Type Here to Get Search Results !

Akustik Masjid dan Media Madani: Membaca Pesan Pelatihan Akustik Masjid Dewan Masjid Indonesia dan Peluncuran IndonesiaMadani.com

Pelatihan akustik masjid batch III, Dewan Masjid Indonesia di UNP Hotel, Padang.

Oleh: Duski Samad

Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang

Ketua Dewan Pakar PW Dewan Masjid Indonesia Sumatera Barat

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Masjid sejak zaman Rasulullah SAW bukan sekadar tempat melaksanakan salat. Masjid adalah pusat ibadah, pendidikan, dakwah, musyawarah, pelayanan sosial, pembinaan ekonomi, bahkan pusat lahirnya peradaban Islam. Karena itu, setiap ikhtiar meningkatkan kualitas pengelolaan masjid sesungguhnya merupakan investasi peradaban.

Pelaksanaan Pelatihan Akustik Masjid Batch III Dewan Masjid Indonesia Tahun 2026 di Hotel UNP Padang menjadi salah satu ikhtiar penting tersebut. Pelatihan ini menunjukkan bahwa pengelolaan masjid modern tidak hanya berbicara tentang bangunan fisik yang megah, tetapi juga kualitas pelayanan kepada jamaah, termasuk bagaimana ayat-ayat Al-Qur'an, azan, khutbah, dan nasihat dapat didengar dengan jelas, indah, dan menyentuh hati.

Akustik masjid bukan sekadar persoalan teknis tata suara. Ia adalah wasilah untuk menghadirkan masjid yang berdaya, memberdayakan, dan menyejahterakan umat. Suara imam yang jernih, bacaan Al-Qur'an yang merdu, khutbah yang terdengar hingga ke saf terakhir, semuanya menjadi bagian dari pelayanan ibadah yang bermutu. Ketika jamaah merasa nyaman, khusyuk, dan memperoleh ilmu dengan baik, maka fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat akan semakin optimal.

Pengalaman penulis mengikuti Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman semakin memperkaya pemahaman tersebut. Kerajaan Arab Saudi (KSA) sebagai Khadim Al-Haramain Al-Syarifain tidak memandang masjid hanya sebagai bangunan fisik yang megah. Yang lebih utama adalah tata kelola (governance), pelayanan, fungsi, dukungan anggaran, pengembangan sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi. Pengelolaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi bahkan menjadi bagian dari Visi Saudi 2030, yang menempatkan pelayanan kepada jamaah haji dan umrah sebagai salah satu prioritas strategis negara. Kemuliaan masjid tidak hanya diukur dari arsitekturnya, tetapi juga dari kualitas pelayanan yang menghadirkan kenyamanan, keamanan, kebersihan, keteraturan, dan pengalaman spiritual yang mendalam.

Pengalaman berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memberikan pelajaran yang sangat berharga. Di tengah jutaan jamaah dari berbagai bangsa, suara azan, bacaan imam, doa, dan pengumuman tetap terdengar sangat jernih, syahdu, dan proporsional. Teknologi akustik di dua masjid suci itu bukan sekadar menghadirkan kenyamanan, tetapi membangun suasana spiritual yang mengundang kecintaan kepada Allah, kepada Al-Qur'an, dan kepada masjid itu sendiri. Teknologi akhirnya menjadi pelayan ibadah, bukan tujuan ibadah.

Allah SWT berfirman:

> "Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut selain kepada Allah." (QS. At-Taubah: 18)

Memakmurkan masjid pada masa kini berarti menghadirkan seluruh instrumen yang mendukung kekhusyukan, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Akustik yang baik menjadi salah satu bagian dari ikhtiar tersebut.

Pengalaman tersebut juga menguatkan keyakinan penulis yang telah lebih dari dua puluh lima tahun aktif dalam gerakan Dewan Masjid Indonesia, baik di Kota Padang maupun di Provinsi Sumatera Barat. Dalam rentang waktu itu terlihat perubahan yang semakin menggembirakan. Semakin banyak masjid yang dikelola secara profesional, administrasi semakin tertata, program dakwah semakin beragam, dan pelayanan kepada jamaah semakin baik. Namun pekerjaan besar masih terbentang, yakni menjadikan seluruh masjid bukan hanya makmur secara fisik, tetapi juga produktif dalam membina umat dan membangun peradaban.

Dalam kesempatan yang sama diperkenalkan pula IndonesiaMadani.com, sebuah portal berita dan informasi yang dibangun di atas paradigma PHSU (Profetik, Humanity, Society, dan Umat). Paradigma ini menegaskan bahwa media tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membangun karakter, mencerdaskan masyarakat, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam ruang publik.

Profetik menjadikan nilai-nilai wahyu sebagai ruh pemberitaan. Humanity menempatkan kemanusiaan sebagai orientasi utama. Society mendorong pemberdayaan masyarakat. Sedangkan Umat memperkuat ukhuwah dan solidaritas kebangsaan. Dengan paradigma tersebut, media diharapkan menjadi mitra strategis masjid dalam membangun masyarakat yang religius, cerdas, dan berkeadaban.

Media dan masjid pada hakikatnya memiliki misi yang sama, yakni menyebarkan ilmu, membangun akhlak, dan menguatkan peradaban. Jika masjid adalah pusat pembinaan umat secara langsung, maka media menjadi jembatan yang memperluas jangkauan dakwah hingga ke ruang digital.

Pengalaman di Haramain juga memperlihatkan bahwa masjid yang dikelola secara profesional (manageable) melahirkan jamaah yang tertib, disiplin, bersih, inklusif, dan saling menghormati. Jutaan orang dari berbagai mazhab, bahasa, warna kulit, dan bangsa mampu bergerak dalam satu sistem yang teratur. Tidak terdengar keributan, tidak tampak saling mendahului secara berlebihan, dan seluruh pelayanan berjalan dengan baik karena didukung manajemen yang berkualitas.

Keadaan tersebut memberikan pelajaran bahwa masjid yang dikelola dengan baik merupakan indikator hadirnya umat pilihan yang beradab. 

Ketertiban jamaah mencerminkan kualitas pendidikan, kedisiplinan, kepemimpinan, serta budaya taat pada aturan. Masjid tidak hanya mencetak ahli ibadah, tetapi juga membentuk karakter sosial yang menghargai waktu, kebersihan, keteraturan, keterbukaan, dan kepentingan bersama. Inilah esensi masjid sebagai poros peradaban.

Karena itu, Dewan Masjid Indonesia perlu mendorong lahirnya gerakan "Masjid Bantu Masjid." Banyak masjid berdiri megah karena didukung para agniya' dan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi baik. Sementara itu, masih banyak masjid di pelosok yang menghadapi keterbatasan sarana, program, bahkan biaya operasional. Semangat ukhuwah menuntut agar masjid-masjid yang kuat menjadi bapak asuh bagi masjid yang lemah, melalui pembinaan manajemen, peningkatan kualitas imam dan khatib, bantuan sarana-prasarana, maupun penguatan ekonomi jamaah. Dengan demikian, kemakmuran masjid tidak berhenti pada satu lingkungan, tetapi menyebar menjadi kekuatan bersama.

Cita-cita menjadikan masjid sebagai poros peradaban sebagaimana amanat QS. At-Taubah ayat 18, sekaligus sebagai simpul ukhuwah Islamiyah sebagaimana firman Allah:

> "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu." (QS. Al-Hujurat: 10)

harus diwujudkan melalui program-program yang terukur, berkelanjutan, dan berdampak nyata. Salah satu langkah yang layak dikembangkan adalah penyelenggaraan shalat Idulfitri dan Iduladha berbasis komunitas, yaitu menghimpun beberapa masjid dalam satu lapangan atau satu kawasan. Selain memperkuat syiar Islam, model seperti ini akan mempererat silaturahim antarjamaah, mengurangi sekat-sekat lingkungan, dan menumbuhkan kesadaran bahwa seluruh umat adalah satu keluarga besar.

Pada akhirnya, penulis mengajak seluruh pengurus masjid di Indonesia menjadi pelopor ukhuwah Islamiyah. Jangan biarkan ego sektoral, batas administrasi masjid, atau pertimbangan besarnya infak jamaah menghalangi persatuan. Tempatkanlah ukhuwah sebagai prioritas utama, sedangkan persoalan finansial menjadi urusan kedua yang akan mengikuti ketika kepercayaan umat telah tumbuh. Masjid tidak boleh dipandang sebagai institusi yang saling bersaing, tetapi sebagai jejaring yang saling menguatkan.

Jika bukan pengurus masjid yang memulai gerakan ukhuwah ini, lalu siapa lagi? Di saat sebagian tokoh dan kelompok umat masih terjebak dalam tafarruq (perpecahan), masjid harus tampil sebagai rumah bersama yang mempersatukan, mendamaikan, dan membangun kembali kekuatan umat. Dari masjid lahir generasi beriman, berilmu, berakhlak, produktif, dan berdaya saing. Dari masjid pula akan lahir Indonesia Madani—masyarakat yang religius, humanis, berkeadaban, dan membawa rahmat bagi seluruh alam.

Wallāhu a'lam bi al-shawāb.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.