![]() |
Monica JR
Diadaptasi dari novel fiksi ilmiah karya Andy Weir, Project Hail Mary, disutradarai oleh Phil Lord dan Christopher Miller... adalah salah satu film paling memukau yang pernah aku tonton. Ini karya Andy Weir kedua yang dijadikan film, sebelumnya ada film The Martian, yang juga dahsyat.
Film ini punya keberanian untuk bertanya sesuatu yang lebih dalam dari sekadar "bagaimana caranya menyelamatkan umat manusia?"
Tapi film ini lebih sepert bertanya: siapa kita, ketika tidak ada yang memaksa kita menjadi baik?
Ryland Grace, diperankan keren oleh Ryan Gosling, terbangun sendirian di dalam pesawat luar angkasa. Linglung. Lemah. Tidak ingat siapa dirinya atau mengapa dia ada di sana.
Adegan pembuka ini langsung menarik kita masuk ke dalam cerita. Bukan dengan scene ledakan atau ketegangan, tapi dengan kerentanan yang sangat manusiawi.
Amnesia Grace memaksa cerita dimulai dari titik paling dasar: siapa sih orang ini, dan mengapa kita harus peduli?
Jawabannya datang perlahan, melalui kilas balik, a flashback.
Dia bukan astronot. Bukan ilmuwan jenius yang sudah lama disiapkan untuk misi ini. Dia sebenarnya hanya seorang guru IPA sekolah tingkat SMP dan sebelum semua ini, dia sudah pernah melarikan diri dari kesempatan terbesar dalam hidupnya.
Bahkan, sebelum dibius dan dipaksa masuk ke pesawat itu, dia sempat berkata sesuatu yang terasa sangat jujur... terlalu jujur bahkan untuk seorang yang akan menjadi "pahlawan". Dia bilang begini:
*_"Tidak semua orang dilahirkan dengan keberanian dan siap menghadapi tantangan sebesar ini. Salah satunya adalah aku. Aku tidak akan pernah siap."_*
Yeah, itulah Grace. Bukan pahlawan yang menolak panggilan dengan rendah hati. Tapi seorang pria yang benar-benar tahu keterbatasannya dan memilih untuk tidak melangkah maju.
Pria yang ada di pusat cerita ini… bukanlah seorang pahlawan.
Dia seorang pengecut. Lebih banyak ragu-ragunya. Dan dia memilih jalan yang mudah, setidaknya pada awal cerita.
Grace, dalam banyak hal… *sama seperti kita.*
Ada satu adegan kecil yang menurutku adalah jantung dari seluruh film ini dan ia datang jauh sebelum Grace terbang ke luar angkasa.
Grace berbicara dengan Eva Stratt, pemimpin proyek, seorang ilmuwan yang mengorbankan segalanya demi misi ini. Dengan ragu, Grace bertanya:
_"Apakah kamu benar-benar percaya kita bisa berhasil?"_
Stratt menjawab singkat: _"God willing."_
Grace terkejut. Mereka berdua ilmuwan. Kepercayaan mereka pada data, bukan doa.
_"Kamu percaya Tuhan?"_
Stratt menatapnya dan menjawab dengan tenang:
_"It's better than the alternative."_
Kalimat itu pendek. Tapi beratnya luar biasa.
Stratt tidak sedang berdebat soal teologi. Dia sedang bicara tentang pilihan bahwa di tengah ketidakmungkinan yang absolut, percaya bahwa ada sesuatu di luar kalkulasi manusia adalah satu-satunya cara untuk tetap melangkah.
Alternatifnya? Bahwa semua ini sia-sia, bahwa alam semesta buta dan dingin, bahwa tidak ada yang mendengar doa-doa kita.
Itu jauh lebih menghancurkan daripada ketidakpastian itu sendiri.
Dan mungkin, di sinilah film ini mulai berbicara lebih dari sebuah film sci-fi.
Karena ada pola yang terus berulang sepanjang sejarah pola di mana orang yang paling tidak siap justru dipanggil untuk hal yang paling besar.
Musa gagap bicara. Daud hanyalah seorang gembala.
Dan Ryland Grace bersembunyi di dalam ruang kelas.
Tapi ada sesuatu yang terjadi, ketika semua kenyamanan diambil, semua alasan dihilangkan, sehingga rasanya semua jalan keluar ditutup.
Orang bisa hancur atau bertumbuh karena itu.
Tapi Grace bertumbuh.
Perlahan, tanpa fanfare dan momen dramatis di mana dia tiba-tiba "sadar" bahwa dia bisa menjadi pahlawan. Grace hanya terus melangkah. Satu keputusan kecil demi satu keputusan kecil.
Tentu saja, bagian yang paling dibicarakan dari film ini adalah pertemuan pertama Grace dengan Rocky.
Rocky adalah makhluk asing yang dihidupkan melalui puppetry yang luar biasa oleh James Ortiz, didukung animatronik dan CGI kelas dunia.
Yang menarik, momen itu tidak dibangun sebagai konflik. Tidak ada ketegangan "apakah makhluk ini berbahaya?" yang biasanya jadi formula film fiksi ilmiah.
Sebaliknya, kita menyaksikan dua makhluk dari dua dunia yang berbeda mencoba memahami satu sama lain.
Ada momen lucu, awkward, dan kehangatan yang tumbuh pelan-pelan dari sana.
Adegan-adegan di mana Grace dan Rocky belajar berkomunikasi adalah beberapa momen terbaik dalam film ini.
Di sinilah film menemukan nadanya yang paling rendah hati, ternyata koneksi sejati tidak butuh kesamaan bahasa, latar belakang, atau bahkan spesies.
Ia hanya butuh kesediaan untuk mencoba memahami, seperti hubungan kita dengan binatang peliharaan kita, misalnya.
Dan tepat ketika kamu mulai merasa nyaman dengan cerita ini sebagai kisah bertahan hidup yang menghangatkan hati, film ini berbelok.
Grace tahu ada kesempatan untuk pulang. Untuk kembali ke Bumi. Untuk mengakhiri semua penderitaan ini.
Tapi ternyata Rocky membutuhkannya.
Dan Grace memilih untuk tinggal dan menyelamatkannya.
Bukan karena terpaksa. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Tapi karena seseorang yang ia cintai membutuhkan kehadirannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kebutuhan orang lain terasa lebih besar dari kebutuhannya sendiri.
Di titik inilah film berhenti berbicara tentang luar angkasa dan mulai berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kita.
Ada sebuah gagasan yang sudah sangat tua, tapi entah kenapa selalu terasa baru ketika kamu benar-benar menemuinya dalam hidup nyata.
Gagasan bahwa cinta yang sesungguhnya *bukan tentang perasaan*. Bukan tentang kenyamanan. Bukan tentang apa yang kamu dapatkan dari hubungan itu.
Cinta yang sesungguhnya adalah *tentang pilihan*. Pilihan untuk tetap tinggal, bahkan ketika pergi adalah hal yang paling masuk akal.
Yesus menyebut ini sebagai bentuk kasih yang paling tinggi. Bukan kasih yang berbunga-bunga di awal hubungan. Bukan kasih yang muncul ketika segalanya mudah. Tapi kasih yang tegak berdiri justru di momen ketika ia paling mahal harganya.
*_"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."_*
Grace tidak mati secara harfiah. Tapi dia menyerahkan hidupnya di Bumi, keluarganya, segalanya yang ia kenal untuk seseorang yang membutuhkannya.
Dan pilihan itu, yang ia buat dengan tenang di tengah keheningan luar angkasa, adalah momen paling kuat dalam seluruh film.
Akhir film ini tidak memberikan apa yang biasanya kita harapkan dari sebuah film blockbuster.
Grace tidak kembali ke bumi sebagai pahlawan. Tidak ada parade atau reuni yang mengharukan, tidak ada kredit yang menyebutkan namanya sebagai penyelamat dunia.
Dia tinggal di planet lain. Mengajar. Membangun hidup baru di tempat yang asing.
Dan justru di sanalah film ini menemukan intinya, bahwa tujuan hidup seseorang bukan ditentukan oleh tempat ia berakhir tapi oleh apa yang ia pilih untuk berikan, hari demi hari, kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Salam Damai.
MJR 19 Apr 2026

