Type Here to Get Search Results !

Safar Modern: Menemukan Jiwa Pariwisata yang Hilang

 


Oleh: Joni Mardianto, S.S., M.Par.

Beberapa tahun terakhir, lanskap dunia pariwisata global mengalami pergeseran paradigma yang sangat menarik. Wisatawan tidak lagi hanya berburu pantai yang indah, hotel mewah, atau pusat perbelanjaan terbesar.

Kini, di tengah tekanan modernitas yang kian intens, mereka justru mencari sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang: ketenangan batin, pemulihan kesehatan mental, kedekatan autentik dengan alam, serta pengalaman hidup yang bermakna.

Fenomena ini terlihat nyata dari meroketnya minat terhadap wellness tourism, forest bathing (terapi hutan), wisata budaya, hingga bentuk perjalanan kontemplatif yang memungkinkan seseorang untuk "berhenti sejenak" dari hiruk-pikuk kehidupan modern. 

Berbagai negara pun mulai mengarahkan investasinya pada destinasi yang menawarkan pemulihan fisik dan mental, bukan lagi sekadar hiburan artifisial. Indonesia, menurut data Global Wellness Institute, juga mulai menangkap sinyal ini dengan mengarahkan pengembangan pariwisata masa depannya pada sektor alam, budaya, dan kebugaran (wellness).

Lebih dari Pelesiran: Konsep Safar dalam Perspektif Islam

Pertanyaannya kemudian, apakah tren pencarian makna lewat perjalanan ini benar-benar sebuah fenomena yang baru? Jika kita menengok kembali lembaran sejarah dan khazanah ajaran Islam, jawabannya justru tidak.

Jauh berabad-abad sebelum istilah wellness tourism diformulasikan oleh para pakar industri modern, Islam telah menempatkan perjalanan sebagai bagian integral dari proses penyembuhan jiwa (syifa'), pencarian ilmu, dan fondasi utama pembangunan peradaban.

Kitab suci Al-Qur'an secara eksplisit berkali-kali mengajak dan memerintahkan manusia untuk berjalan di muka bumi (siriu fil ardhi). Namun, ajakan tersebut bukanlah sebuah perintah mobilitas tanpa arah atau sekadar berpindah ruang geografis. 

Perjalanan dalam Islam adalah aktivitas teologis untuk mengamati keagungan ciptaan Allah, merenungi corak sejarah umat-umat terdahulu, memperluas cakrawala berpikir, dan pada akhirnya memperkuat fondasi keimanan. 

Dalam perspektif ini, perjalanan bukanlah sebuah eskapisme atau pelarian dari realitas kehidupan, melainkan sebuah proses aktif untuk menemukan kembali hakikat dan makna dari kehidupan itu sendiri.

Paradoks Wisata Konsumtif dan Kehilangan Makna

Di sinilah kita melihat sebuah ironi yang tajam. Masyarakat modern sering kali mendegradasi makna luhur wisata menjadi sebatas aktivitas konsumtif dan mekanis. 

Keberhasilan sebuah perjalanan kerap kali diukur secara kuantitatif: semakin banyak destinasi eksotis yang dikunjungi, semakin dianggap sukses. Kepuasan berwisata pun bergeser menjadi validasi digital melalui jumlah foto dan video estetis yang diunggah ke media sosial.

Padahal, realitas menunjukkan tidak sedikit wisatawan yang pulang membawa ribuan dokumentasi digital di gawai mereka, namun tetap membawa beban pikiran, stres, dan kekosongan batin yang sama. 

Di titik krusial inilah letak perbedaan mendasar antara perjalanan yang diposisikan sekadar sebagai hiburan (entertainment) dengan perjalanan sebagai proses transformasi (transformation).

Islam mengajarkan bahwa setiap jengkal langkah kaki dalam perjalanan seharusnya membuahkan perubahan internal yang nyata: perubahan cara berpikir, kedewasaan dalam memandang alam semesta, peningkatan rasa hormat terhadap sesama manusia, hingga revitalisasi hubungan spiritual antara seorang hamba dengan Tuhannya.

Sejarah Peradaban yang Lahir dari Langkah Kaki

Jika kita merefleksikan lembaran sejarah para nabi, perjalanan selalu menjadi titik awal atau inkubator lahirnya peradaban-peradaban besar. Nabi Ibrahim AS harus meninggalkan kampung halamannya yang mapan demi mempertahankan serta menyebarkan nilai-nilai keyakinan tauhid. Nabi Musa AS melakukan rihlah panjang dan melelahkan demi menuntut ilmu spiritual dari Nabi Khidir AS.

Puncaknya, Rasulullah SAW melakukan peristiwa Hijrah yang monumental dari Makkah ke Madinah. Dari dinamika perjalanan hijrah itulah lahir sebuah tatanan masyarakat baru yang berkeadilan, yang kemudian menjadi fondasi kokoh bagi kejayaan peradaban Islam di dunia. 

Kisah-kisah ini menegaskan bahwa perjalanan dalam Islam bukan sekadar mobilitas fisik, melainkan sebuah lompatan transformasi sosial dan spiritual.

Peluang Indonesia dan Reorientasi Nilai Pariwisata Masa Depan

Pergeseran tren wisata global menuju pemulihan batin sesungguhnya memberikan peluang strategis yang luar biasa bagi Indonesia. Negara kepulauan ini dianugerahi kekayaan modal alam, variasi budaya, dan kearifan lokal yang sangat presisi dengan kebutuhan psikologis wisatawan masa kini. 

Pegunungan yang tenang, bentangan hutan tropis yang masih perawan, desa-desa adat yang teguh mempertahankan nilai luhur leluhur, hingga denyut nadi tradisi gotong royong masyarakat adalah modal kultural-spiritual yang tidak dimiliki oleh banyak negara maju di dunia.

Namun, seluruh potensi emas tersebut tidak akan pernah bertransformasi menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan apabila indikator pembangunan pariwisata kita masih terjebak pada orientasi kuantitas massal (mass tourism) yang hanya mengejar jumlah kunjungan semata. 

Sudah saatnya parameter keberhasilan pariwisata nasional digeser secara radikal ke arah kualitas pengalaman wisatawan (quality tourism), peningkatan kesejahteraan riil masyarakat lokal, serta jaminan kelestarian lingkungan hidup secara jangka panjang.

Dalam konteks reorientasi tersebut, nilai-nilai universal yang diajarkan dalam Islam menjadi sangat kontekstual dan relevan untuk diterapkan sebagai standar industri. Prinsip kebersihan (thaharah), kehangatan keramahan, kejujuran dalam berniaga, integritas amanah, tanggung jawab menjaga kelestarian alam (khilafah fil ardhi), penghormatan yang tinggi kepada tamu, serta semangat berbagi, bukan lagi sekadar doktrin teologis di atas kertas. Nilai-nilai ini adalah fondasi etis dan operasional yang paling kokoh bagi keberlanjutan industri pariwisata modern.

Ketika masyarakat global mulai jenuh dan lelah dengan ritme kehidupan modern yang serba cepat, mekanis, dan materialistis, mereka kini kembali bergerak mencari ketenangan, keaslian, dan kedalaman makna. Islam telah mengonseptualisasikan dan mengajarkan nilai-nilai penyeimbang tersebut sejak empat belas abad yang lalu. 

Oleh karena itu, tantangan terbesar bagi Indonesia ke depan bukanlah sekadar membangun lebih banyak infrastruktur beton atau destinasi wisata baru. 

Tantangan sejati kita adalah mengonstruksi cara pandang (way of thinking) baru: bahwa pariwisata bukan sekadar industri komersial, melainkan sebuah sarana mulia untuk membentuk manusia yang lebih sehat secara holistik, mewujudkan masyarakat yang sejahtera, dan menjaga alam agar tetap lestari.

Jika paradigma transformatif itu mampu diwujudkan secara konsisten, maka Indonesia tidak hanya akan menjadi tujuan liburan visual semata, tetapi juga akan menjelma sebagai ruang tenang di mana orang-orang dari seluruh penjuru dunia datang untuk memulihkan dan menemukan kembali keseimbangan hidup mereka. (*) 

Joni Mardianto, S.S., M.Par.: Praktisi Pariwisata, Direktur PT. Amanah Triwania Wisata, Dosen Pariwisata, Konsultan Pariwisata, dan Penulis buku Pariwisata Dalam Islam.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.