan yang membabi buta.
Ketiga, membisukan kebenaran karena takut pada manusia. Ini adalah dosa kolektif sebuah bangsa. Ketika ketakutan kepada penguasa yang fana mengalahkan ketakutan kepada Dzat Yang Mahakekal. Saat manusia-manusia pintar dan beriman memilih menyembunyikan kebenaran, memutarbalikkan fakta, atau diam seribu bahasa di hadapan tirani hanya karena takut kehilangan jabatan, harta, atau nyawa dari tangan sang raja. Ketika sebuah sistem kekuasaan sudah berdiri di atas fondasi syirik sosial seperti ini, maka lonceng kematian peradaban itu tinggal menunggu waktu untuk berdentang.
Lingkaran Penjilat: Bahan Bakar di Balik Tirani
Sebuah kediktatoran tidak pernah berdiri sendirian. Di balik setiap raja yang zalim, hampir selalu ada ekosistem punggawa, menteri, dan penasihat yang korup. Mereka adalah manifestasi nyata dari manusia-manusia yang menggadaikan iman karena takut dan tunduk pada sesama makhluk. Mereka memelihara kemunafikan demi mengamankan remah-remah jabatan dan kekayaan.
Dalam kisah Fir'aun, Al-Qur'an secara spesifik menyebut nama Haman, sang menteri arsitek yang bertugas menerjemahkan segala kegilaan tirani Fir'aun menjadi kebijakan nyata. Ketika Fir'aun dengan sombongnya menantang Tuhan Musa, Haman justru mematuhinya dengan membangun menara tinggi yang sia-sia, alih-alih mengingatkan rajanya. Ada pula para penyihir istana—sebelum mereka bertobat—yang awalnya bekerja dan bungkam atas kebenaran hanya demi mendapatkan kedekatan (al-muqarrabin) dan upah dari sang raja.
Para punggawa penjilat ini memiliki pola perilaku yang khas, yakni mengutamakan prinsip "Asal Bapak Senang" (ABS). Mereka memanipulasi laporan dari lapangan; narasi kemiskinan rakyat diubah menjadi angka-angka statistik yang tampak makmur demi menyenangkan hati sang penguasa. Mereka juga bertindak sebagai "stempel legalitas" untuk mencari pembenaran atas setiap kebijakan raja yang menindas, baik lewat narasi politik maupun manipulasi aturan. Namun, sifat dasar kaum munafik adalah pengecut saat badai datang. Mereka setia hanya saat bergelimang harta. Ketika tanda-tanda azab dan kehancuran mulai tiba, mereka adalah kelompok pertama yang akan saling menyalahkan, berkhianat, atau lari menyelamatkan diri sendiri.
Anatomi Kebebalan Penguasa
Racun dari lingkaran penjilat yang membisukan kebenaran inilah yang melahirkan penyakit psikologis dan spiritual yang akut pada diri penguasa. Dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 18, karakteristik kebebalan ini dirangkum dengan sangat mutlak dalam frasa: Summun, bukmun, 'umyun—mereka tuli, bisu, dan buta.
Ketika segel kekuasaan dan pasokan sanjungan palsu sudah menutup mata hati, sang penguasa akan mengalami metamorfosis menjadi makhluk yang bebal. Mereka menjadi tuli (summun) karena telinga mereka tersumbat oleh riuh rendah pujian para punggawanya, sehingga tidak lagi mampu mendengar rintihan rakyat yang kelaparan atau nasehat tulus dari orang-orang bijak. Mereka menjadi bisu (bukmun) karena mulut mereka terkunci dari menyuarakan kebenaran. Yang keluar dari lisan penguasa dan para menterinya hanyalah propaganda, narasi manipulatif, dan perintah untuk membungkam suara-suara kritis. Akhirnya, mereka menjadi buta ('umyun) dari melihat realitas. Jangankan melihat penderitaan rakyat jelata, melihat tanda-tanda alam dan peringatan Tuhan yang mulai berdatangan pun mereka tidak mampu karena selalu diyakinkan oleh para penjilat bahwa "semua baik-baik saja".
Sindrom "Arogansi Akut" sang Penguasa
Mari kita mundur ribuan tahun ke belakang, ke tepian Sungai Nil yang subur. Di sana berdiri Fir’aun, lambang absolut dari tirani yang utuh memanifestasikan sifat bebal tersebut. Ia melangkah terlalu jauh menantang kecemburuan Ilahi. Dengan dagu terangkat, ia berseru bahwa dialah tuhan yang paling tinggi, sebagaimana yang terekam dalam Surah An-Nazi'at ayat 24.
Tuhan tidak langsung menghancurkannya. Allah mengirimkan peringatan bertahap berupa badai belalang, wabah kutu, katak yang memenuhi tempat tidur, hingga air Sungai Nil yang berubah menjadi darah. Manusia normal akan bergidik ketakutan. Namun karena Fir'aun telah buta dan tuli akibat bisikan para punggawanya yang menyebut itu semua "hanya sihir biasa", ia tetap melangkah dengan angkuh. Jam pasir kehancurannya pun terus berputar tanpa ia sadari.
Di belahan bumi lain, Raja Namrud di Babilonia menantang langit dengan kesombongan serupa, merasa dirinya memegang kendali atas hidup dan mati manusia hanya karena ia dikelilingi oleh bala tentara dan pengikut yang menyembahnya. Ia didebat oleh Nabi Ibrahim dengan argumen logika yang runtuh, namun kebebalan struktural di istananya menolak untuk tunduk pada kebenaran karena takut kehilangan takhta duniawi.
Ketika Alam Menjadi Senjata Tuhan
Yang menarik dari setiap kisah kejatuhan para penguasa zalim di dalam Al-Qur'an adalah bagaimana cara mereka dibinasakan. Tuhan sering kali tidak menggunakan pasukan malaikat yang megah untuk menghancurkan mereka, melainkan menggunakan makhluk-makhluk yang selama ini dianggap sepele oleh manusia. Ini adalah tamparan keras bagi mata mereka yang selama ini buta terhadap kekuatan di luar diri mereka.
Fir’aun, sang penguasa air Nil, justru mati lemas digulung oleh amukan air Laut Merah. Ketika laut menyatu kembali, seluruh menteri, teknologi kereta perang, dan punggawa penjilatnya ikut tenggelam tak bersisa. Sementara itu, Namrud yang perkasa ditumbangkan bukan oleh pedang tentara musuh, melainkan oleh seekor nyamuk kecil yang masuk ke rongga kepalanya, membuatnya tersiksa hingga akhir hayat di depan istananya sendiri.
Ada pula Raja Abrahah dan pasukan gajahnya yang mengerikan. Saat mereka bergerak loba untuk meruntuhkan Ka'bah, mereka justru dihujani batu-batu kecil berapi yang dibawa oleh kawanan burung Ababil, mengubah mereka menjadi seperti daun-daun yang dikunyah ulat. Begitu pula dengan Qarun, sang konglomerat yang sombong dan merasa hartanya bisa melindunginya dari segala hal, ditelan bulat-bulat oleh bumi tempat ia berpijak bersama seluruh kekayaannya.
Catatan untuk Masa Kini
Kisah-kisah penguasa zalim dalam kitab suci bukanlah dongeng pengantar tidur. Ia adalah peta peringatan (warning map) yang polanya selalu berulang. Nama rajanya boleh berubah, abadnya bisa bergeser, dan bentuk negaranya mungkin berganti menjadi modern. Namun, esensinya tetap sama: kekuasaan tanpa moralitas akan selalu melahirkan kezaliman, kezaliman memelihara para penjilat munafik, dan ketakutan massal untuk bersuara jujur akan melahirkan kebebalan sistemik.
Al-Qur'an menyatakan dalam Surah Yunus ayat 92 bahwa jasad Fir'aun sengaja diselamatkan agar menjadi pelajaran bagi generasi setelahnya. Pesan tersiratnya sangat jelas: siapa pun yang mengadopsi watak Fir’aun—menindas yang lemah, memelihara penjilat, memanipulasi kebenaran, dan merasa kebal hukum—maka ia sedang memantik kecemburuan Ilahi yang berujung pada akhir hidup yang serupa.
Pada akhirnya, sejarah selalu berbisik kepada kita semua, terutama mereka yang sedang menggenggam kuasa: Takhta itu fana, dan hanya keadilan yang membuatnya bertahan. Sebab ketika kezaliman merajalela, ketakutan membungkam kebenaran, dan manusia mulai menuhankan sesamanya, maka bumi dan langit pun tak akan tinggal diam.

