![]() |
Oleh: Duski Samad
Di tengah dunia yang semakin bising oleh media sosial, propaganda, pencitraan, dan perang opini, manusia sesungguhnya sedang mengalami krisis besar: krisis keteladanan, krisis kejujuran, dan krisis makna komunikasi.
Semua orang bisa berbicara. Semua orang bisa membuat konten. Semua orang bisa viral.
Tetapi tidak semua orang dipercaya.
Di sinilah pemikiran Aristoteles tentang ethos, logos, dan pathos menjadi relevan kembali. Aristoteles menjelaskan bahwa kekuatan komunikasi dibangun oleh tiga unsur utama:
ethos (karakter dan kredibilitas), logos (logika dan argumentasi), pathos (sentuhan emosi dan hati).
Menariknya, Islam sejak awal telah menghadirkan bentuk paling sempurna dari ketiga unsur itu melalui sifat utama Nabi Muhammad SAW:
siddiq, amanah, tabligh,
dan fathanah.
Nabi bukan hanya menyampaikan agama, tetapi membangun peradaban melalui integritas moral, kecerdasan berpikir, dan kelembutan hati.
Ethos dalam pandangan Aristoteles sangat dekat dengan sifat siddiq dan amanah.
Siddiq adalah kejujuran yang tidak tergoyahkan. Amanah adalah konsistensi menjaga kepercayaan.
Rasulullah SAW dipercaya masyarakat bahkan sebelum beliau menjadi nabi. Gelar Al-Amin bukan hadiah politik, tetapi lahir dari integritas hidup.
Hari ini manusia modern justru mengalami krisis ethos. Banyak yang ingin terlihat hebat, tetapi tidak membangun kualitas diri. Banyak yang pandai berbicara tentang moral, tetapi gagal menjadi teladan. Banyak pemimpin kehilangan amanah karena lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga nurani.
Akibatnya lahir masyarakat yang saling curiga, mudah marah, dan kehilangan kepercayaan.
Padahal peradaban besar selalu dibangun di atas kejujuran dan amanah.
Tanpa ethos, ilmu kehilangan cahaya. Tanpa integritas, kekuasaan berubah menjadi penindasan.
Sementara logos berkaitan dengan fathanah.
Fathanah bukan sekadar cerdas intelektual, tetapi kemampuan membaca realitas dengan hikmah. Nabi Muhammad SAW memiliki kecerdasan spiritual, sosial, politik, dan kemanusiaan yang luar biasa.
Beliau mampu memahami manusia, membaca situasi, dan menyampaikan kebenaran dengan argumentasi yang kuat namun tetap lembut.
Islam tidak pernah memusuhi akal. Al-Qur’an justru berkali-kali memerintahkan manusia berpikir, merenung, dan mengambil pelajaran.
Namun di era digital sekarang, logos sering dikalahkan oleh sensasi. Kebohongan yang diulang berkali-kali dianggap kebenaran. Hoaks lebih cepat menyebar daripada ilmu. Emosi lebih dominan daripada akal sehat.
Manusia modern akhirnya mudah diprovokasi karena kehilangan tradisi berpikir mendalam.
Karena itu sifat fathanah menjadi sangat penting. Umat tidak cukup hanya saleh ritual, tetapi juga harus cerdas membaca zaman.
Teknologi tanpa hikmah melahirkan kerusakan. Kecerdasan tanpa moral melahirkan manipulasi.
Adapun pathos berkaitan erat dengan tabligh.
Tabligh bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menyampaikan dengan hikmah, kasih sayang, dan kemampuan menyentuh hati manusia.
Nabi Muhammad SAW berdakwah bukan dengan kebencian, tetapi dengan cinta. Beliau memahami bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional, tetapi juga makhluk emosional dan spiritual.
Karena itu dakwah Nabi menghadirkan harapan, ketenangan, dan rahmat.
Hari ini pathos sering dipakai secara negatif. Media sosial membangun kemarahan kolektif. Algoritma memelihara konflik karena kemarahan menghasilkan trafik dan keuntungan.
Akibatnya manusia hidup dalam suasana gaduh, penuh kebencian, dan kehilangan empati.
Di sinilah pentingnya meneladani tabligh kenabian: menyampaikan kebenaran tanpa menghina, mengkritik tanpa merendahkan, dan berdakwah tanpa membenci manusia.
Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW adalah puncak kesempurnaan ethos, logos, dan pathos.
Beliau dipercaya karena siddiq dan amanahnya. Beliau diikuti karena fathanahnya. Beliau dicintai karena tablighnya yang penuh rahmat.
Dunia hari ini sebenarnya tidak kekurangan teknologi. Yang kurang adalah keteladanan.
Kita hidup di zaman ketika algoritma sering lebih menentukan arah pikiran manusia daripada nilai moral dan wahyu. Popularitas lebih dipuja daripada integritas. Viral lebih penting daripada benar.
Karena itu masa depan peradaban tidak cukup dibangun oleh kecanggihan digital semata. Ia harus dibangun oleh manusia yang:
jujur dalam ucapan,
amanah dalam kekuasaan,
cerdas dalam berpikir,
dan lembut dalam menyampaikan kebenaran.
Inilah esensi komunikasi kenabian.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin gaduh ini, manusia modern tidak hanya membutuhkan teknologi yang canggih, tetapi juga hati yang jernih, akal yang sehat, dan akhlak yang hidup.

