Type Here to Get Search Results !

Meurah Johan, Peletak Fondasi Aceh Darussalam dan Sultan Ali Mughayat Syah, Pembentuk Kesultanan Aceh Darussalam

Oleh: Teuku Dahlan Shah

Ada satu pembahasan yang sering menimbulkan perbedaan pandangan dalam sejarah Aceh, yaitu mengenai siapa sebenarnya yang mendirikan Aceh Darussalam.

Sebagian riwayat menyebut Meurah Johan Syah sebagai pendiri Aceh Darussalam pada tahun 1205 M, sementara dalam pembahasan lain Sultan Ali Mughayat Syah ditempatkan sebagai tokoh yang mendirikan dan menyatukan Kesultanan Aceh Darussalam pada awal abad ke-16.

Menurut penulis, perbedaan ini sebenarnya dapat dijelaskan apabila kita melihat sejarah Aceh sebagai sebuah proses yang panjang.

Meurah Johan dan Sultan Ali Mughayat Syah bukanlah dua tokoh yang berdiri sendiri dan saling bertentangan. Keduanya berada dalam satu garis sejarah dan garis keturunan yang sama.

Meurah Johan adalah tokoh yang mendirikan Kerajaan Aceh di Lembah Aceh/Lamuri pada tahun 1205 M, yang kemudian menjadi cikal bakal, akar pemerintahan dan salah satu fondasi utama bagi lahirnya Kesultanan Aceh Darussalam.

Sementara itu, beberapa generasi kemudian, Sultan Ali Mughayat Syah, yang merupakan keturunan Meurah Johan, tampil pada awal abad ke-16 untuk menyatukan kembali kekuatan Aceh yang telah mengalami perpecahan, memperluas wilayahnya, mengusir Portugis, dan membangun Kerajaan Aceh menjadi sebuah kesultanan yang jauh lebih besar.

Dengan demikian, orang yang meyakini Meurah Johan sebagai pendiri Aceh Darussalam tetap mempunyai dasar dalam melihatnya sebagai pendiri kerajaan awal yang menjadi cikal bakal Aceh Darussalam.

Sedangkan ketika kita berbicara mengenai lahirnya Kesultanan Aceh Darussalam sebagai sebuah kekuatan politik besar yang menyatukan berbagai wilayah Aceh, maka peran Sultan Ali Mughayat Syah menjadi sangat penting.

---

MEURAH JOHAN DAN AWAL KERAJAAN ACEH

Dalam riwayat yang menjadi dasar tulisan ini, Meurah Johan merupakan putra dari Meurah Adi Genali, raja Kerajaan Linge di tanah Gayo.

Meurah Johan kemudian memperdalam ilmu agama dan kemiliteran di Zawiyah Cot Kala, sebuah pusat pendidikan Islam di wilayah Kerajaan Peureulak.

Pada tahun 1202 M, Kerajaan Indra Jaya disebut diserang oleh Laksamana Lieng Khie dari China.

Pada tahun 1203 M, kekuasaan tersebut diteruskan oleh putrinya, Nian Nio Lieng Khie, yang kemudian melakukan ekspansi terhadap kerajaan-kerajaan di kawasan Aceh Besar.

Kerajaan Indra Purba atau Lamuri menjadi salah satu kerajaan yang masih bertahan.

Karena terdesak, pada sekitar tahun 1204 M, Kerajaan Indra Purba meminta bantuan kepada Kerajaan Peureulak.

Kerajaan Peureulak kemudian mengirim sekitar 500 prajurit, sementara Kerajaan Linge mengirim sekitar 100 prajurit.

Pasukan gabungan tersebut dipimpin oleh Syekh Abdullah Kana'an sebagai panglima dan Meurah Johan sebagai wakilnya.

Setelah melalui peperangan selama beberapa bulan, pasukan gabungan berhasil mengalahkan kekuatan Seudu.

Pada tahun 1205 M, kemenangan tersebut menjadi titik balik penting bagi kawasan Aceh Besar.

Setelah kemenangan itu, para penguasa dan pembesar wilayah tersebut bermusyawarah untuk menentukan pemimpin baru.

Meurah Johan kemudian diangkat menjadi penguasa.

Ia bergelar:

SULTAN ALAIDDIN JOHAN SYAH

Dan pada tahun 1205 M berdirilah Kerajaan Aceh di Lembah Aceh, yang dalam berbagai riwayat juga dikaitkan dengan kawasan Lamuri.

Inilah titik yang sangat penting.

Sebab kerajaan yang didirikan Meurah Johan inilah yang kemudian menjadi salah satu akar utama dari perjalanan panjang menuju Kesultanan Aceh Darussalam.

Jadi, apabila seseorang mengatakan:

«“Meurah Johan adalah pendiri Aceh Darussalam.”»

Maka pernyataan tersebut dapat dipahami apabila yang dimaksud adalah bahwa Meurah Johan merupakan pendiri kerajaan Aceh Islam di Lembah Aceh yang menjadi cikal bakal dan leluhur politik Kesultanan Aceh Darussalam.

---

MEURAH JOHAN BUKAN SEKADAR TOKOH MASA LALU

Peran Meurah Johan tidak berhenti pada pendirian kerajaan tahun 1205 M.

Yang membuatnya sangat penting adalah garis keturunannya.

Menurut riwayat yang menjadi dasar tulisan ini, Meurah Johan kemudian menjadi leluhur dari para penguasa Aceh pada generasi berikutnya.

Dengan kata lain, kerajaan yang didirikannya bukanlah sebuah kerajaan yang kemudian hilang tanpa jejak.

Sebaliknya, ia berkembang melalui generasi-generasi berikutnya dan melahirkan dinasti yang pada akhirnya mencapai puncak kekuasaan pada masa Sultan Ali Mughayat Syah.

Maka ketika kita membicarakan Sultan Ali Mughayat Syah, kita sebenarnya sedang membicarakan keturunan dari sebuah garis sejarah yang salah satu tokoh terpentingnya adalah Meurah Johan.

Hubungan itu harus ditegaskan.

Ali Mughayat Syah tidak muncul dari ruang kosong.

Ia adalah bagian dari kesinambungan sejarah Kerajaan Aceh yang akarnya telah diletakkan oleh leluhurnya, Meurah Johan, pada tahun 1205 M.

---

PERJALANAN MEURAH JOHAN MENUJU LAHIRNYA DINASTI ACEH

Setelah Meurah Johan, Kerajaan Aceh terus berkembang melalui para penerusnya.

Wilayah Aceh pada masa-masa berikutnya juga tidak hanya terdiri dari satu kerajaan.

Berbagai kerajaan berkembang di kawasan Aceh, seperti Peureulak, Pasai, Pidie, Daya, Haru dan wilayah lainnya.

Hubungan antarkerajaan tersebut berlangsung melalui perdagangan, dakwah, peperangan, perkawinan dan hubungan darah.

Dalam perkembangan tersebut, keturunan Meurah Johan terus memainkan peranan penting dalam pemerintahan Aceh.

Maka sejarah Aceh Darussalam sebenarnya merupakan sebuah perjalanan yang sangat panjang.

Tahun 1205 M bukanlah akhir dari cerita.

Justru tahun tersebut merupakan salah satu awal dari sebuah mata rantai sejarah yang kemudian berlanjut selama berabad-abad hingga munculnya Sultan Ali Mughayat Syah.

---

SEKITAR 1485 M: SULTAN INAYAT SYAH

Sekitar tahun 1485 M, Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Inayat Syah bin Sultan Alaiddin Husin Syah, bergelar Abdullah Malik Al-Mubin.

Dalam riwayat ini, Sultan Inayat Syah masih merupakan keturunan dari Sultan Meurah Johan.

Ia juga memiliki hubungan keluarga dengan Kerajaan Samudera Pasai melalui ibunya, Ratu Nahrisyah Malikuzzahir.

Sultan Inayat Syah memiliki tiga orang anak:

1. Sultan Muzaffar Syah

2. Sultan Ali Riayat Syah

3. Sultan Munawar Syah

Pada tahun 1490 M, Sultan Inayat Syah wafat.

Tahta Kerajaan Aceh kemudian diteruskan oleh putra pertamanya, Sultan Muzaffar Syah.

Sementara Sultan Ali Riayat Syah kemudian membangun kekuasaan di Daya dan dikenal sebagai Poe Teumeureuhom Daya.

Sultan Munawar Syah tetap berada di Kerajaan Aceh.

---

SEKITAR 1495 M: KERAJAAN ACEH TERPECAH

Sekitar tahun 1495 M, terjadi perpecahan antara Sultan Muzaffar Syah dan Sultan Munawar Syah.

Akibat konflik tersebut, Kerajaan Aceh terpecah menjadi dua pusat kekuasaan:

1. DARUL KAMAL

Dipimpin oleh Sultan Muzaffar Syah.

2. MEUKUTA ALAM

Dipimpin oleh Sultan Munawar Syah.

Dalam perkembangan politik yang sama, Daya juga telah berkembang sebagai kerajaan tersendiri di bawah Sultan Ali Riayat Syah.

Dengan demikian, kekuasaan yang berasal dari garis Kerajaan Aceh tidak lagi berada dalam satu kesatuan politik yang kuat.

Ini merupakan salah satu masa penting dalam sejarah Aceh.

Sebab kerajaan yang dahulu didirikan oleh leluhur mereka, Meurah Johan, kini mengalami perpecahan di antara keturunannya sendiri.

---

1497 M: SULTAN SYAMSU SYAH MENYATUKAN KEMBALI ACEH

Perpecahan tersebut menyebabkan Kerajaan Aceh melemah.

Kerajaan Pidie kemudian menyerang Kerajaan Aceh.

Namun pada tahun 1497 M, muncul Sultan Syamsu Syah, putra Sultan Munawar Syah.

Sultan Syamsu Syah berhasil menyatukan kembali kekuasaan Darul Kamal dan Meukuta Alam.

Ia kemudian menjadi penguasa Kerajaan Aceh.

Untuk memperkuat hubungan kedua cabang keluarga yang sebelumnya terpecah, Sultan Syamsu Syah menikahi Putroe Kuhul Aflah, putri Sultan Muzaffar Syah.

Dari perkawinan tersebut lahirlah dua putra:

1. Sultan Ali Mughayat Syah

2. Sultan Ibrahim

Peristiwa ini sangat penting dalam memahami hubungan antara Meurah Johan dan Ali Mughayat Syah.

Sebab Ali Mughayat Syah merupakan bagian dari garis keturunan Kerajaan Aceh yang berakar kepada Meurah Johan.

Dengan demikian, ada kesinambungan yang sangat jelas:

Meurah Johan → Kerajaan Aceh → keturunan Meurah Johan → Sultan Syamsu Syah → Sultan Ali Mughayat Syah.

---

MASUKNYA PENGARUH PORTUGIS

Memasuki awal abad ke-16, ancaman Portugis semakin kuat.

Setelah menguasai Melaka, Portugis mulai memperluas pengaruhnya di kawasan Selat Malaka.

Sekitar tahun 1510 M, pengaruh Portugis di berbagai wilayah Aceh semakin besar.

Pidie, Daya, Pasai, Peureulak dan beberapa wilayah lainnya mulai berada dalam tekanan Portugis.

Portugis menggunakan berbagai cara untuk memperkuat pengaruhnya, termasuk politik, perdagangan dan kekuatan militer.

Kondisi ini membuat Kerajaan Aceh menghadapi ancaman yang semakin nyata.

---

1511 M: TAMPILNYA SULTAN ALI MUGHAYAT SYAH

Pada 12 Zulkaidah 916 H, yang dalam riwayat ini disebut bertepatan dengan tahun 1511 M, Sultan Syamsu Syah menyerahkan kekuasaan Kerajaan Aceh kepada putranya:

SULTAN ALI MUGHAYAT SYAH

Pengangkatan tersebut merupakan hasil musyawarah antara Sultan Syamsu Syah dengan para pembesar Kerajaan Aceh.

Ali Mughayat Syah kemudian mulai melakukan pembenahan besar-besaran.

Militer diperkuat.

Persenjataan ditingkatkan.

Prajurit dilatih.

Hubungan dengan kerajaan Islam lainnya diperkuat.

Dalam riwayat ini, hubungan dengan Kesultanan Turki Utsmani juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan militer Aceh.

Dengan tampilnya Ali Mughayat Syah, Kerajaan Aceh memasuki fase baru.

---

SULTAN IBRAHIM MENJADI PANGLIMA

Setelah kekuatan militer Kerajaan Aceh diperkuat, Ali Mughayat Syah mengangkat adiknya, Sultan Ibrahim, sebagai panglima perang.

Pengangkatan tersebut bukan hanya karena hubungan darah.

Sultan Ibrahim juga dinilai memiliki kemampuan dalam bidang militer.

Hubungan antara kedua saudara tersebut juga sangat erat.

Hal ini menjadi salah satu faktor penting mengapa Kerajaan Aceh mampu menjalankan ekspedisi militer secara terkoordinasi.

---

1518 M: SERANGAN KE PIDIE

Pada tahun 1518 M, Sultan Ibrahim memimpin pasukan Aceh menuju Pidie.

Pada masa itu Pidie berada di bawah pengaruh Portugis.

Pertempuran berlangsung sengit.

Namun pasukan Aceh berhasil mengalahkan kekuatan yang berada di bawah pengaruh Portugis.

Pidie kemudian berada di bawah kekuasaan Aceh.

Peristiwa ini menjadi salah satu langkah awal dalam penyatuan kembali wilayah-wilayah Aceh yang sebelumnya terpecah.

---

1519 M: DAYA BERHASIL DIBEBASKAN

Pada tahun 1519 M, Sultan Ibrahim melanjutkan ekspedisi menuju Daya.

Portugis yang berada di wilayah tersebut berhasil dikalahkan.

Dengan demikian, Daya kembali masuk ke dalam lingkaran kekuasaan Aceh.

Pada tahun yang sama, Portugis juga mencoba melakukan agresi ke Kuala Aceh di bawah pimpinan Gasper de Costa.

Namun serangan tersebut berhasil dipatahkan oleh pasukan Aceh.

---

1521 M: AGRESI PORTUGIS KEMBALI DIPATAHKAN

Pada tahun 1521 M, Portugis kembali melakukan serangan ke Aceh Besar.

Kali ini pasukan Portugis dipimpin oleh Jorge de Brito.

Namun kekuatan militer Aceh yang telah diperkuat oleh Ali Mughayat Syah berhasil mengalahkan serangan tersebut.

Kemenangan ini semakin memperkuat posisi Kerajaan Aceh.

---

1522–1523 M: SERANGAN KE PASAI

Pada akhir tahun 1522 M, Sultan Ibrahim membawa pasukan Aceh menuju Samudera Pasai.

Portugis telah membangun pertahanan kuat di wilayah tersebut.

Pertempuran berlangsung sengit.

Pasukan Aceh berhasil menekan Portugis.

Namun perjuangan tersebut menelan korban besar.

Pada tahun 1523 M, Sultan Ibrahim gugur dalam pertempuran.

Gugurnya Sultan Ibrahim menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjuangan Aceh mengusir Portugis.

---

ALI MUGHAYAT SYAH DAN PENYATUAN ACEH

Setelah berbagai wilayah berhasil dibebaskan dari pengaruh Portugis, Sultan Ali Mughayat Syah kemudian melakukan langkah yang sangat penting:

menyatukan wilayah-wilayah tersebut ke dalam satu kekuasaan.

Kerajaan Aceh tidak lagi hanya berdiri sebagai sebuah kerajaan yang berpusat di Lembah Aceh sebagaimana pada masa Meurah Johan.

Kekuasaannya kini berkembang jauh lebih luas.

Wilayah-wilayah seperti Pidie, Daya, Pasai dan wilayah lainnya mulai berada dalam satu kerangka kekuasaan Aceh.

Pada fase inilah sistem politik Kesultanan Aceh Darussalam berkembang menjadi sebuah kekuatan yang jauh lebih besar.

Karena itu, peran Ali Mughayat Syah harus ditempatkan secara khusus.

Ia bukanlah orang yang menciptakan Aceh dari nol.

Ia adalah keturunan dari dinasti yang akarnya telah ditanam oleh Meurah Johan.

Namun ia adalah tokoh yang mengubah dan memperbesar kekuatan tersebut menjadi sebuah kesultanan yang luas dan kuat.

---

1530 M: WAFATNYA SULTAN ALI MUGHAYAT SYAH

Pada tahun 1530 M, Sultan Ali Mughayat Syah wafat.

Ia meninggalkan dua putra:

1. Sultan Salahuddin

2. Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahar

Sultan Salahuddin kemudian meneruskan tahta Kesultanan Aceh Darussalam.

Sementara Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Qahar sebelumnya telah dipersiapkan untuk memegang posisi penting di Pasai.

Dengan wafatnya Ali Mughayat Syah, perjuangan yang telah dibangunnya tidak berhenti.

Kesultanan Aceh Darussalam terus berkembang di bawah para penerusnya.

---

JADI, APA HUBUNGAN MEURAH JOHAN DENGAN KESULTANAN ACEH DARUSSALAM?

Hubungannya sangat kuat.

Meurah Johan adalah leluhur Ali Mughayat Syah.

Meurah Johan mendirikan Kerajaan Aceh di Lembah Aceh pada tahun 1205 M.

Kerajaan tersebut menjadi salah satu akar utama dari dinasti dan sejarah politik Aceh.

Generasi demi generasi kemudian meneruskan kekuasaan tersebut.

Kerajaan mengalami perkembangan.

Kerajaan mengalami perpecahan.

Pada sekitar 1495 M, terjadi perpecahan Darul Kamal dan Meukuta Alam.

Pada 1497 M, Sultan Syamsu Syah menyatukannya kembali.

Kemudian pada 1511 M, Ali Mughayat Syah naik sebagai penguasa.

Ia memperkuat Kerajaan Aceh.

Ia melawan Portugis.

Pada 1518 M, Pidie berhasil direbut.

Pada 1519 M, Daya berhasil dibebaskan dan serangan Portugis ke Kuala Aceh berhasil dipatahkan.

Pada 1521 M, agresi Portugis kembali digagalkan.

Pada 1522–1523 M, perang besar terjadi di Pasai.

Pada 1523 M, Sultan Ibrahim gugur.

Dan setelah rangkaian perjuangan tersebut, Ali Mughayat Syah menyatukan berbagai wilayah ke dalam satu kekuasaan yang lebih besar.

Inilah kesinambungan sejarahnya.

---

KESIMPULAN

Maka sebenarnya tidak perlu ada pertentangan antara:

“Meurah Johan adalah pendiri Aceh Darussalam” dan “Ali Mughayat Syah adalah pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.”

Keduanya dapat dipahami sesuai konteks sejarah yang dimaksud.

Jika yang dimaksud adalah awal berdirinya kerajaan Aceh Islam di Lembah Aceh yang menjadi cikal bakal dan akar Kesultanan Aceh Darussalam, maka Meurah Johan Syah pada tahun 1205 M merupakan tokoh yang sangat fundamental.

Jika yang dimaksud adalah pembentukan Kesultanan Aceh Darussalam sebagai kesatuan politik yang lebih luas, kuat, dan menyatukan berbagai kerajaan Aceh pada awal abad ke-16, maka Sultan Ali Mughayat Syah merupakan tokoh kuncinya.

Dan yang paling penting:

Ali Mughayat Syah adalah keturunan Meurah Johan.

Jadi, tidak ada pemutusan sejarah antara keduanya.

Justru terdapat kesinambungan:

«MEURAH JOHAN → KERAJAAN ACEH DI LEMBAH ACEH → PARA PENERUS DAN KETURUNANNYA → SULTAN SYAMSU SYAH → SULTAN ALI MUGHAYAT SYAH → KESULTANAN ACEH DARUSSALAM.»

Karena itu, bagi mereka yang selama ini meyakini Meurah Johan sebagai pendiri Aceh Darussalam, tidak perlu meninggalkan keyakinan tersebut.

Meurah Johan tetap merupakan tokoh pendiri dan peletak fondasi awal.

Sedangkan Ali Mughayat Syah merupakan keturunannya yang kemudian menyatukan, memperluas, memperkuat dan membentuk fondasi Kesultanan Aceh Darussalam sebagai kekuatan besar.

Dengan memahami keduanya dalam satu garis sejarah, kita tidak sedang mengurangi jasa siapa pun.

Kita justru sedang menempatkan setiap tokoh sesuai dengan peran, zaman dan proses sejarahnya masing-masing.

Sebab sejarah Aceh bukan dibangun oleh satu generasi.

Ia diwariskan dari leluhur kepada keturunannya, dari satu kerajaan kepada kerajaan berikutnya, hingga akhirnya mencapai bentuk Kesultanan Aceh Darussalam yang kita kenal dalam sejarah.

-- TEUKU DAHLAN SHAH --

#AcehDarussalam #MeurahJohan #AliMughayatSyah #SejarahAceh #KesultananAceh

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.