![]() |
Karya: Teuku Husaini
Seribu tanya menggantung di langit batin,
tak jatuh… tak juga hilang.
Ia berputar seperti doa yang enggan pulang,
menyiksa sunyi yang kupeluk sendiri.
Aku bertanya pada malam—
mengapa gelap lebih jujur dari manusia?
Mengapa luka lebih setia dari janji?
Dan mengapa hati… selalu kalah oleh harap yang buta?
Seribu tanya ini bukan sekadar kata,
ia adalah bara—
yang diam-diam membakar dada
tanpa asap, tanpa suara.
Aku pernah percaya,
bahwa cinta adalah rumah yang tak akan runtuh.
Namun kini aku berdiri di puingnya,
menyusun kenangan dari dusta yang kau sebut “kesetiaan.”
Kau ajarkan aku arti menunggu—
tapi lupa mengajariku arti ditinggalkan.
Kau bisikkan manisnya masa depan—
lalu kau racuni dengan kepergian tanpa alasan.
Seribu tanya ini menjerit,
menggugat logika yang kau kubur hidup-hidup.
Apakah aku hanya persinggahan?
Atau sekadar cerita yang kau habiskan di tengah jalan?
Aku tidak butuh jawaban manis lagi—
cukup kejujuran yang pahit tapi nyata.
Karena luka yang jujur…
lebih terhormat daripada cinta yang penuh sandiwara.
Kini, biarlah seribu tanya ini menjadi saksi,
bahwa aku pernah mencintai tanpa sisa—
meski akhirnya harus belajar,
bahwa tidak semua yang kita perjuangkan…
layak untuk dipertahankan.

