![]() |
Oleh: Bima Putra, S.Pd., M.Pd.,Gr.
(Plt. Ketua Karang Taruna IPPK Nagari Kapalo Koto Periode 2024-2025)
Pemilihan Wali Nagari (Pilwanag) di Kapalo Koto bukan sekadar agenda administratif pergantian kepemimpinan. Ia adalah momentum krusial bagi kita semua untuk menentukan arah pembangunan nagari selama 8 tahun ke depan. Namun, mencermati dinamika di lapangan akhir-akhir ini, ada kegelisahan kolektif yang perlu kita urai: apakah peta politik yang sedang terbentuk saat ini membawa kita pada kemajuan, atau justru membawa kita ke dalam labirin polarisasi yang tidak produktif?
Membedah Peta Politik: Melawan Jebakan Patronase
Selama ini, peta politik di tingkat nagari kerap terjebak dalam pola patrimonialisme di mana pilihan politik didasarkan pada ikatan suku (klan), hutang budi personal, atau pengaruh patron-klien yang sempit. Kita sering terjebak memilih karena "siapa dia" atau "keluarga siapa dia", alih-alih bertanya "apa gagasannya" dan "bagaimana integritasnya".
Sebagai warga Kapalo Koto yang cerdas, kita harus berani mendobrak pola lama ini. Pilwanag adalah ruang untuk menguji visi. Siapa pun calonnya, mereka harus mampu menjawab tantangan nyata di Kapalo Koto: bagaimana mengelola dana nagari secara transparan, memperkuat ekonomi akar rumput, dan memastikan pelayanan publik hadir tanpa sekat.
Tim Sukses: Agen Edukasi atau "Penyulut Api"?
Peran tim sukses (timses) dalam kontestasi ini sering kali menjadi titik nadir. Banyak timses terjebak dalam taktik dirty politics: menebar desas-desus, memecah belah warga, hingga mempolitisasi simbol-simbol kearifan lokal demi memenangkan suara.
Dalam perspektif Islam, jabatan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Jika timses menghalalkan segala cara termasuk menebar fitnah atau mempraktikkan politik uang (risywah) maka mereka sebenarnya sedang mencederai calon yang mereka dukung sendiri. Seorang pemimpin yang lahir dari proses yang kotor akan membawa beban moral yang berat dan cenderung tersandera oleh kepentingan pendukungnya daripada kepentingan umat (maslahah amma).
Saya mengajak seluruh tim sukses di Kapalo Koto untuk bertransformasi: dari sekadar "pengerah massa" menjadi "tim edukasi". Sampaikanlah visi calon Anda dengan data dan solusi. Jika kita benar-benar mencintai calon yang kita dukung, maka muliakanlah mereka dengan cara-cara yang mulia.
Kembali ke Khitah: Kepemimpinan sebagai Amanah
Wali Nagari adalah Khadimul Ummah (pelayan umat). Konsep ini menuntut seorang pemimpin memiliki sifat Shiddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (komunikatif), dan Fathonah (cerdas).
Peta politik Kapalo Koto seharusnya diisi dengan adu kecerdasan, bukan adu kebencian. Kita harus mengembalikan Pilwanag ke koridor Syura (musyawarah) yang sehat. Jangan biarkan perbedaan pilihan saat kampanye memutus jembatan silaturahmi yang telah dibangun turun-temurun oleh nenek moyang kita.
Kepada seluruh warga Kapalo Koto, mari kita gunakan hak suara kita sebagai bentuk "Ijtihad Politik". Gunakan nurani dan akal sehat. Jangan biarkan intimidasi atau iming-iming sesaat menggadaikan masa depan nagari kita.
Jabatan Wali Nagari akan berakhir dalam hitungan tahun, namun jejak kebaikan atau kerusakan yang ditinggalkan akan tercatat abadi. Mari kita jadikan Pilwanag Kapalo Koto sebagai ajang fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). Siapa pun yang nantinya terpilih, ia adalah milik seluruh warga Kapalo Koto, bukan milik satu kelompok atau tim sukses semata.
Mari kita jaga marwah nagari. Karena pada akhirnya, kemajuan Kapalo Koto jauh lebih berharga daripada kemenangan yang diraih dengan mengorbankan persaudaraan.
Jiraik Baruah, 14/06/2026.

