Type Here to Get Search Results !

Kemenangan Kedua Revolusi Islam Iran

oleh Reiner Emyot Ointoe

 “Revolutions are born of hope rather than misery.” — Crane Brinton(1898-1968), The Anatomy of Revolution(1938).

Sejarah Revolusi Islam Iran adalah sebuah perjalanan panjang yang dimulai dengan kemenangan pertama pada tahun 1979, ketika rakyat Iran berhasil merubuhkan rezim Reza Pahlevi yang pro-Barat dan mengusir kehadiran Amerika melalui penutupan kedutaannya. 

Sejak saat itu, Iran hidup di bawah embargo ekonomi dan politik selama lebih dari empat dekade, dikepung oleh tekanan negara-negara Barat dan Timur Tengah. 

Periode ini ditandai oleh perang delapan tahun Iran-Irak yang dimulai pada 1980, sebuah konflik yang menguji ketahanan bangsa dan memperkuat peran Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) sebagai benteng pertahanan ideologi dan militer.

Kini, ketika perang baru meletus pada 8 Februari 2026 bertepatan dengan awal Ramadhan, melibatkan Amerika dan Israel, dunia kembali menyaksikan keteguhan Iran. 

Perang 12 hari yang kemudian berlanjut menjadi rangkaian konfrontasi menunjukkan bahwa Revolusi Islam tidak berhenti pada tahun 1979, melainkan terus bertransformasi menjadi kekuatan geopolitik yang menantang dominasi Barat. 

Garda Revolusi Islam Iran(IRGC) menjadi simbol keberlanjutan revolusi, mengawal negara dalam menghadapi embargo, sanksi, dan serangan militer.

Dua buku sejarah berikur memberikan refleksi kritis atas hakikat revolusi ini. 

Michael Axworthy dalam Revolutionary Iran: A History of the Islamic Republic(2019) menulis: “Enqelâb-e eslâmi, na tanhâ saltanat râ bar andâkht, balke nezâmi tâze bar pâye mashruiyat-e dini banâ kard.” 

Translasi:

“Revolusi Islam tidak hanya menggulingkan monarki, tetapi juga membangun sebuah sistem baru yang berlandaskan legitimasi religius.”

Kutipan ini menegaskan bahwa revolusi bukan sekadar pergantian rezim, melainkan penciptaan tatanan baru yang berakar pada agama sebagai sumber legitimasi.

Sementara itu, Ervand Abrahamian dalam Iran Between Two Revolutions(1982) menulis: “Enqelâb-e Irân, peyvandi miyân-e edâlat-e ejtemâ’i, din va melli-garâyi bud.” 

Translasi:

“Revolusi Iran adalah sebuah ikatan antara keadilan sosial, agama, dan nasionalisme.”

Pandangan ini memperlihatkan bahwa revolusi lahir dari kombinasi tiga kekuatan: tuntutan sosial, semangat religius, dan nasionalisme yang menolak dominasi asing.

Dari kedua refleksi ini, jelas bahwa kemenangan kedua Revolusi Islam Iran bukan hanya dalam bentuk bertahan dari embargo dan perang.

Akan tetapi, juga dalam kemampuan mempertahankan legitimasi sosial dan religius di tengah tekanan global. 

Empat dekade dikunci oleh Amerika dan Eropa tidak menghentikan denyut revolusi, melainkan menguatkan tekad Iran untuk berdiri sebagai kekuatan yang mandiri. 

Perang Iran melawan Amerika dan Israel pada 2026 hanyalah fase terbaru dari perjalanan panjang itu.

Hal demikian sebagai sebuah bukti bahwa revolusi masih hidup, masih berdenyut, dan masih mampu melahirkan hakikat kemenangan baru berikutnya.

Sebagai refleksi kritis, Crane Brinton, sejarawan Amerika yang lahir pada 2 Februari 1898 dan wafat pada 7 September 1968, telah menulis karya klasik The Anatomy of Revolution pertama kali terbit pada 1938. 

Dari sejarah revolusi ini, ulasan di atas memperoleh perspektif anatomi sejarah revolusi sebelumnya sebagai catatan heuristik lebih aktual.

Dalam bukunya, Brinton mencoba merumuskan hakikat, fungsi, dan penyebab revolusi dengan membandingkan pengalaman revolusi Inggris, Amerika, Prancis, dan Rusia. 

Brinton melihat revolusi sebagai sebuah siklus yang menyerupai demam: dimulai dari krisis dalam rezim lama, munculnya oposisi intelektual, hingga pecahnya kekuasaan moderat dan naiknya kaum radikal. 

Ia menekankan bahwa revolusi lahir dari kombinasi krisis finansial, ketidakmampuan pemerintah, dan peralihan dukungan kaum intelektual.

Dalam pandangannya, revolusi lahir dari harapan, bukan dari penderitaan. 

Ungkapan ini menyingkap bahwa revolusi bukan sekadar reaksi terhadap kesengsaraan, melainkan dorongan untuk membangun masa depan yang lebih baik. 

Tentang fungsi revolusi, Brinton menegaskan bahwa revolusi bukan hanya menggulingkan rezim lama, tetapi juga menciptakan tatanan baru. 

Ia menulis bahwa perbedaan antara kekuatan dan persuasi adalah hal yang halus, ditentukan oleh mereka yang terampil dalam seni memerintah. 

Pandangan ini menunjukkan bahwa revolusi tidak berhenti pada kekerasan, melainkan harus berlanjut pada seni mengatur masyarakat dengan legitimasi baru.

Mengenai penyebab revolusi, Brinton menegaskan bahwa krisis keuangan, organisasi kaum yang tidak puas, serta tuntutan yang jika dipenuhi berarti penguasa praktis menyerahkan kekuasaan, adalah pemicu utama. 

Selain itu, hakikat revolusi menurut Brinton adalah siklus sosial-politik yang lahir dari harapan akan perubahan.

Revolusi ikut membentuk tatanan baru setelah kehancuran rezim lama, dan penyebab revolusi berakar pada krisis ekonomi, ketidakmampuan politik, serta peralihan dukungan intelektual.

Dengan demikian, refleksi kritis klasik Brinton tetap relevan hingga kini. 

Revolusi bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sebuah proses yang terus berulang dalam berbagai bentuk. 

The Anatomy of Revolution menjadi rujukan penting karena ia tidak hanya menjelaskan bagaimana revolusi terjadi, tetapi juga mengapa ia terus menjadi bagian dari dinamika masyarakat.

#coversong:

Lagu kebangsaan Republik Islam Iran berjudul Sorud-e Melli-ye Jomhuri-ye Eslami-ye Iran diadopsi resmi pada tahun 1990. 

Musiknya digubah oleh Hasan Riahi(81), yang lahir di Teheran pada 22 Februari 1945, sementara lirik ditulis oleh Sayed Bagheri pada 1989 berikut(terjemahan):

“Terbit dari ufuk matahari timur/cahaya mata orang-orang beriman/Bahman adalah puncak iman kami Pesanmu, wahai Imam/“kemerdekaan dan kebebasan”/terukir dalam jiwa kami….

Wahai para syuhada/seruanmu bergema sepanjang zaman/Abadi dan kekal, Republik Islam Iran.

#credit foto cover tiga buku rujukan.

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.