![]() |
oleh Reiner Emyot Ointoe
„Tidak ada New York hari ini. Tidak ada New York kemarin. Aku sendiri dan tidak berada di sini. Semua orang adalah orang lain. Bahasa ibu adalah kamar tidurku. Kupeluk tubuh sendiri. Dan cinta—kau tak ingin aku mematikan mata lampu. Jendela terbuka dan masa lampau memasukiku sebagai angin. Meriang. Meriang. Aku meriang. Kau yang panas di kening. Kau yang dingin dikenang.” — Aan Mansyur(44),Tidak Ada New York Hari Ini(2016),
Kemang, Jakarta 2006.
Ruang galeri Philo Artspace milik Tommy F. Awuy, malam itu bukan sekadar pertemuan seni, melainkan pertemuan filsafat yang menjelma jadi puisi realisme magis.
Di pojok ruangan, ada rak buku berderet nama-nama besar: Kant, Nietzsche, Foucault, Derrida, Marx, Rorty, seakan menjadi saksi bisu atas percakapan yang bakal lahir malam itu.
Udara sejuk. Tiga botol wine, lupa labelnya, tegak di meja diskusi dan kudapan ringan.
Mendiang Nirwan Arsuka, kelak jadi moderator, duduk di sebuah kursi yang terpaut pintu menuju ruang galeri hingga ke depan.
Di luar, taman kecil dengan kursi berjejer menunggu, seakan menyiapkan panggung bagi dua tokoh yang berbeda dunia, namun bertemu dalam satu bahasa: filsafat.
Dian Sastro hadir sebagai mahasiswi filsafat yang baru lulus, sekaligus ikon sinema yang menjelma mitos.
ReO Fiksiwan hadir sebagai pemuja, penulis, dan pengembara pikiran.
Pertemuan mereka bukan sekadar tatap muka, melainkan pertemuan antara fantasi dan fakta, antara mitos kecantikan Naomi Wolf dan eros Herbert Marcuse.
Wine merah yang ditenggak bersama menjadi medium kecil yang mengikat dua dunia: dunia Cinta yang fiksi dan dunia Dian yang faktual.
Tommy, sang tuan rumah, tersenyum nakal, seakan tahu bahwa filsafat malam itu bukan hanya soal argumen, melainkan soal desiran misteri yang merambat di tubuh dan pikiran.
Diskusi tentang feminisme dan kontruksi mitos kecantikan menjelma jadi the consolations of philosophy“ kontemporer ala Alain de Botton.
Sejenis menemukan filsafat pelipur lara bagi pemuja yang akhirnya berjumpa dengan yang dipuja.
Dian berbicara tentang tubuh, mitos, dan kuasa, sementara ReO mengendapkan pengetahuan nous, merasakan bagaimana filsafat bisa hadir bukan hanya di buku, tetapi di wajah, suara, dan tatapan.
Malam itu, filsafat feminisme dan mitos kecantikan bukan lagi sekadar teori, melainkan pengalaman estetis yang menyatukan eros dan logos.
Dan itu tak hadir layar kaca. Apalagi permainan kamera. Diskusi itu, boleh dianggap bricologe antara artis dengan kekuatan imajinasi tubuh dan penulis yang berkutat dari imajinasi ke kontruk kata-kata.
Kini, imperial memori itu, meski menolak konklusi Jung, hadir kembali sebagai filsafat pelipur yang dirujuk pada Erich Fromm(1900-1980) dalam Die Kunst der Liebe.
Die Kunst des Liebens(Edisi Jerman 1953) seolah mengalir seperti sebuah surat cinta yang ditulis dengan tinta kesadaran.
Fromm mengulas di bukunya, Seni Menyinta(Terjemahan SH 1982) bahwa cinta bukanlah sekadar perasaan spontan yang datang tanpa alasan, melainkan sebuah seni yang menuntut latihan, pengetahuan, dan komitmen.
Ia mengajak kita untuk melihat cinta sebagai keterampilan yang harus dipelajari, sama seperti seorang aktor yang mengasah peran atau seorang penulis yang menajamkan kalimat.
Bentuk-bentuk cinta yang ia uraikan—erotis, orangtua, sesama, diri, dan kepada Tuhan—semuanya menuntut disiplin dan keberanian, sebuah panggilan untuk merawat relasi dengan kesungguhan.
Fromm menulis dengan latar kritik sosial yang tajam terhadap kapitalisme, yang menurutnya telah mereduksi cinta menjadi komoditas, sebuah transaksi yang kehilangan kedalaman.
Justru di situlah romantisme bukunya terasa: ia mengingatkan bahwa cinta sejati tidak bisa dibeli atau dijual, melainkan harus dihidupi dengan kesadaran penuh.
Sejak pertama kali terbit di New York, buku „Seni Menyinta“, segera menjadi bestseller internasional. Dialih ke puluhan bahasa, dan menjelma doa bagi mereka mencari makna cinta otentik di tengah masyarakat kontempoer Amerika.
Sementara, bayangkan seorang fiksiwan dan artis kondang seperti Dian Sastro dalam dunia imajinasi, membaca Fromm bukan sebagai teori psikologi, melainkan sebagai relasi dan sarana refleksi kreatif.
Bagi seorang seniman, cinta yang digambarkan Fromm adalah energi yang menuntun karya seni, sebuah proses artistik yang menuntut latihan dan keberanian.
Resonansinya terasa di panggung kehidupan. Di sinema, kanvas bahkan layar ketik digital, di mana cinta bukan sekadar chemistry instan ala Julia Roberts(Anna Scott) dan Hugh Grant(William Thacker) dalam film Notting Hill(1999), melainkan sebuah keterampilan yang harus diasah, sama seperti akting, menulis, melukis atau sekedar mengenang.
Dengan demikian, Die Kunst des Liebens bukan hanya buku psikologi, melainkan sebuah serenade romantis yang mengajarkan bahwa cinta adalah seni, dan seni adalah cinta.
Ia menjadi inspirasi bagi seniman untuk mengekspresikan cinta sebagai karya yang hidup, penuh kesadaran, dan melampaui sekadar romansa film.
Walhasil, inperial memori pertemuan antara Dian Sastro dan ReO Fiksiwan di Kemang bukan sekadar catatan sejarah kecil, melainkan pertemuan filosofis yang puitis: bagaimana cinta, mitos, dan filsafat bisa bertemu dalam satu ruang, satu waktu, dan satu desiran yang tak pernah benar-benar hilang.
Ada Apa Dengan ReO?
#coverlagu:
Melly Goeslaw saat ini berusia 52 tahun (lahir 7 Januari 1974 di Bandung), dan lagu “Bimbang” yang ia tulis serta nyanyikan pertama kali dirilis pada 7 Februari 2002 sebagai bagian dari soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta?.
#credit foto koleksi tersimpan di memori BBM.

