Type Here to Get Search Results !

Aktor Dalam Panggung Pilwana yang Bikin Geleng-geleng Kepala

Dalam panggung Pilwana, ada dua aktor yang sering bikin geleng-geleng kepala: pemilih yang hobinya ikut-ikutan dan calon Wali Nagari yang hobinya obral janji. Kalau di kampung kita, pemilih yang cuma ikut arus ini sering disebut "Hantu Tabiang" . Kenapa? Karena mereka ibarat bayang-bayang di pinggir tebing; ada suaranya, ada wujudnya, tapi arah geraknya ditentukan ke mana angin bertiup.

Dalam ilmu politik, pemilih jenis ini masuk dalam kategori Bandwagon Effect. Mereka memilih bukan karena isi kepala, tapi karena takut dianggap "aneh" kalau tidak ikut arus massa.

Bayangkan, ada rapat warga, satu orang teriak nama calon Fulan, yang lain ikut teriak tanpa tahu visi calon Fulan itu apa. Mereka kehilangan kedaulatan suaranya sendiri. Padahal, satu suara Anda itu menentukan nasib nagari selama delapan tahun. Kalau cuma ikut-ikutan, jangan salahkan keadaan kalau setelah terpilih, Wali Nagari-nya sibuk mengurus kaumnya sendiri dan lupa pada janji kampanyenya.

Seloroh Politik: "Pemilih Hantu Tabiang itu unik. Saat ditanya kenapa memilih si anu, jawabannya: 'Kawan-kawan mamiliah itu, jadi ambo ikuik pulo.' Giliran Wali Nagari-nya korupsi, dia yang paling kencang mengeluh: 'Kok ndak ado kemajuan nagari awak ko yo?'"

Lalu, ada calon Wali Nagari yang punya hobi "sulap". Kampanye di lapangan bola, dia berjanji akan bangun gedung serbaguna berlantai dua, perbaikan irigasi seluruh nagari, sampai bantuan modal usaha buat setiap keluarga.

Secara teknis, ini adalah Populisme Anggaran. Calon ini tahu benar bahwa konstituennya jarang membaca dokumen APB Nagari. Padahal, dalam aturan pengelolaan keuangan desa, setiap sen yang keluar harus sesuai dengan rencana pembangunan. 

Menjanjikan program tanpa merujuk APB Nagari itu seperti orang berjanji membelikan mobil mewah ke istrinya, padahal gaji bulanannya saja cuma cukup buat beli nasi bungkus.

Seloroh Politik: "Banyak calon Wali Nagari itu seperti salesman obat kuat di pasar malam. Suaranya lantang, janji-janjinya bikin mata terbelalak, tapi kalau ditanya dari mana dananya, dia cuma senyum manis sambil bilang: 'Tenang, nanti kita cari jalannya.' Padahal, jalan yang dia maksud mungkin jalan buntu."

Kenapa Kita Harus "Sadar"?

Secara ilmiah, kita harus beralih ke Rational Choice Theory. Artinya, pemilih harus menimbang manfaat dan biaya dari setiap suara yang diberikan.

 1. Bedah Visi, Bukan Cuma Janji: Jangan dengar janji "akan membangun ini-itu". Tanyakan, "Bapak, APB Nagari kita cuma sekian, pos anggaran mana yang Bapak geser untuk program ini?" Kalau dia bingung, berarti dia memang tidak punya rencana, cuma punya angan-angan.

2. Jangan Jadi "Hantu Tabiang": Jadilah pemilih yang punya pendirian. Kalau calonnya memang tidak layak, berani katakan tidak. Jangan karena "badunsanak" lalu kita mengabaikan kompetensi. Ingat, badunsanak itu urusan hati, tapi memilih Wali Nagari itu urusan masa depan perut dan kemajuan nagari.

Pilwana bukan ajang perlombaan siapa yang paling banyak menebar janji manis atau siapa yang paling kuat menggerakkan massa "Hantu Tabiang". Ini adalah ajang seleksi pemimpin yang paham angka, paham aturan, dan tahu cara mengelola amanah.

Jangan sampai kita menyesal delapan tahun kemudian. Ingat, janji kampanye yang tidak merujuk pada APB Nagari itu nasibnya akan sama seperti janji manis saat PDKT: Hilang ditelan masa, tersisa cuma kecewanya.

Oleh : Bima Putra, M.Pd

(Pendiri Ikatan Mahasiswa Kapalo Koto)

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.